Oleh:
Dr. H. Ahmad Hasan Ridwan M. Ag
(Direktur Utama Pusat Zakat Umat)

Berkurban sebagai amalan agama telah ada bersamaan dengan praktek kehidupan manusia sejak lama. Kurban dalam prakteknya sebagai bentuk pengabdian manusia kepada Tuhannya. Praktek ini dilakukan hampir pada setiap agama sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat berupa penerimaan kenikmatan atau tertolak kemadaratan yang dinilai hakikatnya dari kebaikan Sang Penciptanya.
Dalam ajaran Islam, syariat berkurban telah ada dan menjadi syariat umat sejak nabi Adam as, nabi Ibrahim as, sampai nabi Muhammad Saw. sebagai nabi terakhir, walaupun di dalam tata cara pelaksanaannya sesuai dengan kondisi, situasi, dan kepentingannya memiliki cara yang berbeda. Praktek berkurban nabi-nabi yang lalu menunjukkan nilai keuniversalan agama Islam, baik dalam hal tuntunan keyakinan, dan pendidikan akhlak yang baik bagi masyarakat sepanjang masa.
Kurban diyakini dan dipraktekkan sebagai aturan agama yang menuntut dilaksanakan secara personal (orang per orang), seperti satu ekor kambing untuk satu orang dan atau satu ekor sapi untuk tujuh orang. Hal tersebut dikarenakan hukum-hukum fikih yang ada memberikan pemahaman semacam itu sehingga berdasarkan pemahaman seperti ini, seringkali syiar kurban tidak ada dan lenyap di tengah masyarakat karena orang yang merasa mampu tidak lagi merasa dituntut lagi oleh agamanya. Hal semacam ini akan terus berkembang prakteknya dalam kehidupan masyarakat sebagaimana Al-Sahrasany dalam pernyataanya:

النُّصُوْصُ إذَا كانَتْ مُتَنَاهِيَة وَالْوَقَائِعِ غَيْر مُتَنَاهِيَة مَا لا يَتَنَاهى لا يضبِطهُ مَا يَتَنَاهى

Nash-nash boleh jadi terhenti, namun peristiwa-peristiwa tidak akan pernah terhenti. Sesuatu yang tidak terhenti tidak dapat dikendalikan oleh sesuatu yang terhenti”.

Dimensi Sejarah
Hari Raya Idul Adha erat kaitannya dengan pelaksanaan ibadah kurban dan ibadah haji. Rangkaian ibadah tersebut erat kaitannya dengan nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim adalah seorang nabi yang memiliki posisi mulia dalam agama samawi. Nabi Ibrahim hadir pada suatu masa persimpangan yang menyangkut pandangan tentang manusia dan kemanusiaan. Ia hadir ketika dipeselisihkannya kebolehan menjadikan manusia sebagai sesajen pada Tuhan. Melalui Ibrahim, larangan pengorbanan itu ditegaskan. Hal ini bukan karena manusia terlalu tinggi nilainya sehingga tidak wajar untuk dikurbankan, tetapi Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dalam literatur keagamaan dijelaskan tentang pengorbanan nabi Ibrahim atas putranya Ismail. Ismail bukan hanya sekedar putra bagi ayahnya. Ia adalah buah hati yang didambakan Ibrahim seumur hidupnya dan hadiah yang diterimanya sebagai imbalan karena ia telah memenuhi hidupnya dengan perjuangan. Sebagai seorang putra tunggal dari seorang lelaki tua, Ismail adalah yang paling dicintai oleh ayahnya.
Setelah perintah tersebut dilaksanakan dengan sepenuh hati oleh keduanya, Allah dengan kekuasaan-Nya menghalangi pengorbanan penyembelihan tersebut dan menggantikannnya dengan seekor domba sebagai pertanda kasih sayang. Karena kasih sayang-Nya kepada manusia, praktik pengorbanan seperti itu tidak diperkenankan.
Ketokohan Ismail adalah simbol kesetiaan, keikhlasan, dan keberanian manusia untuk berkurban, selain juga sebagai lambing cinta. Kelahirannya membuktikan betapa di usia lanjut, Ibrahim bisa mendapatkan Isamil. Ismail adalah muara cintanya di dunia. Tetapi yang dicintainya itu harus siap disembelih sebagai kurban sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah. Ungkapan keteguhan Ismail ini di abadikan Allah dalam surah ash-Shaffat ayat 102 – 107.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٠٢ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ١٠٣ وَنَٰدَيۡنَٰهُ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ ١٠٤ قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٠٥ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ١٠٦ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ١٠٧

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”; Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya); Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim; sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik; Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata; Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”. (QS Ash-Shaffat [37] : 102-107)
Suatu jawaban yang memancarkan keimanan, ketakwaan, tawadu’, dan tawakal kepada Allah. Bukan untuk menonjolkan kepahlawanan dan keberanian, tetapi menggantungkan semua itu hanya kepada Allah, “Akan Engkau dapati aku, insya Allah termasuk orang-orang yang sabar.”
Pensyari’atan kurban adalah juga telah dilakukan pertama kali dilakukan oleh putra nabi Adam AS, yaitu Habil dan Qabil. Tatkala nabi Adam hendak mengawinkan Qabil dengan saudara kembarnya Habil dan demikian juga dengan Habil akan di kawinkan dengan saudara kembarnya Qabil, hal itu ditolak oleh Qabil yang ingin menikah dengan saudara kembarnya sendiri. Hal ini karena saudara kembarnya memiliki paras yang lebih cantik.
Untuk menengahi perselisihan tersebut, Allah memerintahkan keduanya untuk melaksanakan ibadah kurban guna menentukan siapa yang lebih berhak mengawini saudara perempuan kembaran Qabil tersebut. Allah menerima ibadah kurban yang dilaksanakan oleh Habil karena ia melaksanakannya dengan keikhlasan. Dalam surah al-Maidah ayat 27 diterangkan,

وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱبۡنَيۡ ءَادَمَ بِٱلۡحَقِّ إِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانٗا فَتُقُبِّلَ مِنۡ أَحَدِهِمَا وَلَمۡ يُتَقَبَّلۡ مِنَ ٱلۡأٓخَرِ قَالَ لَأَقۡتُلَنَّكَۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia Berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah Hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa” (QS Al-Maidah [3]: 27)
Sejarah kurban lainnya juga ditemukan pada bangsa Yunani yang membagi-bagikan daging kurban kepada mereka yang hadir untuk dijadikan berkat dan menyisihkan sebahagiannya untuk keluarga mereka. Para ahli nujum menuangkan madu dan air dingin ketika menyuguhkan daging kurban tadi yang diikuti oleh hadirin dengan memercikkan air mawar dalam lingkungan majelis itu.
Kurban yang dilakukan oleh bangsa-bangsa terdahulu tidak hanya berbentuk hewan, tetapi juga berbentuk pengorbanan manusia seperti kebiasaan bangsa Funicia, Syuria, Parsi, Romawi, dan Mesir kuno. Tradisi ini terus berlanjut di masa Romawi hingga dikeluarkannya larangan pada tahun 587 masehi. Demikianlah pelaksanaan kurban berbagai bangsa menurut kepercayaan dan keyakinan masing-masing.

Dimensi Hikmah
Ibadah kurban seperti juga ibadah lainnya dalam Islam merupakan bentuk pengabdian kepada Allah yang merupakan manifestasi dari iman. Tujuannya adalah untuk mencapai derajat takwa. Ibadah kurban merupakan perwujudan rasa syukur atas nikmat Allah yang tak terhingga jumlahnya yang telah kita terima, juga sebagai pengamalan dari firman Allah,

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ ١ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ ٢

Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka Dirikanlah salat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al-Kautsar, [108]: 1-2)
Dalam firman-Nya, Allah menyatakan akan menambah nikmat-Nya bagi mereka yang bersyukur. Sebaliknya, siapa yang mendustakan dan tidak membelanjakannya, maka bersiap-siaplah dengan azab Allah yang amat pedih.

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ ٧

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim, [14]: 7)
Melalui ibadah kurban, kita mengenang kembali dan mencoba meneladani perjuangan nabi Ibrahim as dan putranya Ismail. Rangkaian peristiwa yang dialami nabi Ibrahim yang puncaknya dirayakan sebagai hari raya Idul Adha harus mampu mengingatkan kita bahwa yang dikurbankan tidak boleh manusianya, tetapi yang dikurbankan adalah sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia, seperti rakus, ambisi yang tidak terkendali, menindas, menyerang, dan tidak mengenal hukum atau norma apapun. Sifat-sifat yang demikian itulah yang harus dibunuh, ditiadakan, dan dijadikan kurban demi mencapai qurban (kedekatan) diri kepada Allah Swt. Allah mengingatkan dalam firman-Nya,

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمۡ لِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS al-Hajj, [22]: 37)
Dengan demikian, tidaklah ada kaitan antara daging dan darah dengan qurban (kedekatan) kepada Allah. Kalaupun ada, yakni dalam rangka meringankan beban mereka yang membutuhkan, membela orang yang lemah, dan meningkatkan derajat kemanusiaan.
Berdasarkan pada uraian dasar hikmah dari ibadah kurban, maka dapat dipetik banyak hikmah :
a. Nilai pendidikan dan bimbingan kepemimpinan terhadap masyarakat-nya, baik pimpinan kepada rakyatnya maupun kepala keluarga kepada anggotanya. Hikmah pendidikan kurban adalah memberikan keteladanan seorang ayah kepada anak-anaknya dalam rangka mewujudkan keluarga yang sakinah. Demikian juga pendidikan pemimpin kepada rakyatnya dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera berdasarkan tauhid kepada Allah Swt.
b. Nilai Maslahah. Ibadah kurban memberikan bimbingan cara hidup yang harus dilalui oleh manusia untuk kebahagiaan di dunia dan di ahirat. Tujuan kurban adalah melaksanakan ketaatan atas perintah Allah Swt. sebagai wujud menghidupkan amalan agama (hifdzu din) dan syiar agama di tengah masyarakat agar selalu terbina ketakwaan dan ketauhidan kepada Allah dalm kehidupan sehari-hari. Demikian juga ibadah kurban mengarahkan manusia kepada pencapaian tujuan memelihara kemaslahatan dengan sesama (hifdzu ummah) untuk menjaga keseimbangan (harmonisasi) dengan sesama, terutama dengan mereka yang membutuhkan.
Dengan demikian, hikmah melaksanakan ibadah kurban adalah bagaimana setiap muslim dapat mencontoh teladan kepemimpinan para Nabi dan ketaatan terhadap Allah Swt. sebagai wujud menghidupkan amalan agama (hifdzu din), syiar agama, dan mengarahkan manusia kepada pencapaian tujuan memelihara kemaslahatan dengan sesama (hifdzu ummah). Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad Saw. sebagai tokoh sentral dan ideal yang dibanggakan oleh umat manusia, khususnya dalam mengantisipasi perubahan sosial yang sangat deras sekarang ini, baik dalam kaitannya dengan hubungan dengan Allah SWwt. maupun kepedulian sosial dan perikehidupan yang bermuatan moralitas serta akhlak keagamaan. PZU sebagai lembaga zakat nasional mendesain kegiatan unggulan melalui program Qurban Super Barokah sebagai perwujudan nilai ketaatan, ketauhidan, dan kepedulian pada pentingnya membangun ukhuwah umat.
Wallahu A’lamu bi al-Shawab

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB