Oleh:
KH. Zae Nandang

Ungkapan nama dalam Quran maupun Sunah memiliki makna yang berbeda dengan ungkapan pekerjaan, yaitu fi’lun. Setiap amal itu pekerjaan, tapi tidak setiap pekerjaan itu amal, kulu amalin fi’lun wa laisa fuluin lil amalun. Perbedaannya, amal itu pekerjaan yang memiliki tujuan yang jelas. Amal ini tidak ada dan tidak muncul tanpa agama. Karena itu, kata amal ini tidak dinisbatkan kepada binatang karena tidak mungkin pekerjaan yang disertai dengan kesadaran dan tujuan dilakukan oleh binatang. Tidak ada domba beramal, kerbau beramal, apalagi kerbau menyelenggarakan pekan amal, tidak mungkin ada, kenapa? Karena amal itu pekerjaan yang disertai kesadaran dan tujuan, makanya dinisbatkannya kepada manusia. Karena itu, manusia jangan hanya bekerja, tapi harus beramal.
Ketika pekerjaan tidak disertai dengan tujuan yang jelas, maka bahasa Quran menyebutnya “laaidun”. Ketika pekerjaan memiliki tujuan yang jelas, maka disebut “amalan”. Manusia itu harus beramal, tetapi banyak manusia yang pekerjaannya justru sekualitas laaidun sementara tangung jawab tetap amalun. Makanya, Islam mengajarkan dengan ajaran yang luhur. Pertama, amal itu mesti jelas dasarnya. Amal itu mesti jelas caranya. Amal itu mesti jelas tujuannya.

Ketika orang beramal tapi dasarnya salah, ini bisa gugur. Seperti orang-orang kafir, gugur semua amalnya dan tidak menjadi amalun solihun karena dasar yang salah. Allah me-misil-kan (menganalogikan) bagaikan fatamorgana, kasarobin fiihi, orang-orang yang bekerja, beraktivitas tanpa dasar iman bagaikan fatamorgana. Bagai yang haus melihatnya air, tetapi setelah didatangi ternyata tidak ada. Itulah kerugiannya. Pengorbanan pikiran, tenaga, harta, ilmu, dan lain sebagainya bagai fatamorgana saja. Makanya, Allah mengarahkannya dengan dasar iman. Maka, dengan dasar iman itu meningkatkan derajat amal menjadi amalun solihun. Sedangkan amal tersebut mencakup segala ruang lingkup kehidupan. Karena itu, orang yang beriman, segala aktivitas hidupnya sekarang menjadi bernilai karena dasarnya jelas.

Makanya, ada pertanyaan dari Allah, “wa maadza alaihi lau amanu?”, apa ruginya bagi mereka kalau beriman kepada Allah? Jadi, kalau orang sudah tahu dan sudah memahami hal itu, akan merasa rugi jika tidak beriman.

Kedua, amal yang dilakukan ada yang dikhususkan dalam pengelolaan zakat. Begitu pentingnya sampai masuk kategori mustahik, tanpa melihat miskin dan kaya. Setiap amil masuk mustahik menunjukkan betapa pentingnya hal tersebut. Itu karena, Islam memerhatikan bagaimana pengelolaan harta itu. Berulang hal itu disebutkan dalam Quran, seperti dalam surat as-Shof:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰى تِجَارَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِّنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ  تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَتُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui”. (QS as-Shaaf [61]: 10-11)

Banyak ayat-ayat seperti itu. Maka, di sini menunjukkan perlunya ada pengelolaan agar kaitan dengan harta ini jelas, teratur, terarah, karena Islam mendorong agar harta bermanfaat. Jiwa, ilmu, tenaga, harta harus bermanfaat. Berarti bukan sekadar berguna, lebih dari itu, yaitu bermanfaat. Sering dikatakan dan dipisahkan istilah itu, yaitu bukan sekadar berguna, tetapi bermanfaat. Kalau dalam Bahasa Indonesia, penulis belum tahu batasan istilah tersebut. Tetapi, kalau bermanfaat ini bahasa Quran, bahasa sunah, bahasa agama, apa manfaat itu? Para petugas (para amil) harus bias menjelaskan hal tersebut.

Justru, Islam hadir mengharap­kan agar apa yang dikeluar­kan oleh manusia itu bermanfaat. Terlebih, dalam hal urusan harta. Manfaat itu ialah “maa yustaanu bihi lil wusuli ilal khairo”, yang disebut manfaat itu adalah perkara yang dengan perkara itu bisa membantu sampainya kepada kebaikan. Termasuk, kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.

Ketika mengeluarkan harta tetapi tidak menjadi jembatan sampainya kepada kebaikan, maka itu tidak bermafaat. Walaupun dirasakan oleh masyarakat mungkin bermanfaat, tetapi jika tidak sampai kepada khoir secara diniyyah, itu tidak bermanfaat. Makanya, di sini begitu pentingnya amil itu sampai Allah langsung mencantumkannya dalam Quran untuk membantu manusia dalam memanfaatkan hartanya, dalam arti mengarahkan agar sampai menyampaikan kepada tujuan yang baik bagi dirinya. Jadi kalau begitu, mencatut istilah sepuh, amil-amil ini disebutnya seperti cukang barokah dalam bahasa Sunda. Cukang, yaitu “nu kai susukan pake awi eta teh cukang“, jambatan kecil. Jadi, bahasanya jelasnya jembatan barokah. Tahukan apa itu barokah? Kadang, istilah barokah itu lebih populer dan identik dengan nikah.

Barokah itu adalah “tsubutul khairi illahiyi fii syai’i”, yaitu tetapnya kebaikan Ilahi pada sesuatu. Dan ini perlu jembatan untuk sampai kepada itu, makanya jembatan ini disebut barokah, jembatan barokah, cukang barokah. Oleh karena itu, Nabi membentuk umar-umar zakat, kenapa? Karena kadang-kadang orang itu ada keinginan ada kesempatan tetapi tidak ada yang menjemput, sering kali jadi alasan sehingga kebaikannya itu terputus.

aya keur zakat keuneun mah, tuluy sok aya isuk deui we dibikeun na… isuk deui we.” Kadang sampai tidak jadi berzakat. Maka, di sinilah pentingnya amil itu. Mengapa Nabi membentuk umar zakat itu? Agar kebaikan orang tersebut tidak tertangguhkan, apalagi sampai tidak jadi. Sering orang yang mau melakukan kebaikan tidak jadi, satu kerugian bagi seseorang ketika pintu kebaikan dibuka oleh Allah ternyata tidak mau masuk nepi ka ditutup deui (sampai pintu kebaikan itu tertutup kembali). Di sinilah peran amil itu karena di sini banyak kasus seperti itu, mau zakat tidak jadi (ke deui we… urang kumpulkeun heula we).
Contohnya, zakat Tijarah, dikumpulkan dulu. Boleh? Ya boleh. Zakat Tijarah itu bisa ditangguhkan karena tidak dibatasi waktu. Malah, bisa zakat Tijarah sebelum belanja sudah dikeluarkan, itu boleh asal catataannya jelas. Kadang-kadang, zakat dikumpulkan agar sekalian dengan nominal yang besar. Tapi, kenyataannya ketika nominalnya sudah besar, ada perasaan sayang untuk dikeluarkan. Akhirnya, harta yang harus dikeluarkan sebagai kewajiban diputar kembali menjadi modal dagang.

Di sinilah perlunya amil itu. Bukan masalah uangnya, tetapi khoir-nya orang itu tidak tertunda, khoir-nya orang itu tidak terhambat, apalagi sampai putus, inilah perlunya ada amil itu. Penulis percaya, dalam pengelolaan zakat, PZU sudah baik admisnistrasinya dan tidak akan bicara itu. Tetapi, hadirnya amil itu adalah satu kepentingan.

Kemudian juga, harta itu pun dikaitkan dengan jihad dan disebut berulang dalam al-Quran. Malah, penulis sering mendorong sekarang di pengajian-pengajian tentang jihad harta itu.

Penulis sering mendorong STAIPI sampai sekarang sudah ada jurusan ekonomi syariah yang ke depannya mendorong agar ada perbankan syariah, kenapa? Karena sekarang perbankan syariah itu hanya sekedar untuk menarik saja, kamuflase karena mayoritas umat Islam. Tapi praktik nya?
Penulis berpikir, 15 tahun yang akan datang, pengendali ekonomi itu dipegang oleh anak-anak kita. Sementara, sekarang itu kendali ekonomi di pegang oleh kafir, Yahudi sehingga terasa seperti ini. Oleh karena itu, penulis mendorong, ke depan, pengendali itu harus umat Islam karena di situ nanti ada kebaikan-kebaikan yang mesti didapatkan.

Beberapa waktu ke belakang, ada obrolan bab kurban. Kabupaten Bandung saja pertahun kurban kurang lebih 600 ekor sapi dan data itu saya dapat di PD. Pertanyaannya, kenapa ini tidak dikelola? Sementara meuli ka batur (beli ke pihak lain) yang belum tentu zakatnya keluar. Apalagi, jika belinya kepada orang kafir di mana kita tidak bisa menagih zakat. Saya barusan berpendapat, apa tidak siap di kelola? Siapa yang punya modal? Jika sudah jelas pengelola dan pemodalnya, nanti minimal zakatnya bisa ditarik, bisa ditagih. Penulis masih ada tenaga di Dewan Hisbah untuk intruksi kepada panitia kurban. Beli sapi ti dieu (dari tempat tertentu) minimal 200 ekor mah pertahun pasti bisa. Piraku atuh (masa tidak bisa)? Kalau harga sapi 20 juta, berarti zakatnya per ekor berapa? 500 ribu kan? Bayangkan kalau kita bisa dari 100 ekor saja atau 200 ekor, ambil zakatnya berapa? Kesempatan ini belum dikelola.

Pertahun itu, ambil uang syirkah dengan pribadi 400 juta. Satu minggu dikembalikan lagi dan hasilnya dibagi-bagi. Kenapa hal ini tidak di atur? Ini kesempatan. Apa boleh tidak uang zakat digolangkan (diputar untuk modal)? Coba perhatikan Quran surat at-Taubah ayat 60. Mustahik zakat itu dibagi dua kelompok. Kelompok pertama menggunakan kalimat “lii” dan kelompk kedua pake “fii”. Makanya, disidangkan di Dewan Hisbah Persis, bisa tidak zakat ini diinvestasikan? Bisa tidak kalau zakat ini diusahakan, dimodalkan? Diliat dari surah at-Taubah aya 60, dibagi dua kelompok pertama “lii … inna sodakotu lil fukoro wal masakin wal amylin”. Sedangkan yang empat lagi “fii… fi riqob, gorim, sabilillah, ibnu sabil”. Kalau yang “lii” ini harus langsung diterima, tidak boleh diganggu lagi, tidak boleh diendapkan. Tetapi, kalau “fii” ini masuknya kepada badan, pengelola, seperti PZU umpanya. Kalau sudah masuk, umpamanya, ini manjadi dana fii sabilillah sudah bukan zakat lagi setatusnya. Silahkan untuk digolangkan. Tetapi, dengan catatan, di situ ada syarat yang tetap, harus yang amanat dengan perhitungan matang dan tidak rugi. Hal tersebut karena harus ada yang tanggung jawab jika rugi karena ini adalah amanat. Maka, semua harus benar-benar terbuka (transparan).

Makanya sudah disampaikan, ada kesempatan dari dana zakat yang masuk, ini sebagai catatan dulu, kalau saya mengeluarkan zakat Tijaroh ke PZU, “ini zakat saya…” kan mesti jelas ini peruntukannya mau ke mana. Mau untuk fakir miskin disalurkan oleh PZU? Itu kan mesti jelas. Makanya, ada pos-posnya dan PZU sudah mengaturkan, baik yang berkaitan dengan bencana, keperluan sekolah, dan lain sebagainya sebagaimana penulis percaya para amilin PZU.

Kemudian, ada lagi dari zakat, baik zakat Huli, baik zakat Tijaroh, zakat Fitri, itu kan ada fii sabilillah, makanya posnya jelas. Kalo sudah di fii sabilillah, sudah berubah status, bukan zakat lagi dan ini berarti boleh dimanfaatkan. Jadi, yang dikelola itu, kalau masuk fii sabilillah sudah berubah status, bukan zakat lagi, tapi sudah menjadi dana fii sabilillah dan silahkan dikelola untuk dikembangkan, untuk kemajuan. Makanya, para penglola zakat, amil-amilnya harus terus sering bertemu dalam bentuk pembinaan dan lain sebagainya.

Dalam pengelolaannya itu, peran amil itu kembali kepada istilah tadi, maa yustaanu bihi fil wusuli ilal khoiri karena pengelola ini jembatan sehingga umat dengan mengeluarkan hartanya itu sampai kepada kebaikan. Boleh zakat itu dijemput karena di zaman Nabi juga sengaja dijemput. Kalau tidak dijemput, kadang kadang seperti tadi, poho (lupa) atawa ngke deui ngke deui, beak we… (menunda-nunda lagi, akhirnya habis…). Maka, penjemputan zakat itu artinya penyelamatan.
Kemudian, perlu juga dicatat. Penulis pernah berbincang dengan salah seorang Bupati karena ada Perda, yaitu zakat profesi. Waktu itu penulis berdialog, kalau di syariat Islam tidak ada sebetulnya zakat profesi, lalu diterangkan mengenai hukum zakat tersebut. Bupati tersebut tertegun dan berpendapat, “…tapi ustadz, ini kan seperti raksasa yang belum bangun. Berapa ratus miliar perbulan bisa dihasilkan dari zakat profesi itu. Terlebih, jika dipotong langsung”.

Penulis berpikir, jadi umat zakat itu tidak perbulan dan tijaroh itu terus-menerus. Saat memasuki bulan Ramadan, banyak juga yang mengeluarkan zakat perhiasan, zakat Kuli namanya, yaitu zakat perhiasan emas dan perak. Muncul pertanyaan ketika muncul pertanyaan seputar zakat Fitri, boleh tidak mengeluarkan zakat Fitri dengan uang? Boleh tidak kalau disalurkan melalui PZU? Mau tidak mau, harus ada kerjasama yang baik, karena di PC Persis sudah dibentuk Bidang Garapan Zakat. Hanya sementara baru mengelola zakat Fitri. Kerjasama harus dilakukan karena di bawah naungan yang sama, yaitu Jamiyyah Persatuan Islam (Persis). Boleh tidak zakat Fitri dengan uang? Sementara berdasarkan dalil harus dengan makanan.

Penulis ambil contoh kiyas. Kalau kita beli perhiasan 10 gram, zakatnya berapa persen? Zakatnya adalah 2,5 %, apakah emasnya dicukil? Tentu tidak.Zakat tentu dibayarkan dalam bentuk uang. Artinya, boleh zakat dengan nilai. Kenapa terpaku zakat Fitri saja? Sama semuanya dan ini nanti dikembangkan dan disampaikan kapada umat karena umat belum banyak yang tahu bentuk-bentuk zakat itu apa saja. Baru yang sudah diketahui itu zakat Fitri, zakat Tijaroh, zakat perhiasan. Sementara zakat pertanian, belum digarap maksimal oleh PZU.

Zakat pertanian itu bukan padi saja. Akan tetapi, semua tanaman namanya zakat Ziroah. Penulis ingin sosialisasikan masalah ini. Kemarin berbincang dengan ketua Dewan Hisbah, saat ini dipikiran umat itu baru ada zakat padi padahal keterangan menunjukan umum, segala tanaman, termasuk padi, kangkung, kentang, dan lain sebagainya yang belum banyak digarap. Maka, hal tersebut hendaknya diusahakan ada peran dari para amil. Jadi, yang baru digarap itu zakat perhiasan dan Tijaroh.

Masih banyak yang harus kita garap karena tujuan kita menyelamatkan umat. Sampai saya sampaikan di berbagai PC (Pimpinan Cabang) Persis, di pembinaan yang berkaitan dengan zakat, Persatuan Islam itu mendirikan bidang garapan zakat dan PZU bukan mau memperkaya Jamiyyah. Tapi, tujuan intinya adalah menyelamatkan ibadah maaliyah umat yang sampai sekarang masih banyak yang harus diselamatkan.

Makanya, di sini penulis dorong untuk daerah, seperti Pangalengan, Cibeureum, Kertasari, Lembang ini mesti ada pendekatan. Kita tanya zakatnya dikeluarkan atau tidak? Kalau memang perlu ditambah tenaga amilnya, usahakan ditambah karena wilayah kita besar. Kita sosialisasi terus yang lebih luas lagi dan lakukan pendekatan ke daerah yang memang di situ ada potensi zakat.

Tetapi dengan catatan, kerjasama tetap harus dilakukan dengan bidang garapan zakat dan jangan sampai terjadi tumpang tindih. Jangan sampai ada kesan tumpang tindih, istilahnya “nepika kudu nguseup/ngecrik dina balong nu sarua, diubek we eta ku sarerea” (Bidgar Zakat dan PZU mancing dari kolam yang sama).

Jadi, penulis di sini mendorong untuk berbesar hatilah dan bersemangatlah. Mengapa? Karena peran amil zakat itu sangat penting. Sampai Allah mencantumkan profesi amil tersebut dalam Quran. Nabi mempraktekan membentuk umar zakat dan Umar ibn Khattab sendiri yang dipercaya oleh Rasul. Kemudian, sebagai tambahan, Penulis ingin mengingatkan, ini adalah nasihat dari guru saya, nasihatnya adalah: “Nu nagih zakat teh, nu dititah teh sok jalma nu miskin, euweuh gawe, nu sok ngurus masjid bari leumpang, rek berpengaruh kumaha kudu datang ka nu beunghar”. Makanya, Nabi menugaskan Umar. Pengaruh Umar itu besar, datang teh wani ngambek Umar mah. Orang jika ditagih zakat oleh Umar, akan merasa segan, kenapa? Karena amil itu jadi petugas Allah, jadi petugas Rasul. Makanya Umar itu berani.

Penulus terus mendukung, jalanlah! Tetapi ilmunya terus ditambah supaya bisa mengatasi orang yang terkena wajib zakat. Ada istilahnya, pengaruhlah.
Ada satu lagi yang sering penulis katakan, yang belum dilaksaakan oleh Persis, yaitu maniha. Apa maniha itu?
Analoginya begini, jika saya punya kebun jeruk, tanah milik saya, semua pohon milik saya, tetapi saya ikrarkan “pek dua tangkal ieu mah buahna diwakafkeun, dijariahkeun. Tapi nu ngurus saya” (silahkan dua pohon yang ini buahnya/hasilnya diwakafkan, dijariahkan. Tapi yang mengurusnya tetap saya)“. Itu banyak lahan kebun-kebun, bisa jika tiga pohon yang itu kepada jamiyahkan. Tina kebon cau umpama, tilu tangkal cau ieu buah na ka jamiyahkeun. Jenis pengelolaan harta seperti ini belum digarap.

Saya lihat di TV, ada yang menyelenggarakan pendidikan ternyata tidak dipungut uang tetapi dari hasil panen. Silahkan apa saja kirimkan! Ada yang mengirim sayuran, pisang, dan segala macam. Jadi, di tempat lain sudah mulai dikelola hal itu. Inilah yang disebut maniha. Jadi, maniha itu tidak mewakafkan tanahnya, kalau kebun, tapi mewakafkan pohonnya. Dari 100 pohon, 3 pohon umpamanya. Buahnya diambil tapi yang mengurus tetap pemilik kebun itu. Itu yang namanya maniha, dan itu belum dikembangkan. Jadi masih banyak yang bisa jadi jalan kebaikan, insyaallah.

Betapa pentingnya ibadah maaliyah sampai Quran cantumkan berulang. Oleh karena itu, penulis akan terus mendorong dan sangat mengapresiasi adanya amil zakat karena Allah sendiri yang menetapkan. Rasul Allah sendiri mempraktekan amil zakat dan itu menunjukan pentingnya hal tersebut.

Nanti, ada istilah, “kadang-kadang untuk pribadi amilnya terabaikan”, apakah seperti itu? Yang dimaksud jembatan oleh penulis itu bukannya jambatan “cicing teu ngilu ka surga, atuh karunya…”. Amil itu harus ikut, bukan hanya menjadi jembatan bagi yang lain tapi jembatannya itu sendiri jangan sampai tertinggal. Kalau jadi kenek ikut ke mobil, kalau jadi calo itu tidak. Kita ini bukan calo ke surga, tetapi kita menjadi penuntun, pemberi jalan, dan orang yang membuka jalan kebaikan bagi yang lain ia mendapat pahala, malah berlipat pahalanya.

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

Bukan dengan lisan saja, tetapi dengan praktek amal, amil itu mengarahkan orang untuk melakukan kebaikan. Ada beberapa bentuk zakat, kemudian ada juga yang perlu penulis sampaikan. Sebenarnya, pintu keluar harta itu, Islam sudah benar-benar mengaturnya agar benar-benar menjadi kebaikan. Ada hadiah, ada hibah, ada wasiat, ada zakat, ada infak, ada sedekah, ada ghanimah, ada fai, dan ada juga waris. Ini adalah pintu-pintu dalam pengaturan harta. Umat tinggal diarahkan dan dibina saja.

Tambahan satu lagi yang harus disampaikan kepada umat, yaitu ketika orang membagikan waris, ada yang dilupakan, yaitu infak. Sebelum waris dibagi, hutang selesaikan, dan juga hendaklah berinfak ini tidak pernah disampaikan. Perhatikan surah an-Nisa.

وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” (QS an-Nisa [4]: 8)

Ini juga akan dan harus kita ungkap. Jadi banyak pekerjaan yang harus kita lakukan dan kita berkewajiban untuk terus membuka peluang-peluang kebaikan kepada umat. Itulah di antaranya yang saya sampaikan.

Jadi, penulis sangat apresiasi sekali pada amil-amil zakat ini karena memang Allah sendiri yang mengangkat dan mencantumkan pentingnya zakat. Karena, banyak orang yang tidak zakat bukan tidak mau tapi tidak tahu. Banyak orang yang tidak zakat bukan tidak mau zakat, dia tahu dia mau tapi tidak ada jembatan (penjemputnya). Kemudian juga berbagai hal dalam menyalurkannya. Jadi, siaplah terus melaksanakan tugas dalam menyelamatkan umat dalam ibadah maaliyah.
Wallahu A’lam bis Shawab

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB