Oleh:
KH Rahmat Najieb
(Dewan Syariah Pusat Zakat Umat)

Berkurban ialah mendekatkan diri kepada sesuatu. Mendekatkan diri kepada sesuatu berarti menjauhi segala yang bertentangan dengannya. Berkurban kepada Allah artinya kita harus mampu menjauhi segala yang dicegah-Nya. Walaupun yang dicegah itu sangat dicintai manusia.
Manusia diciptakan Allah dengan sifat menyukai dan mencintai dunia; istri, anak, keluarga, harta benda dan kekayaan. Karena itu, manusia banyak berjuang dan berupaya untuk melindungi dan mempertahankan hartanya.

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

Dan sesungguhnya manusia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (QS Al-‘Adiyaat [100] : 8)
Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa maksud ayat ini ialah manusia itu sangat kuat cintanya kepada harta. Hal tersebut menyebabkan manusia menjadi bakhil.

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS Al-Fajr [89] : 20)

عَنْ أَنَسٍ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : « لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ».

Dari Anas ra katanya, telah bersabda Rasulullah Saw, “tidak beriman seorang di antaramu sehingga aku lebih ia cintai daripada bapanya, anaknya, dan manusia semuanya.” (HR Al-Bukhari Muslim)
Cintanya manusia kepada harta mengalahkan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Firman Allah:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: ‘Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (QS At-Taubah [9] : 24)
Harta dan keluarga adalah titipan Allah, diamanatkan kepada kita sebagai fitnah atau ujian. Bila salah mengelola dan mengarahkan keduanya, bisa jadi mereka akan menjadi musuh yang menjerumuskan pemiliknya ke neraka Jahanam. Tetapi, jika memiliki keluarga yang selalu mendo’akan dan menjadi pendorong untuk beramal saleh, akan dijadikan Allah sebagai qurratu a’yun atau penyejuk hati.
Pada harta kita terdapat hak bagi orang lain. Harta yang berkah harus digunakan sebagai sarana mencapai keridaan Allah. Allah Swt. menjanjikan bahwa harta yang disedekahkan untuk faqir miskin, kerabat, dan kaum dhuafa akan dikembalikan dengan berlipat ganda. Kekayaan yang diinfakkan di jalan Allah akan diganti dengan surga.
Harta yang disedekahkan dan diinfakkan harus yang berkualitas dan sangat dicintai agar kita mendapat cinta dari Allah. Itulah ‘al-birru’ atau amal saleh yang sesungguhnya.
Firman Allah Swt.:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS Ali Imran [3] : 92)
Harta yang sangat dicari dan dicintai manusia adalah uang. Makin banyak uangnya, makin sayang untuk berpindah tangan walaupun akan dikembalikan. Nampaknya, manusia kurang yakin dengan janji Allah. Padahal, Allah tidak akan mengingkari janji-Nya.

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) Janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.” (QS At-Taubah [9] : 111)
Nabi Ibrahim as dan keluarganya adalah tokoh kurban. Demi meraih cinta Allah, beliau rela mengurbankan segala miliknya. Beliau mengurbankan kasih sayang ayahnya, menempatkan istri dan anaknya di lembah yang sunyi, tidak ada sumber makanan dan minuman. Bahkan, mereka rela mengorbankan jiwa raganya. Demikian juga Ismail, putranya rela disembelih ayahnya karena perintah dari Allah, dengan satu keyakinan bahwa tidak ada perintah Allah jika dilaksanakan kecuali akan membahagiakan dirinya. Keluarga Ibrahim as yakin bahwa Allah lebih mencintai mereka daripada dirinya sendiri.
Nabi Ibrahim as sangat mencintai putranya, Ismail as. Dia adalah anak yang sangat diharapkan kehadirannya setelah menunggu puluhan tahun. Saat itu, Ismail menjadi satu-satunya harapan sebagai penerus perjuangan dakwah Islam. Betapa gembiranya Ibrahim as karena do’anya diijabah.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Kemudian Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (QS As-Shaffat [37] : 100-101)
Allah menepati janji dan meluluskan keinginan Ibrahim as, bahwa putranya benar-benar menjadi anak yang saleh, tabah, sabar. Terbukti, ia rela ditinggal ayahnya dan bekerja keras untuk menghidupi ibu dan dirinya. Setelah Ismail dewasa dan tenaganya sangat diperlukan keluarganya, ia bertemu dengan ayah yang sangat dirindukannya. Tetapi pertemuan itu sangat singkat, karena pada malam harinya Ibrahim bermimpi. Mimpi seorang nabi adalah wahyu dan merupakan perintah yang wajib dilaksanakan, sebagaimana yang dikisahkan Allah dalam surah as-Shaffat ayat 102.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah ayahanda akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Setelah keduanya yakin akan perintah Allah, mereka siap untuk melaksanakan kurban. Ibrahim mengurbankan anak yang sangat dicintainya dan Ismail rela mengurbankan jiwa raganya. Mereka berkurban demi cinta kepada Allah. Allah Mahatahu atas keyakinan mereka. Terbukti, mereka benar-benar akan melaksanakan kurban yang sangat mengharukan itu.

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS As-Shaffat [37] : 103-106)
Nabi Ibrahim benar-benar orang yang yakin dengan janji Allah. Padahal, sebelumnya beliau tidak mengetahui bahwa kurbannya dapat diganti dengan kambing yang besar. Beliau mendapat ucapan selamat dari Allah Swt. dan peristiwa itu dikisahkan dari generasi ke generasi dan terkenal di antara kaum-kaum terdahulu, termasuk Yahudi dan Nasrani serta kisahnya diabadikan di dalam al-Quran sehingga sampai kepada kita.

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS As-Shaffat [37] : 108-111)
Untuk mencari rida Allah, maghfirah, dan rahmat-Nya, kita tidak perlu memotong anak, tidak usah menyembelih diri, tapi cukup dengan mengurbankan sebagian harta. Hewan yang disembelih bukan anak kita, bahkan bukan saudara kita.
Sebesar apapun sapi yang kita siapkan, semahal apapun kambing yang kita miliki, bukan ukuran diterima dan tidaknya sebuah pengurbanan, juga besar kecilnya pahala. Allah tidak memandang daging, darah, uang, dan kerja keras seseorang dalam berkurban. Tetapi, Allah akan melihat hati dan niat yang mendorong seseorang itu beramal.
Dua putra Adam as sama-sama berkurban; dengan kambing yang sama, kedua-duanya mulus memenuhi syarat untuk dikurbankan.Namun, mengapa Allah hanya menerima satu dari keduanya? Ternyata seorang putra Adam as berkurban bukan karena takwa, taatnya tidak penuh, hatinya tidak ikhlas. Ia hanya sekedar memenuhi perintah ayahnya, bukan karena Allah Swt. Tidak ada yang salah dengan pekerjaan dan kambingnya, tetapi Allah hanya menerima dari orang-orang yang takwa. Sebagaimana diceritakan dalam surah al-Maidah ayat 27:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya berkurban. Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. (Habil menjawab): “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.
Selanjutnya, pada surah al-Hajj ayat 37, Allah menegaskan lagi:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Daging-daging kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Kita menyadari bahwa tidak setiap orang diberi nikmat dan kesempatan yang sama. Bagi orang-orang yang diluaskan rezekinya, Allah menyediakan kesempatan untuk berkurban dengan hartanya. Sementara bagi orang yang dibatasi rezekinya, dapat berkurban dengan tenaga. Karena itu, Rasulullah Saw. melarang memberi upah kepada orang yang mengurus penyembelihan dan mengiris daging. Hal itu ditegaskan agar setiap orang meraih pahala kurban dengan kemampuan masing-masing.

أَنَّ عَلِىَّ بْنَ أَبِى طَالِبٍ أَخْبَرَهُ. أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَهُ أَنْ يَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَمَرَهُ أَنْ يَقْسِمَ بُدْنَهُ كُلَّهَا لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلاَلَهَا فِى الْمَسَاكِينِ وَلاَ يُعْطِىَ فِى جِزَارَتِهَا مِنْهَا شَيْئًا.

Bahwa Ali ra memberitahukan, “sesungguhnya Nabi Allah Saw. menyuruhnya untuk mengurus kurbannya (hadyunya), dan menyuruh untuk membagikan semuanya; dagingnya, kulitnya, pakaiannya kepada orang-orang miskin, dan jangan memberi sesuatu pun kepada pengurusnya dari kurban itu.” (Muttafaq ‘alaih)
Wallahu ‘Alam bis Shawab

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB