Ustadz. Haris Muslim

 

Perdagangan atau jual beli adalah sebuah aktifitas yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Orang pasti akan melakukan transaksi jual beli untuk memenuhi kebutuhannya. Apalagi bagi mereka yang berprofesi sebagai pedagang. Sebuah aktifitas yang dihalalkan bahkan dianjurkan.

 

Dalam Bahasa Al-Qur’an jual beli disebut Al-Ba’i , Al-Syira atau Al-Tijarah. Yang menariknya adalah, ketiga terminologi tersebut bukan hanya disebutkan untuk menjelaskan tentang jual beli barang seperti QS Al-Baqarah 275 : “Wa ahallahu al-bai’a wa harrama ar-riba” (Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba), tapi dalam beberapa ayat Allah SWT membahasakan komitmen keimanan dengan bahasa “Perdagangan” seperti FirmanNya :

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ () تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (الصف : 11-12)

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?  (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS As-Shaf : 11-12).

 

Dalam image kebanyakan orang -mungkin termasuk kita- bahwa hidup beragama itu tidak menyenangkan, banyak aturan, harus ini dan itu, tidak boleh ini dan itu, sehingga agama seolah kekang, singkatnya beragama itu tidak menguntungkan.

 

Dalam ayat di atas seolah Allah mengajak kita untuk memandang agama dengan perspektif perdagangan. Dan logika bisnis senantiasa berbicara untung dan rugi. Jika kita menjalankan keimanan dan keislaman apakah untung atau rugi ? mari kita renungi !

 

Apa keuntungan yang kita dapat dari perniagaan ini ? “menyelamatkanmu dari azab yang pedih” yang berarti masuk surga Allah SWT. Tidak ada keuntungan lebih besar dari itu.

 

Lalu apa “harga” yang harus kita bayar ? “kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu”

 

Beriman kepada Allah dan Rasul, dan berjihad, itu dalam prakteknya menjalankan syariat Allah, melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya. Dan ternyata tidak seberat yang dibayangkan ; shalat hanya 5 kali sehari yang paling mengambil waktu 30-60 menit saja dari 24 jam yang Allah berikan kepada kita, shaum yang wajib hanya 1 bulan dari 12 bulan yang Allah berikan kepada kita, zakat hanya 2,5 % dari harta kita. Kemudian agama tidak pernah melarang dari kesenangan duniawi yang dihalalkan.

Dengan “harga” yang kita bayar, sementara keuntugannya adalah selamat dari neraka dan masuk surga, sungguh ini perniagaan yang keuntungannya tidak sebanding. Bahkan kalau mau hitung-hitungan dengan Allah, sesungguhnya dengan kenikmatan yang kita terima di dunia saja, ibadah yang kita laksanakan belum cukup untuk menebusnya. Nafas yang kita hirup setiap hari, kalau mau diuangkan, tidak mungkin terbayar.

 

Itulah perniagaan dengan Allah, tidak ada yang lebih menguntungkan dari itu. Dalam prakteknya manusia dihadapkan pada dua pilihan ; berniaga dengan Allah atau berniaga dengan syetan (mengikuti hawa nafsu). Sebagaimana digambarkan sabda Nabi SAW :

 

كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَايِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا (صحيح مسلم : 1 [223])

“… Setiap pagi manusia dapat menjual dirinya, apakah ia akan memerdekakan dirinya atau akan membinasakannya.” (HR Muslim no : 1 [223]).

 

Memerdekakan dirinya dengan menta’ati peratutan Allah, berniaga denga Allah SWT, atau membinasakan dirinya dengan mengikuti hawa nafsu dan berniaga dengan syetan. Yang kedua ini terlihat seperti menggoda, tapi akan membawa kebinasaan di akhirat, bahkan di dunia pun menyengsarakan. Banyak orang tertipu.

 

Jadi tinggal kita yang memilih, apakah mau berniaga dengan Allah atau dengan syetan ?

 

Semoga menjadi renungan.

 

Wassalam,

Akhukum

~ HM ~

Bersihkan Harta Dengan Zakat

08112222501

info@pzu.or.id

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB