Ustadz Ahmad Solihin

IBNU artinya anak, SABIL artinya jalan. IBNU SABIL artinya anak jalanan. Maksudnya orang yang terlantar di jalan karena kehabisan bekal. Disebut demikian karena ibnu sabil hidupnya dalam perjalanan; makan minum tidak di tempat tinggalnya, kadang-kadang  menginap di jalan. Disebut juga musafir yang kehabisan bekal karena salah perhitungan, atau tersesat, atau perbekalannya hilang sehingga mengalami kesengsaraan. Di dalam Alquran ada delapan ayat tentang Ibnu Sabil, semua terkait dengan anjuran memberi zakat dan shadaqah kepada mereka. Di antaranya:

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (QS Al-sra [17] : 26).

Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridlaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung. (QS Arrum [30] : 38).

Mengapa Ibnu sabil diperhatikan oleh Islam? Karena Islam menyuruh ummatnya untuk mencari nafkah, berdakwah, mencari ilmu, ibadah haji, berjihad fi Sabilillah, dan bershilaturrahim. Dalam rangka menjalankan kewajiban ini, ummat Islam harus keluar rumah, bahkan harus meninggalkan kampung halamannya. Firman Allah Swt,

Apabila telah ditunaikan shalat, maka menyebarlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS Aljumu’ah [62] : 10).

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.  (QS Ali Imran [3] : 97).

Sabda Rasulullah Saw,

Siapa yang menelusuri jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkannya jalan menuju surga. (HR Ahmad, Attirmidzi, Ibnu Majah).

Orang-orang yang akan melakukan perjalanan harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Tidak dibenarkan mengadakan perjalanan tanpa bekal yang cukup. Kewajiban safarnya menjadi hilang. Misalnya ibadah haji itu wajib bagi orang yang istitha’ah yaitu mampu melakukan perjalanan jauh dengan perbekalan yang cukup. Allah Swt berfirman,

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa. Dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.  (QS Albaqarah [2] : 197).

Yang dimaksud taqwa pada ayat ini adalah jangan memaksakan diri, sebab Allah mewajibkan bagi orang yang mampu. Harus mampu memelihara kehormatan diri dari perbuatan hina dengan meminta-minta, atau mengharapkan pemberian orang.

Sedangkan untuk kepentingan jihad termasuk ongkos da’i atau muballigh dapat dialokasikan dari pos  Fi Sabilillah. Namun jika ada ustadz dalam perjalanan dakwah atau santri yang jauh kehabisan bekal dalam rangka mencari ilmu, maka dapat diambil dari dana Ibnu Sabil.

Berdasarkan dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa ibnu sabil harus muslim, berakal, taat beribadah, dan benar-benar sengsara karena kehabisan bekal tidak dibuat-buat. Sebaliknya orang yang melakukan perjalanan dengan tujuan maksiat tidak berhak mendapatkan harta zakat atau shadaqah.

Wallāhu a’lam.

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB