Oleh:
Ahmad Solihin, S.Th.I
(Konsultan Pusat Zakat Umat)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّلَاةُ لِوَقْتِهَا قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمَا تَرَكْتُ أَسْتَزِيدُهُ إِلَّا إِرْعَاءً عَلَيْهِ

Dari Abdullah bin Mas’ud RA, dia berkata, “Saya pernah bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘”Apakah perbuatan yang paling utama?” Beliau menjawab, “Salat tepat pada waktunya” Dia berkata, “Saya bertanya lagi, kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbuat baik kepada kedua orang tua” Dia berkata, “Saya bertanya lagi, lalu apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah” Maka saya tidak menambah pertanyaan melainkan untuk melaksanakan dan menjaga hal tersebut. {Muslim 2/63: 229}

1. SALAT PADA WAKTUNYA

Salat pada waktunya merupakan amalan utama yang berkaitan dengan hak  Allah Swt. yang ada pada diri kita setelah tauhid. Salat merpakan kewajiban yang terikat dengan waktu. Maka, setiap muslim diperintahkan untuk menjaga salatnya dengan tepat waktu dan berusaha meraih kekhusyuan dalam salat.

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ كِتَٰبٗا مَّوۡقُوتٗا ١٠٣

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa/4: 103)

حَٰفِظُواْ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلۡوُسۡطَىٰ وَقُومُواْ لِلَّهِ قَٰنِتِينَ ٢٣٨

“Peliharalah semua salat(mu), dan (peliharalah) salat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam salatmu) dengan khusyu´.” (QS. Al-Baqarah/2: 238)

Allah mengancam orang yang lalai dalam salatnya. Dan di antara ciri kemunafikan ialah malas dalam menegakkan salat.

فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ٤ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ٥

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un/107: 4 – 5)

إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمۡ وَإِذَا قَامُوٓاْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُواْ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلٗا ١٤٢

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa/4: 142)

Keutamaan seorang muslim itu ialah ketika bisa menjaga salatnya tepat waktu. Tidak terlalaikan dengan kesibukan dunia. Buat apa meraih kesuksesan dunia tapi salat ditinggalkan? Meskipun dunia dalam genggaman kita, jika tidak salat rugi kita, bahkan menjadi manusia yang hina.

رِجَالٞ لَّا تُلۡهِيهِمۡ تِجَٰرَةٞ وَلَا بَيۡعٌ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ يَخَافُونَ يَوۡمٗا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلۡقُلُوبُ وَٱلۡأَبۡصَٰرُ ٣٧

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An-Nur/24: 37)

Dengan demikian, jagalah kewajiban salat tepat waktu sebagai bukti ketaatan kita kepada Allah agar kita layak memperoleh cinta dari Allah. Berikut ini diantara wasiat Rasulullah Saw. berkaitan dengan salat

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ كَيْفَ أَنْتُمْ أَوْ قَالَ كَيْفَ أَنْتَ إِذَا بَقِيتَ فِي قَوْمٍ يُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا فَصَلِّ الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا ثُمَّ إِنْ أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَصَلِّ مَعَهُمْ فَإِنَّهَا زِيَادَةُ خَيْرٍ

Dari Abu Dzar katanya; “Bagaimana kalian? -atau dengan redaksi lain- “Bagaimana kamu bila masih hidup di tengah-tengah suatu kaum yang suka menunda-nunda salat dari waktunya? Tunaikanlah salat tepat pada waktunya, jika salat telah diiqamati, (sedangkan kamu telah salat) maka tunaikanlah salat bersama mereka, sebab yang demikian adalah tambahan (bonus) kebaikan (untukmu).” (Muslim: 1032)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

Dari Abu Hurairah katanya; Rasulullah Saw. bersabda: “Salat yang dirasakan berat bagi orang-orang munafik adalah salat Isya` dan salat Subuh, sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga salat didirikan, kemudian kusuruh seseorang dan ia mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar untuk menjumpai suatu kaum yang tidak menghadiri salat, lantas aku bakar rumah mereka.” (Muslim: 1041)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ

Dari Abu Hurairah dia berkata; “Seorang buta (tuna netra) pernah menemui Nabi Saw. dan berujar “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah Saw. untuk salat di rumah. Ketika sahabat itu berpaling, beliau kembali bertanya: “Apakah engkau mendengar panggilan salat (azan)?” laki-laki itu menjawab; “Benar.” Beliau bersabda: “Penuhilah seruan tersebut (hadiri jamaah salat).” (Muslim: 1044)

2. BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA

Amalan yang utama berikutnya adalah birrul walidain, yakni berbakti kepada ibu bapak kita. Jadi, ini adalah kewajiban kita sebagai anak kewajiban sepanjang hayat. Selama kita hidup, maka selama itu pula kita wajib berbakti kepada ibu bapak. Meskipun orangtua kita sudah meninggal, maka dalam ayat lain Allah mengingatkan dalam bentuk wasiat,  “wawashainal insaana biwalidaihi ihsaana”  Kami wasiatkan Kami wajibkan kepada manusia untuk berbakti kepada ibu bapaknya. Kenapa Allah menggunakan kata wasiat? Ini menunjukkan bahwasannya berbakti kepada orangtua itu enggak cukup sekali. Dan juga bukan sebagai balas budi. Mau balas budi bagaimana? Tidak akan pernah bisa terbalaskan budi baik orang tua kepada anak. Kebaikan orangtua kepada kita tidak bisa kita balas dengan apa pun. Maka kita berbakti kepada orang tua itu dalam rangka  melaksanakan ketaatan kepada Allah agar Allah berkenan melimpahkan rahmat, ridha.

Allah Swt. Menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya berbakti kepada ibu-bapak kita. Firman-Nya:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا ٢٣ وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرٗا ٢٤

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al-Isra/17: 23 – 24)

وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Lukman/31: 15)

Selagi ibu-bapak kita masih ada, perbaikilah hubungan kita dengan mereka. Penyesalan itu akan datang kemudian. Baru, setelah orangtua kita meninggal banyaklah penyesalan-penyesalan yang kita lakukan. Maka Rasul mengatakan, “Alangkah rugi sekiranya hari ini mendapati orangtuanya sudah lanjut namun tidak memperoleh surga.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلْ الْجَنَّةَ

Dari Abu Hurairah Ra., dia berkata, “Rasulullah Saw. telah bersabda, ‘Rugi besar ia! Rugi besar ia! Rugi besar ia.’ Seseorang bertanya kepada Rasulullah, “Siapa ia yang rugi besar ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang mempunyai kedua orangtua yang masih hidup dalam keadaan tua, baik salah satu ataupun keduanya, tetapi orang tersebut tidak dapat masuk surga‘” (Muslim 8/5-6: 1766)

Bakti kita kepada orangtua, selain menjadi amal saleh bagi kita, akan menjadi kebaikan bagi mereka di akhirat kelak dengan dianggkatnya derajat mereka di sisi Allah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

Dari Abu Hurairah, ia berkata. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza waJalla mengangkat derajat seorang hamba yang shaleh di surga. Lalu hamba tersebut bertanya, Ya Rabb, dari manakah aku memperoleh semua ini? Allah menjawab, ini berkat istighfar anakmu untukmu“. (Ahmad: 10202, Ibnu Majah: 3650)

Selama kita hidup, kewajiban berbakti kepada orang tua tidak akan lepas dari kita, meskipun mereka sudah wafat.

عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ مَالِكِ بْنِ رَبِيعَةَ السَّاعِدِيِّ قَالَ بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلَمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا

Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah  as-sa-‘idy, ia berkata, ‘Ketika kami sedang berada dekat Rasulullah Saw, tiba-tiba datanglah seseorang dari Bani Salamah, lalu berkata, “Ya Rasulallah, masioh tersisakah dari kebaikan kedua orangtuaku yang dapat aku lakukan untuk mereka setrelah mereka tiada?” Rasulullah menjawab, “Ya, mendo’akan mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, meneruskan janji-janjinya setelah mereka tiada, menyambungkan kembali tali silaturahmi yang tersambung hanya karena adanya mereka, dan memuliakan kawan-kawan yang dikasihinya”’. (Abu Daud:4476)

3. JIHAD DI JALAN ALLAH

Al-Qurtubi berkata,  “Jihad ialah mencurahkan keta’atan di jalan Allah. Dalam kitab at-Ta’rifat disebutkan bahwa jihad itu ialah “mengajak kepada agama yang haq”.

Jihad di jalan Allah meliputi jihad terhadap musuh, jihad terhadap nafsu, dan jihad terhadap kejahatan dan kerusakan, semua hal itu adalah sama. Karena itu, mencurahkan segala usaha untuk menghidupkan agama Allah dikatakan sebagai jihad fi sabiilillah.

Ar-Raghib al-Asfahani mengatakan bahwa jihad atau mujahadah ialah “mencurahkan segala usaha dalam melawan musuh”. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa jihad itu ada tiga bentuk, yaitu:

  1. Mujahadatul ‘aduww, jihad melawan musuh
  2. Mujahadatu syaithon, melawan setan, dan
  3. Mujahadatu nafsi, melawan hawa nafsu.

Semua hal tersebut terangkum dalam firman Allah;

وَجَٰهِدُواْ فِي ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦۚ هُوَ ٱجۡتَبَىٰكُمۡ وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلدِّينِ مِنۡ حَرَجٖۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمۡ إِبۡرَٰهِيمَۚ هُوَ سَمَّىٰكُمُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ مِن قَبۡلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ ٱلرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيۡكُمۡ وَتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِۚ فَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱعۡتَصِمُواْ بِٱللَّهِ هُوَ مَوۡلَىٰكُمۡۖ فَنِعۡمَ ٱلۡمَوۡلَىٰ وَنِعۡمَ ٱلنَّصِيرُ ٧٨

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong.” (QS al-Hajj [22]: 78)

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB