Oleh:
KH Rahmat Najieb

Sebenarnya, praktek al-Ithra atau pengkultusan sudah ada sejak zaman Nabi Nuh as. Orang-orang yang dikultuskan adalah orang-orang yang saleh. Mereka bernama Waad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. (QS Nuh [71] : 23) Pada mulanya, orang-orang yang hidup sezaman dengan para shalihin itu tidak bermaksud mengagung-agungkan. Tetapi, generasi berikutnya yang tidak memahami hal yang sebenarnya memuji para tokoh itu dengan berlebihan. Fenomena semisal ini berlanjut sampai zaman sekarang, contohnya adalah ahli kitab; Yahudi mengkultuskan Uzair dan Nasrani mengkultuskan Isa bin Maryam. (QS Attaubah [9] : 30)

Allah memberi peringatan kepada mereka,

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ

Hai Ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas (yang telah ditentukan Allah) dalam agamamu, janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar… “ (QS an-Nisaa [4] : 171)

Sebagaimana kita ketahui, yang dimaksud ahli kitab itu adalah Yahudi dan Nasrani. Ketika Nabi Isa as. diutus, orang Yahudi sangat membencinya karena putra Maryam ini menceritakan rahasia kebusukan Yahudi. Merasa kebusukannya terbongkar, Yahudi mengingkari kenabian Isa bin Maryam, menghina, dan merendahkannya dengan melampaui batas. Jadilah mereka orang-orang kafir.

Sebaliknya, orang Nasrani menyanjung dan memuji Nabi Isa sampai melebihi batas pula. Isa al-Masih adalah seorang nabi yang diberi keistimewaan, sama seperti nabi-nabi yang lainnya. Nabi Isa a.s. terlahir tanpa ayah dan diangkat menjadi nabi sejak bayi. Seperti digambarkan dalam al-Quran, Nabi Isa as. dapat menyembuhkan orang sakit, menjadikan orang yang buta sejak lahir bisa melihat, menciptakan burung dari tanah, hafal Kitab Taurat, serta mengetahui apa yang dimakan orang dan apa yang disimpannya. Semuanya itu adalah mukjizat Allah yang diberikan kepadanya sebagai tanda kenabiannya. (QS Ali Imran [3] : 49)

Pada mulanya, pengikut Nabi Isa a.s. yang mendapat julukan kaum Hawariy meyakini bahwa Isa itu adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Beliau diciptakan Allah seperti halnya Nabi Adam a.s. tanpa ayah. Setelah kaum Hawariy tidak ada, maka tinggallah para pengikut generasi selanjutnya yang tidak mengetahui keadaan sesungguhnya. Adalah St. Paul ( + 4sM – + 64) orang pertama yang menambahkan pada pesan-pesannya (perjanjian baru) dalam bentuk pemujaan terhadap Isa. (baca buku “Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah”). Mereka meninggalkan ajaran yang hak, mengikuti perasaan, sangkaan, dan penafsiran serta keyakinan yang sesat. Akibatnya, Nabi Isa al-Masih dianggap Tuhan di samping Allah. Jadilah mereka orang-orang yang musyrik.

Umat Islam tidak mungkin menganggap Nabi Muhammad saw. seperti orang Yahudi kepada Uzza dan Nasrani kepada Nabi Isa a.s. Tetapi, peluang untuk berbuat ithra sangat terbuka. Terbukti, banyak orang yang mengagungkan beliau dengan melebihi batas. Sesungguhnya, Rasulullah saw. pun telah mengetahui hal itu akan terjadi pada umatnya. Sebab itu beliau bersabda,

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطَرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُوْلُوْا؛ عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.

Janganlah kamu berlebih-lebihan memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji (‘Isa) putera Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah “‘Abdullah wa Rasuluhu’ (Hamba Allah dan Rasul-Nya)”. (HR al-Bukhari dan Muslim)

Pengertian Muhammad saw. sebagai hamba Allah, adalah bahwa beliau manusia biasa yang tidak bisa mencelakakan dan menentukan nasib seseorang, apalagi sekarang sudah tidak ada. Kita harus menganggapnya sebagaimana yang tertera dalam al-Quran, seperti yang dijelaskannya dalam Sunnah. Sebagai Rasulullah, kita wajib taat dan mengikuti cara hidupnya dalam kaitan akidah, ibadah, dan mu’amalahnya. Beliau adalah uswah dalam segala hal; sebagai imam, sebagai kepala negara, pemimpin, pedagang, suami, kepala rumah tangga, dan sahabat. Rasulullah juga memberi petunjuk dalam hal ekonomi, sosial, politik, dakwah, serta pendidikan.

Hal yang dikhawatirkan Rasulullah saw. sekarang terbukti, banyak orang yang mengunjungi kuburannya untuk tawaf dan bersujud. Ada pula yang berteriak menitipkan do’a dari kejauhan. Dulu beliau pernah diperlakukan demikian oleh seorang sahabat yang meniru-niru rakyat sebuah kerajaan, Rasulullah saw. melarang perbuatan itu. Banyak pula umat Islam yang mempunyai keyakinan bahwa Rasulullah saw. mengetahui hal-hal ghaib, mampu memberi dan menolak bala, memenuhi kebutuhan yang meminta-minta kepadanya, dan sebagainya. Ibnu Qoyyim Rahimahullah menyatakan, keyakinan semisal itu termasuk pengkultusan yang menjurus kepada perbuatan syirik. Bila mengkultuskan Nabi Muhammad saw. disebut syirik, bagaimana pengkultusan kepada orang-orang biasa yang bukan nabi, yang tidak diberi mukjizat dan kelebihan?
Rasulullah Saw. bersabda :

إيَّا كُمْ وَالْغُلُوَّ, فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اَلْغُلُوُّ.

Jauhilah oleh kamu sekalian sikap berlebihan, karena sesunggunya sikap berlebihan itulah yang telah menghancurkan umat-umat sebelum kamu.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Binasalah orang-orang yang berlebihan tindakannya”. (seraya menyebutkan kalimat ini sampai tiga kali).
Ketika Rasulullah saw. wafat, umat Islam kebingungan. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Mereka tidak percaya hal itu terjadi. Apalagi setelah Umar bin Khattab r.a. naik mimbar sambil mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw. yang sangat dicintainya tidak wafat, beliau hanya pergi sebentar menemui Rabb-nya, seperti halnya Nabi Musa a.s. pergi ke Bukit Sinai. Nanti setelah 40 hari, beliau akan kembali lagi. Pada umumnya, kaum mukminin percaya apa yang dikatakan Umar itu sampai akhirnya tampil Abu Bakar r.a. berkhutbah di atas mimbar. Setelah membaca tahmid dan menyanjung Allah, Abu Bakar berkhutbah:

أَلاَ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا ص فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ , وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللهَ فَإِنَّ اللهَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ

Perhatikanlah, ‘Siapa yang menyembah Muhammad Saw., sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan siapa yang menyembah Allah sesungguhnya Allah itu akan tetap hidup dan tidak akan mati.”
Lalu, Abu Bakar membacakan ayat al-Quran Surat az-Zumar [39] : 30 dan Ali Imran [3] : 144,

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ

Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati.”

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?
Setelah mendengar ayat yang dibacakan Abu Bakar r.a., barulah para sahabat sadar akan kejadian itu. Mereka tak tahan lagi menahan tangis. Demikian yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam Kitab Fadla-ilus Shahabah.
Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dari kejadian di atas, di antaranya:

Pertama, kecintaan kaum Muslimin kepada Rasulullah saw. saat itu sangat besar sehingga menggelapkan mata dan pikiran mereka.
Kedua, para sahabat yang terpengaruh oleh perasaan dan kecintaannya, luluh dengan ayat al-Quran. Hati mereka bergetar, seolah-olah baru mendengar ayat tersebut. Keimanan mereka sungguh seperti yang disifatkan Allah dalam al-Quran.
Ketiga, Abu Bakar r.a. sangat arif bijaksana mengatasi keadaan masyarakat saat itu. Beliau tahu, tidak ada yang dapat meluruskan pikiran dan nafsu kaum mukminin, kecuali dengan al-Quran.
Keempat, Abu Bakar r.a. sebagai orang yang disiapkan Rasulullah saw. untuk mengganti beliau, mengetahui betul tabiat yang ditinggalkan orang yang sangat dicintainya. Ia sangat mencintai Rasulullah saw. melebihi yang lainnya. Terbukti, saat Rasulullah saw. menyatakan bahwa Islam sudah sempurna. Abu Bakar menangis tersedu-sedu di saat para sahabat lainnya bergembira sampai-sampai Ali bin Abi Thalib ra. bertanya, “Ada apa dengan orang tua ini?” Setelah diterangkan oleh Abu Bakar bahwa dengan sempurnanya Islam berarti usia Rasulullah saw. tidak akan lama lagi, barulah semua para sahabat menangis, semua larut dalam kesedihan.
Kelima, melihat kaum Muslimin saat itu, Abu Bakar r.a. takut kejadian dulu akan terulang lagi. Yaitu pengkultusan terhadap Nabi Isa al-Masih. Pengkultusan Nabi Isa itu menjadikan umatnya musyrik dan kafir. Secara tidak langsung, ia mengingatkan kaum Muslimin bahwa Muhammad saw. adalah manusia biasa seperti kita, hanya saja beliau diberi wahyu oleh Allah dan dijadikan utusan-Nya. Firman Allah:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ

Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya aku ini adalah seorang manusia seperti kamu yang menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa’.” (QS al-Kahfi [18] : 110)

Kita bukan tidak mencintai Nabi Muhammad saw., tetapi harus dapat menempatkan beliau sebagai utusan Allah dan sebagai hamba-Nya. Mencintai Nabi Muhammad saw. itu wajib. Seorang hamba dinyatakan tidak sempurna keimanannya sehingga ia menjadikan Rasulullah saw. lebih ia cintai dari dirinya, anaknya, dan kedua orangtuanya. Tetapi, bila kita berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad saw. itu mempunyai kehendak, seperti kehendak Allah, bisa mengubah nasib seseorang dengan dipanggil-panggil dari tempat kita, dengan kata lain dibedakan dari segi manusianya atau diangkat derajatnya sama dengan Allah, maka hal itu adalah perbuatan syirik.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ : أَنَّ رَجُلاً ، أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ فِي بَعْضِ الأَمْرِ ، فَقَالَ : مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَجَعَلْتَنِي لِلَّهِ عَدْلاً ؟ قُلْ : مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ.

Dari Ibnu Abbas r.a., bahwa ada seorang yang mendatangi Nabi saw., lalu ia berbincang dalam beberapa urusan, katanya, “masyaallah wa syi-ta (apa yang Allah kehendaki dan engkau kehendaki)“. Rasulullah Saw. menegur, “Apakah engkau menjadikan aku setara dengan Allah? Katakanlah, ‘maasyaallah wahdah (Sebagaimana yang dikehendaki Allah Yang sendiri). (HSR Ahmad, an-Nasaai, al-Baihaqi)

أَنَّ رَجُلاً خَطَبَ عِنْدَ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ رَشِدَ وَمَنْ يَعْصِهِمَا فَقَدْ غَوَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ — «بِئْسَ الْخَطِيبُ أَنْتَ. قُلْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ»

Bahwa ada seorang lelaki khutbah di depan Nabi saw., ia mengatakan, “Siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya sungguh ia telah lurus, siapa yang mendurhakai mereka, sungguh ia telah sesat.” Rasulullah Saw. menegur seraya bersabda, “Sejelek-jelek khatib adalah kamu, katakanlah, ‘Siapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya”. (HR Ahmad, Muslim)

Ketika usia Khalifah Usman r.a. sudah lanjut, beliau tidak bisa memeriksa keadaan kaum Muslimin. Khalifah III ini menyerahkan urusan Daulah Islamiyah kepada para pejabat dari kaum kerabatnya. Di antaranya kepada sepupunya, Marwan bin Hakam dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang berbuat semena-mena. Mereka berbuat zalim dan korupsi. Praktek korupsi ini dibiarkan oleh khalifah sehingga mengakibatkan kekacauan di daerah Mesir, Bashrah, dan Kufah. Keadaan ini betul-betul dimanfaatkan oleh seorang Pendeta Yahudi dari Yaman yang pura-pura masuk Islam, bernama Abdullah bin Saba, seorang pengacau yang tidak senang melihat kerukunan umat Islam pada saat itu. Dia menghasut kaum Muslimin dengan menyebarkan isu ketidakadilan para khalifah dan menyatakan bahwa yang pantas menjadi khalifah sejak awal adalah Ali bin Abi Thalib r.a. Secara tidak langsung, mereka merendahkan Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

Abdullah bin Saba pura-pura mengagung-agungkan Ali r.a. untuk menghancurkan umat Islam. Bahkan, ia pernah berkata kepada Ali, “Engkaulah Allah”. Saat itu juga, Ali bin Abi Thalib r.a. bermaksud membunuhnya, namun dilarang oleh Ibnu Abbas. Sayyidina Ali membuangnya ke Madaain (Iran). Namun, kasak-kusuknya dan upaya pengkultusan terhadap menantu Rasulullah saw. ini tidak pernah berhenti. Sampai akhirnya, lahir kelompok Syi’ah yang mengkultuskan Ali dan keturunannya.
Wallāhu A’lam bis Shawāb

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB