Hampir di semua hadits yang menyinggung ibadah Ramadhan, Nabi saw menyebutkan imanan (karena iman) dan ihtisaban (mengharap keridhaan dan pahala-Nya). Pertanda bahwa factor niat sangat menentukan kesuksesan ibadah Ramadhan.

Dalam ketiga hadits tentang ibadah Ramadhan yang menyebutkan jaminan ampunan dosa, Nabi saw selalu menyebutkan imanan dan ihtisaban ini:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ ماتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang shaum Ramadlan karena iman dan mengharap ridla Allah, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu” (Shahin al-Bukhari kitab al-iman bab shaum Ramadlan ihtisaban minal-iman no. 38; kitab fadlli lailatul-qadri bab fadlli lailatul-qadri no. 2014; Shahih Muslim kitab Shalat al-musafirin bab at-taghrib fi qiyam Ramadlan wa huwa at-Tarawih no. 1817).

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ ماتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang qiyam (berdiri untuk shalat malam) Ramadlan karena iman dan mengharap ridla Allah, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu” (Shahin al-Bukhari no. 37 dan 2009; Shahih Muslim no. 1815-1816).

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيْمَانًا وَحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ ماتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang qiyam (berdiri untuk shalat malam) pada lailatul-qadar karena iman dan mengharap ridla Allah, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu” (Shahin al-Bukhari no. 38 dan 2014; Shahih Muslim no. 1817).

Maka dari itu, prasyarat dari Nabi saw: imanan wa ihtisaban ini mutlak diperhatikan demi kesuksesan ibadah Ramadhan. Artinya, ibadah-ibadah yang diamalkan sudah seyogyanya dilandasi betul oleh sebuah kesadaran tingkat tinggi (iman) dan oleh orientasi tujuan yang tinggi juga (ihtisaban). Bukan sebatas formalitas atau mengejar prestise sesaat (riya), sebab motif-motif tersebut hanya akan menjadikan sebuah amal ibadah hancur tak berbekas.

Seorang lelaki yang menyadari betul perannya sebagai kepala rumah tangga, sebagai seorang suami dari istrinya dan bapak dari anak-anaknya, pasti akan dengan sangat baik dalam usaha mencari nafkah, terlepas hasil akhir yang akan ia dapatkan. Ia akan memantapkan sebuah tujuan bahwa ia harus memperoleh rizki untuk menghidupi keluarganya. Tipe lelaki seperti ini pasti akan sanat bagus dalam usahanya. Sebaliknya, seorang lelaki yang tidak menyadari perannya sebagai kepala rumah tangga, sebagai seorang suami dan bapak, pasti tidak akan benar dalam mencari penghidupan. Apalagi jika motifnya formalitas; yang penting anak istri tahu bahwa ia juga keluar rumah untuk mencari nafkah. Orang seperti ini tidak akan benardalam berusaha; ia akan mencari nafkah sekenanya saja, tidak khusyu’ dan tidak dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Demikian halnya kalau seseorang shaum dengan motif formalitas saja; pokoknya anak istri tahu bahwa dirinya juga shaum, mertua dan kerabatnya tahu bahwa ia seorang muslim yang shaum, yang penting para tetangga tahu bahwa ia seorang mukmin yang shaum. Motif ibadah seperti ini hanya akan menjadikan seseorang shaum seenaknya saja, yang penting shaum. Tidak ada dalam benaknya tujuan untuk meningkatkan amal, sehingga ketika selesai shaum, tidak berbekas sama sekali ketaqwaan dalam dirinya. Padahal setiap orang melandasi shaum denan iman; kesadaran tingkat tinggi bahwa dirinya adalah hamba Allah yang diciptakan. Ia betul-betul sadar bahwa ia hidup di dunia karena dihidupan oleh Allah swt, sebab dirinya memang tidak pernah pesan sebelumnya kepada Allah untuk dihidupkan. Demikian juga, kepala, mata, telinga, tangan, kaki, dan semua yang menempel di tubuh, itu juga anugerah Allah yang tidak pernah dipesan terlebih dahulu sebelumnya. Semua anugerah itu seyogyanya dibalas dengan pengorbanan berupa ibadah, diantaranya shaum yang dilaksanakan dengan penuh keikhlasan.

Demikian juga seorang yang bekerja tetapi tidak dengan keyakinan bahwa pekerjaan itu akan mendatangkan penghasilan yang cukup, pasti tidak akan bisa menjalani pekerjaannya dengan mantap. Seorang pedagang akan sanat bersemangat berdagang kalau ia yakin bahwa dagangnya itu akan menguntungkan. hadits Nabi saw di atas yang menjamin adanya ampunan dosa sudah semestinya menjadikan kita ihtisaban; betul-betul berharap besar dengan shaum kita agar mendatangkan ampunan Allah. Dengan dua hal ini; imanan wa ihtisaban, ampunan dosa sebagai pertanda kesuksesan ibadah Ramadhan pasti akan dapat diraih.

 

 

 

Buku Sukses Ibadah Ramadlan (Panduan Bagi Yang Tidak Mau Gagal Ibadah Ramadlan), Nashruddin Syarief, Tsaqifa Publishing Mencerdaskan Umat.

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB