Kh. Aceng Zakaria

 

  1. Apa yang dimaksud dengan Shalat Tarawih?

 

Tarawih adalah bentuk jamak dari tarwihah artinya: santai. Dinamakan shalat tarawih karena para shahabat melakukannya dengan santai;

 

disela-sela shalat kadang membaca al-Qur’an dulu kadang istirahat dulu. Nama atau istilah tarawih bukan penamaan dari Nabi SAW, sama halnya seperti shalat tahiyatul masjid. Nama tersebut bukan nama dari Nabi sendiri tetapi nama atau istilah para ulama saja untuk memudahkan mengenalnya.

 

  1. Apa perbedaan antara Shalat Tarawih, Tahajjud, Witir, Qiyam al-Lail atau Qiyamu Ramadhan?

 

Pada dasarnya shalat malam itu maksimalnya 11 raka’at berdasarkan hadits:

 

Dari Abi Salamah bin ‘Abdurrahman, ia pernah bertanya kepada ‘Aisyah: “Bagaimana keadaan shalat Rasulullah di dalam bulan ramadhan?” Aisyah menjawab: “Adalah Rasulullah tidak lebih dari 11 raka’at, baik di bulan ramadhan atau di luar bulan ramadhan. Beliau shalat empat raka’at, dan jangan kau tanyakan mengenai baik dan lamanya, kemudian beliau shalat (lagi) empat raka’at dan jangan kau tanyakan mengenai baik dan lamanya, kemudian beliau shalat tiga raka’at.” (H.R. Bukhari; Fath al-Bâri, 4: 251)

 

Hadits tersebut menunjukkan bahwa Nabi SAW baik di bulan ramadhan atau di bulan yang lainnya tidak lebih dari 11 rakaat dan itu sudah mencakup shalat tarawih dan tahajud, karena kalau berbeda antara tarawih dan tahajud tentu jumlah raka’atnya akan lebih dari 11 rakaat. Atau Nabi SAW shalat tarawih tetapi tidak tahajud, atau shalat tahajud tetapi tidak shalat tarawih.

 

Lebih jelasnya disebut Tahajud atau Qiyam al-Lail jika dilakukan di akhir malam. Disebut Tarawih atau Qiyam Ramadhan karena dilakukan di bulan ramadhan. Disebut Witir karena raka’atnya ganjil. Pada dasarnya semuanya sama, yaitu shalat malam.

 

Untuk memudahkan memahaminya, almarhum alUstadz K.H.E. Abdurrahman memberikan contoh “Disebut ketupat karena dibungkus dengan daun kelapa, disebut leupeut (bahasa sunda) karena dibungkus dengan daun pisang, disebut dupi karena dibungkus dengan dengan daun bambu. Pada dasar nya semuanya sama adalah beras.”

 

  1. Berapa raka’at jumlah Shalat Tarawih?

 

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan Jumlah rakaat shalat tarawih, diantaranya;

 

  1. Ada yang berpendapat 41 raka’at.

 

  1. Ada yang berpendapat 39 raka’at.

 

  1. Ada yang berpendapat 20 raka’at.

 

  1. Ada yang berpendapat 11 rakaat latin

 

Di antara pendapat-pendapat di atas yang paling kuat ialah yang berpendapat 11 raka’at, berdasarkan:

 

  1. Hadits dari ‘Aisyah dengan riwayat Bukhâri;

 

Dari Abi Salâmah bin ‘Abdurrahman, ia pernah bertanya kepada ‘Aisyah: “Bagaimana keadaan shalat Rasulullah di dalam bulan ramadhan?” Aisyah menjawab: “Adalah Rasulullah tidak lebih dari 11 raka’at, baik di bulan ramadhan atau di luar bulan ramadhan. Beliau shalat empat raka’at, dan jangan kau tanyakan mengenai baik dan lamanya, kemudian beliau shalat (lagi) empat raka’at dan jangan kau tanyakan mengenai baik dan lamanya, kemu dian beliau shalat tiga raka’at.” (H.R. Bukhâri; Fath al-Bari, 4: 251)

 

  1. Berdasarkan hadits;

 

Dari Sa’id bin Yazid, la berkata: “Umar bin Khaththab pernah memerintah Ubay bin Ka’ab dan Tamim al-Dari untuk mengimami orang orang dengan 11 raka’at, sedang al-Qåri (pembaca/imam) suka membaca kira-kira 100 ayat.” (Tuhfah al-Ahwadzi)

 

  1. Kesimpulan pengarang Tuhfah al-Ahwadzi;

 

Menurutku (pengarang Tuhfah al-Ahwadzi):

 

“Pendapat yang paling kuat dan terpilih ditinjau dari segi dalilnya, adalah pendapat yang terakhir ini, yaitu yang telah dipilih oleh imam Malik untuk dirinya, yakni (shalat tarawih) dengan 11 (sebelas) raka’at. Itulah yang telah pasti dari Nabi, dengan sanad yang shahih, serta itu pula yang diperintahkan oleh Umar r.a. Adapun beberapa pendapat lain (di luar 11 raka’at), maka tak ada satupun yang berdasar hadits Nabi yang shahih, yang sepi dari perbincangan.” (Tuhfah al-Ahwadzi, 3: 523)

 

  1. Kesimpulan al-Syaukani;

 

Menurut al-Syaukani: “Bahwa jumlah (raka’at tarawih) yang shahih dari Nabi mengenai shalatnya (Nabi) di bulan ramadhan, maka mengenai hal ini telah dikeluarkan oleh Bukhari serta yang lainnya dalam riwayat Aisyah (dalam hal) mana ia pernah berkata: “Tidaklah Nabi SAW shalat lebih dari 11 raka’at, baik di bulan ramadhan atau di luar bulan ramadhan, met (Nail al-Authår, 3: 61)

 

  1. Kesimpulan al-Shan’ani;

 

Menurut al-Shan’âni: “Mengenai jumlah rakaat tarawih 20 raka’at itu, tidak terdapat hadits yang Marfu’ (sampai ke Nabi), kecuali hadits yang diriwayatkan ‘Abdi bin Humaid dan Thabrani dari jalan Ibnu Syaibah bin Ibrahim dari Hakam dari Muqsim dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah SAW shalat 20 raka’at berikut witir di bulan ramadhan.”

 

Dalam (kitab) Sabil ar-Rasyâd dinyatakan: “Bahwa Abu Syaibah telah dinyatakan dhaif oleh Ahmad Ibnu Ma’in, Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai dan imam lainnya; demikian juga dia dianggap pendusta oleh Syu’bah.” (Subul al-Salâm, 2: 10)

 

Demikianlah alasan-alasan yang menetapkan 11 raka’at. Sementara yang berpendapat 20 raka’at atau lebih tidak memiliki dalil atau alasan yang kuat baik sunnah nabi atau amal shahabat.

 

  1. Bukankah Nabi pernah shalat malam 13 raka’at?

 

Betul, tetapi yang dua raka’atnya yaitu adalah shalat iftitah atau dua rakaat sebelum subuh sebagaimana dalam hadits di bawah ini:

 

Dari Qasim bin Muhammad, ia berkata: “Sava mendengar Aisyah berkata: “Adalah shalat Rasullullah SAW diwaktu malam 10 raka’at, serta witir satu raka’at, kemudian shalat fajar dua raka’at (shalat sunnat qabliyah subuh), maka itu jadi 13 raka’at.” (H.R. Muslim, 1: 297)

 

“Tidak bertentangan antara hadits ini (riwayat 13 raka’at) dengan hadits sebelumnya (11 raka’at), karena dalam hadits ini dihitung 2 (dua) raka’at fajar, berarti jumlahnya menjadi 13 raka’at, sedangkan di sana (pada hadits 11 raka’at) tidak dihitung dua raka’at fajar, berarti jumlahnya menjadi 11 raka’at, dan itu adalah shalat malam.” (al-Fathu al-Rabbâni, 5:16)

 

Dari Zaid bin Khalid al-Juhani, ia berkata: “Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shalat pada suatu malam, lalu beliau shalat 2 rakaat yang ringan, kemudian beliau shalat dua raka’at yang panjang, yang panjang, yang panjang, lalu shalat dua ra ka’at yang tidak begitu panjang seperti dua raka’at yang sebelumnya, kemudian shalat dua raka’at yang tidak begitu panjang seperti dua raka’at sebelumnya, kemudian shalat dua raka’at yang tidak begitu panjang sebagaimana sebelumnya, kemudian beliau berwitir, maka itu jumlahnya 13 raka’at.” (H.R. Muslim, 1: 31)

 

“Dalam hadits ini, tiga belas raka’at itu dihitung dengan dua raka’at ringan dan berarti tidak ada pertentangan antara hadits yang meriwayatkan 13 raka’at dan hadits (‘Aisyah) yang meriwayatkan 11 raka’at.”

 

  1. Kapan waktu melakukan Shalat Tarawih ?

 

Shalat Tarawih termasuk shalat malam, waktunya dapat dilakukan setelah shalat ‘isya sampai menjelang subuh. Boleh di awal, tengah atau akhir malam. Tetapi tentu saja yang paling utama adalah di akhir malam. Hal ini berdasarkan hadits:

 

Dari ‘Aisyah ia berkata: “Dari sejumlah waktu pada waktu malam, Rasulullah SAW suka berwitir. Di awal malam, tengah malam dan akhir malam, maka berakhirlah witirnya sampai waktu sahur.” (H.R. al-Jama’ah)

 

Maksud hadits ini bukan artinya Rasulullah shalat witir semalaman penuh dari awal sampai akhir malam, tetapi kadang Rasulullah itu witir di awal malam, tengah atau akhir malam.

 

Dari Jabir, dari Nabi SAW beliau bersabda: “Siapa di antara kamu khawatir untuk tidak bangun di akhir malam, maka berwitirlah (di awal malam) kemudian tidurlah. Dan barangsiapa yang yakin akan bangun di akhir malam, maka berwitirlah di akhir malam, karena bacaan di akhir malam disaksikan malaikat dan itu lebih utama.” (H.R. Muslim)

 

  1. Bagaimana jika ba’da isya telah melakukan Shalat Witir tiga raka’at, kemudian di akhir malam bangun; mestikah diakhiri dengan Witir lagi?

 

Dalam pelaksanaan shalat malam boleh dicicil Umpamanya, jika telah melakukan witir di awal malam 3 raka’at, maka di akhir malam tinggal 8 raka’at dan tidak usah ditutup lagi dengan witir karena tidak ada dua witir dalam satu malam.

 

Adapun hadits yang menyatakan:

 

“Jadikanlah akhir shalat malam kamu dengan witir.” (H.R. Muslim)

 

Hadits ini cuma menunjukkan keutamaan saja.

 

Menurut Sayyidina ‘Ali:

 

“Adapun ucapan Nabi SAW: “Jadikanlah akhir shalat malam kamu dengan witir, dan segerakanlah shalat witir sebelum subuh. Itu hanya menunjukkan sunat.” (al-Muhalla: 493)

 

  1. Adakah Tahajud lagi setelah Shalat Tarawih ?

 

Jika setelah isya shalat tarawih telah dilakukan 11 raka’at, maka di akhir malam tidak ada shalat tahajud lagi, karena jumlah maksimal shalat malam itu 11 raka’at sebagaimana dalam hadits di atas. Untuk memanfaatkan waktu bisa saja dengan membaca al-Qur’an dan terjemahnya atau dengan berdo’a.

 

  1. Bolehkah Tarawih dimulai dengan Shalat Iftitah ?

 

Shalat Iftitah artinya shalat pembuka sebelum melaksanakan shalat tahajud. Hal ini berdasarkan hadits di bawah ini:

 

Dari Aisyah, ia berkata: “Adalah Rasulullah SAW apabila bangun malam, beliau memulai shalat (malamnya) dengan dua raka’at ringan.” (H.R. Ahmad dan Muslim)

 

Dari Abi Hurairah, ia menyatakan bahwa Rasulul lah SAW telah bersabda: “Apabila salah seorang di antaramu bangun malam, maka mulailah shalat malamnya dengan dua raka’at ringan.” (H.R. Ahmad dan Muslim; Nail al-Authâr, 3:69)

 

Dua hadits di atas menunjukkan bahwa untuk me mulai shalat tahajud dianjurkan memulainya dengan dua raka’at ringan.

 

Tetapi apabila shalat tarawih itu dilakukan langsung Setelah shalat isya tampaknya kurang tepat untuk diawali dengan shalat iftitah mengingat sudah bukan iftitah lagi, karena sudah didahului shalat isya dan shalat sunat ba’da isya. Ditambah pula dalam haditsnya dinyatakan dengan keterangan; (apabila beliau bangun malam).

 

Pelaksanaan dua raka’at ringan sebelum tahajud, tidak berarti tidak baca surat setelah al-Fatihah, tetapi dibanding dengan pelaksanaan shalat tahajud terhitung ringan karena dalam tahajud Nabi biasa membaca surat-surat yang panjang.

 

  1. Bolehkah pelaksanaan Shalat Tarawih dengan berjamaah?

 

Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa shalat tarawih itu tidak boleh diberjama’ahkan. Mengingat tidak dicontohkan oleh Nabi dengan berjama’ah. Dalam masalah ini perhatikan hadits hadits di bawah ini:

 

“Dari ‘Aisyah, sesungguhnya Nabi SAW pernah shalat (qiyamu ramadhan) di masjid, kemudian shalatlah orang-orang bersama Nabi, lalu Nabi shalat di malam keduanya, ternyata orang-orang bertambah banyak, kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau keempatnya, ternyata Nabi tidak keluar, maka ketika shubuh beliau keluar seraya bersabda: “Aku tahu apa yang kamu lakukan, bahwasannya aku tidak keluar untuk shalat bersamamu, hanya khawatir shalat (tara wih) itu diwajibkan kepada kamu. Dan hal itu terjadi di bulan ramadhan.” (H.R. Bukhari dan Muslim; Nail al-Authâr, 3: 59)

 

Dari ‘Abdirrahman al-Qâri, bahwa ia berkata: “Aku pernah keluar bersama Umar bin Khaththab pada suatu malam di malam bulan ramadhan ke masjid, ternyata orang-orang bergerombol terpisah-pisah, seseorang shalat sendirian -sementara- orang lain shalat yang diikuti orang lainnya (berjama’ah), lalu Umar berkata: “Sesungguhnya kalau aku mempersatukan mereka dengan satu imam -tentu lebih utama.” Kemudian Umar bermaksud menyatukan, dan dipersatukan dengan (imam) Ubay bin Ka’ab. Lalu aku (al-Qâri) keluar lagi bersamanya (Umar) pada suatu malam, dan ternyata orang-orang shalat mengikuti shalat imamnya (bersama/berjamaah dengan satu imam), maka Umar berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah perbuatan ini, dan shalat yang mereka kerjakan setelah tidur (yaitu diakhir malam) itu lebih utama dari pada shalat yang dikerjakan di awal malam (sebelum tidur).” Dan -memang- orang-orang di waktu itu melakukannya di awal malam.” (H.R. Bukhari; Fath al-Bâri, 4: 250)

 

Berdasarkan hadits-hadits di atas, maka boleh mengamalkan shalat tarawih (qiyamu ramadhan) dengan berjama’ah mengingat:

 

  1. Hal seperti itu pernah dilakukan oleh Nabi, sekalipun hanya dua atau tiga kali.

 

  1. Adapun Nabi tidak berkesinambungan berjama’ah, karena Nabi khawatir diresmikan wajib.

 

  1. Untuk masa sekarang ini -tentu saja- tak ada kekhawatiran diresmikan (menjadi) wajib, karena Nabi telah wafat serta tak mungkin ada syariat baru lagi.

 

  1. Hal itu juga pernah diamalkan di zaman ‘Umar dalam beberapa kelompok jama’ah, kemudian dipersatukan oleh ‘Umar dengan satu kelompok jama’ah (satu imam).

 

  1. Upaya ‘Umar untuk mempersatukan hanya satu kelompok jama’ah, tidak mendapat teguran atau kritikan dari sahabat yang lain, ini berarti Ijma’ Shahabi.

 

  1. ucapan ‘Umar: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” Maksudnya ialah bid’ah menurut lughawi (segi bahas) saja, karena pada hakikatnya berjama’ah tarawih itu tidak bid’ah, mengingat pernah dilaksanakan oleh Nabi bersama-sama dengan shahabat.

 

  1. Bolehkah perempuan melakukan Shalat Tarawih dengan berjama’ah di masjid ?

 

Perempuan diperbolehkan untuk melakukan shalat tarawih dengan berjama’ah di masjid mengingat ada beberapa hadits Nabi:

 

Dari Ibnu Umar r.a, dari Nabi SAW, beliau ber sabda: “Jika istri-istri kalian meminta idzin kepada kalian untuk pergi ke masjid malam hari, maka idzinkanlah mereka.” (H.R. al-Jama’ah, kecuali Ibnu Majah)

 

Dalam riwayat lain: “Jangan kalian larang istri-istri kalian untuk pergi ke masjid, tetapi (memang) shalat di rumah lebih utama bagi mereka (perempuan).” (H.R. Ahmad dan Abu Dâwûd)

 

Dari Abu Hurairah r.a, bahwa Nabi SAW telah bersabda: “Janganlah kalian halang-halangi hamba Allah (perempuan) untuk datang ke mesjid, tetapi hendaklah mereka keluar dengan pakaian sederhana.” (H.R. Ahmad dan Abu Dawûd; Nail al Authar, 3:148)

 

  1. Apa saja keutamaan Shalat Tarawih ?

 

Dari Abu Hurairah r.a, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW menggemarkan (menganjurkan) shalat qiyamu ramadhan, tetapi tidak dengan perintah yang wajib. Nabi SAW bersabda: “Siapa yang melaksanakan shalat qiyamu ramadhan atas dasar iman dan karena Allah, maka niscaya diampuni dosa-dosa yang telah lalu.” (H.R. al-Jama’ah)

 

Hadits ini menunjukkan bahwa keutamaan (fadhilah) dari melaksanakan qiyamu ramadhan itu ialah pengampunan dosa-dosa yang telah lalu. Tentu saja dosa-dosa yang kecil karena untuk dapat diampuni dari dosa-dosa yang besar ada cara tersendiri seperti yang zina dengan dirajam, yang mencuri dengan potong tangan.

 

  1. Bolehkah mengadakan kultum sebelum Shalat Tarawih atau setelahnya ?

 

Boleh-boleh saja tetapi dengan catatan jangan di anggap khutbah tarawih. Boleh sebelumnya, boleh setelahnya. Boleh kultum (kuliah tujuh menit) boleh kulsum (kuliah sepuluh menit). Hal ini sama saja dengan mengadakan pengajian kuliah setelah shalat shubuh.

 

  1. Bagaimana pelaksanaan Shalat yang masbuk dalam Shalat Tarawih ?

 

Jika seseorang datang untuk shalat tarawih tetapi ternyata ia ketinggalan dan belum shalat isya padahal imam sedang shalat tarawih, maka caranya tentu saja shalat isya terlebih dahulu. Kemudian setelah wirid dan shalat sunat ba’da isya baru ikut berjama’ah shalat tarawih kemudian menyelesaikan raka’at yang ketinggalan setelah imam salam.

 

 

  1. Bagaimana cara melakukan Shalat Tarawih; apakah 4-4-3 atau 2-2-2-2-3 ?

 

Siti ‘Aisyah adalah istri Nabi. Tentu saja beliau yang paling mengetahui tentang tata cara Nabi melaksanakan shalat tarawih. Bahkan Ibnu Abbas pernah menyuruh Sa’ad Bin Hisyam untuk bertanya kepada “Aisyah tentang cara witir Rasulullah, karena ‘Aisyah dinilai oleh Ibnu Abbas sebagai orang yang paling tahu tentang cara witir Rasulullah. Dalam hal ini Aisyah menyatakan sebagai berikut:

 

Dari Abi Salamah bin ‘Abdurrahman, ia pernah bertanya kepada ‘Aisyah: “Bagaimana keadaan shalat Rasulullah didalam bulan ramadhan Aisyah menjawab: “Adalah Rasulullah tidak lebih dari 11 raka’at, baik di bulan ramadhan atau di luar bulan ramadhan. Beliau shalat empat raka’at dan jangan kau tanyakan mengenai baik dan lamanya, kemudian beliau shalat (lagi) empat raka’at dan jangan kau tanyakan mengenai baik dan lamanya, kemudian beliau shalat tiga raka’at.” (H.R. Bukhari; Fath al-Bari, 4: 251)

 

Hadits tersebut menunjukkan bahwa:

 

  1. Shalat Nabi baik di bulan ramadhan atau di luar ramadhan tidak lebih dari 11 raka’at.

 

  1. Nabi melaksanakannya dengan cara 4-4-3.

 

  1. Urusan baik dan lamanya shalat Nabi tidak perlu dipertanyakan lagi.

 

Tetapi memang ada cara shalat malam Nabi dengan pola 2-2-2-2-3 sebagaimana dalam hadits-hadits di bawah ini:

 

Dari Zaid bin Khalid al-Juhani, ia berkata: “Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shalat pada suatu malam, lalu beliau shalat 2 raka’at yang ringan, kemudian beliau shalat dua raka’at yang panjang, yang panjang, yang panjang, lalu shalat dua raka’at yang tidak begitu panjang seperti dua raka’at yang sebelumnya, kemudian shalat dua raka’at yang tidak begitu panjang seperti dua raka’at sebelumnya, kemudian shalat dua raka’at und yang tidak begitu panjang sebagaimana sebelumnya, kemudian beliau berwitir, maka itu jumlahnya 13 raka’at.” (H.R. Muslim, 1:31)

 

Dari Ibnu Umar, ia berkata: ” Telah berdiri seorang laki-laki, kemudian bertanya: “Ya Rasulullah! Babagaimana (cara) shalat malam itu? Rasulullah menjawab: “Shalat malam itu dua-dua, dan jika khawatir terburu shubuh, berwitirlah satu raka’at” (H.R. al-Jama’ah; Nail al-Authâr, 3: 36)

 

Menurut riwayat Muslim, Ibnu Umar ditanya: “Apakah yang disebut (dimaksud) dengan dua-dua itu?” Ibnu Umar menjawab: “Salam dalam setiap dua raka’at.” (H.R. Muslim, 1: 303)

 

Hadits-hadits tersebut di atas menunjukkan bahwa pelaksanaan shalat malam itu 2-2. Kemudian Ibnu Umar menjelaskan bahwa pengertian dua-dua itu yaitu salam di setiap dua raka’at. Nabi sendiri melaksanakan dengan cara 2-2 dengan jumlah 13 raka’at dengan shalat iftitah. Demikian yang dilihat oleh Zaid Bin Khalid. Tetapi dalam redaksi hadits tersebut di atas ada ungkapan:

 

“Maka jika engkau takut keburu subuh, maka akhirilah dengan witir satu raka’at.”

 

Dari hadits tersebut terkesan bahwa pelaksanaan shalat malam itu jika dilakukan di akhir malam yaitu dengan cara 2-2 karena kalau dilakukan ba’da isya langsung, mana mungkin ada kekhawatiran keburu subuh. (Untuk lebih jelasnya silahkan baca buku Al-Hidayah jilid 2)

 

  1. Mestikah shalat tarawih dengan cara 4-4-3 pakai tahiyat awal?

 

Dalam hal ini memang ada dua pendapat. Ada yang berpendapat ada tahiyat awal ada yang berpen dapat tidak ada.

 

Dalam hal ini penulis berkesimpulan bahwa pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan tidak ada tahiyat awwal dalam pelaksanaan tarawih yang 4-4-3 mengingat:

 

  1. Tidak ada nash yang qathi (jelas dan tegas) bahwa pelaksanaan shalat sunnah yang 4 raka’at harus memakai tasyahud awal.

 

  1. Dalam pelaksanaan shalat witir yang 3 raka’at, 5 atau 7 raka’at dengan tegas dinyatakan tidak ada duduk tahiyat awal. Dalam hadits lain di nyatakan ada duduk tasyahud di raka’at keenam.

 

  1. Dalam pelaksanaan shalat witir yang 9 raka’at dinyatakan ada duduk di raka’at kedelapan.

 

  1. Dalam hadits lain dinyatakan:

 

“Nabi SAW shalat delapan raka’at dan tidak duduk kecuali di raka’at ke delapan.” (H.R. Abu Dawûd)

 

Kalau di setiap 2 raka’at mesti duduk tahiyat berarti harus 4 kali duduk tahiyat dalam pelaksanaan shalat yang 8 raka’at. Ternyata Nabi hanya melakukan satu kali duduk.

 

Demikian halnya dalam pelaksanaan shalat tarawih yang 4-4-3, tentu saja tidak dengan duduk tahiyat awwal. (Untuk lebih jelasnya silahkan baca buku al hidayah jilid 2)

 

  1. Adakah do’a qunut pada setengah akhir Ramadhan ?

 

Memang masih banyak orang-orang yang melaksanakan do’a qunut di bulan ramadhan dimulai dari tanggal 15 ramadhan sampai akhir. Dalam hal ini perhatikanlah keterangan keterangan di bawah ini:

 

Dari Hasan bin ‘Ali r.a, ia berkata: “Rasulullah SAW telah mengajariku beberapa kalimat yang mesti aku baca dalam qunut witir (ialah): (Ya! Allah berilah aku petunjuk seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk.) dan seterusnya.” (H.R. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibbân)

 

Telah berkata Nawawi dalam al-Khulâshah (hadits tersebut): Sanadnya dhaif, dan diakui (dinyatakan) pula oleh Ibnu Rifah: “Riwayat hadits tersebut tidak shahih.”

 

Andai hadits itu shahih tetap tidak bisa dijadikan dalil adanya qunut di pertengahan bulan Ramadhan, sebab hadits tersebut (sifatnya) umum, mencakup di bulan Ramadhan, dan bulan lainnya (selain bulan Ramadhan).”

 

Menurut sebagian pengikut imam Malik, (ia berkata): “Saya pernah bertanya kepada Imam Malik tentang seorang laki-laki shalat bersama keluarganya di bulan Ramadhan, apakah menurut pendapat anda hendaknya ia qunut di pertengahan akhir bulan Ramadhan?”. Imam Malik menjawab: “Aku tidak mendengar bahwasannya Rasulullah SAW qunut, dan tidak seorang pun di antara mereka (shahabat) yang melakukannya, dan hal itu tidak dikenal sejak dahulu, serta kami juga tidak melakukannya di bulan Ramadhan, dan kami tidak mengenal qunut tersebut sejak dahulu.” (Nail al-Authâr, 3: 51)

 

“Menurut Ma’in bin Isa, tidak usah qunut menurutku dalam (hal) shalat witir.”

 

Menurut Ibnu al-‘Arabi: “Hadits tersebut tidak shahih, yang shahih menurutku, justru sebaliknya, karena tidak terdapat keterangan yang shahih dari Nabi, baik qauli, maupun fi’linya.”

 

Muhammad bin Nashr telah meriwayatkan, bahwa ia pernah bertanya kepada Sa’id bin Zubair tentang asal-usul qunut, maka ia menjawab: “Umar bin Khaththab pernah mengirim pasukan, kemudian mereka memasuki daerah berbahaya dalam hal mana ‘Umar khawatir akan keselamatan Mereka, maka ketika sampai pertengahan akhir Ramadhan, Umar qunut untuk mendoakan keselamatan mereka.” (Nail al-Authår, 3:51)

 

“(Jika demikian peristiwa yang melatarbelakanginya), maka qunut nazilah tentunya boleh diamalkan sebagaimana pernah diamalkan oleh Nabi pada zamannya.”

 

  1. Apa do’a yang mesti dibaca setelah selesai Shalat Tarawih ?

 

Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata: “Adalah Rasullullah SAW biasa membaca; SABBIHISMA RABBIKA AL-‘ALA (di raka’at pertama) witir; QUL YA AYYUHA AL-KÂFIRÛN (di raka’at kedua) dan QULHUWA ALLAHU AHADUN (di raka’at ketiga), maka waktu salam beliau membaca; SUBHÂNA AL MALIKI AL-QUDDÛSI tiga kali, beliau memanjangkan serta mengeraskan suaranya pada bacaan ketiga kalinya.”

 

Bersihkan Harta Dengan Zakat

08112222501

info@pzu.or.id

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB