Ramadlan berasal dari kata ramadla, ramadl / ramdla. Ibnu manzur menjelaskan:

الرَّمَضُ وَ الرَّمْضاءُ: شِدّةُ الْحَرِّ

Ar-Ramadl / ar-Ramdla: Panas yang menyengat (Lisan al-‘Arab 7 : 160)

Berkaitan dengan pengertian Ramadlan, Ibn Duraid mengatakan –sebagaimana dikutip oleh Ibn Manzhur–: “Tatkala orang-orang menamai bulan-bulan dalam bahasa klasik, mereka menamainya disesuaikan dengan masa yang ada. Dan kebetulan Ramadlan itu masa-masanya panas menyengat dan sangat panas, sehingga dinamailan ia dengannya.” (Lisanul-‘Arab 7 : 162)

Adapun Ibn Mandzur berpendapat:

شَهْر رَمَضَانَ: مَأْخُوْذٌ مِنْ رَمِضَ الصَّائِمُ يَرْمَضُ إِذَا حَرَّ جَوْفُهُ مِنْ شِدَّةِ الْعَطَشِ

Bulan Ramadlan: Diambil dari kata ‘Ramidla as-sha’im yarmadlu’ yaitu ketika tenggorokannya panas disebabkan sangat haus.” (Lisanul-‘Arab 7 : 162)

Dalam ajaran Islam, ibadah dibulan Ramadlan, khususnya shaum Ramadlan, merupakan salah satu pilar dari lima pilar Islam (rukun Islam). Sebagaimana dinyatakan Nabi saw:

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Islam itu dibangun di atas lima perkara: (1) Syahadat tiada tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad Rasul Allah, (2) Mendirikan shalat, (3) Menunaikan zakat, (4) Haji, dan (5) shaum ramadlan (Shahih al-Bukhari kitab al-iman bab du’a’ukum imanukum no 8, Shahih Muslim kitab al-iman bab qaulin-Nabiy buniyal-Islam ‘ala khamsin n0 120-122).

Allah swt sebelumnya sudah menegaskan kewajiban shaum Ramadlan ini dalam al-Quran sehingga kedudukannya menjadi pilar Islam:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu shiyam sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Ramadlan Bukan Hanya Shaum

Pilar shaum Ramadhan tersebut tidak berdiri sendiri, terdapat penopang-penopang ibadah lainnya yang sangat menentukan keberadaannya, diantaranya qiyam Ramadlan, quyam lailatul-qadar, dan tadarus al-Qur’an. Maka dari itu sebuah kemestian bagi setiap muslim untuk memperhatikan semua ibadah tersebut –tidak hanya shaumnya—sebab shaum Ramadlan satu paket dengan ibadah-ibadah penopangnya tersebut. Kesalahan umun yang ditemukan di masyarakat muslim hari iniadalah asumsi bahwa Ramadhan itu ibadahnya hanya saum saja. Padahal Ramadlan tidak hanya shaum, tetapi juga ada qiyam Ramadlan, qiyam lailatul-qadar, dan tadarus al-Quran yang mempengaruhi kesuksesan shaum amadlan itu sendiri. Mengabaikan Sebagiaannya sama dengan secara sadar membiarkan diri celaka di Bulan Ramadlan. Kecelakaan yang dimaksud disabdakan Nabi saw sebagai berikut:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلَ عَلَيْهِ شَهْرُ رَمَضَانَ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَلَهُ

Jatuh ke tanah hidung seseorang (rugi/celaka). Masuk kepadanya bulan Ramadlan, tetapi ketika selesai ia tidah diampuni (Sunan at-Tirmidzi no 3545; Shahih Ibnu Hibban no. 901; Shahih Ibnu Khuzaimah no. 1888; Musnad Ahmad no. 7444).

Maksud hadits di atas, pertama, orang yang mengalami bulan Ramadlan tetepi tidak mengamalkan shaum Ramadlan dan ibadah lainnya, ia pasti “celaka”. Semestinya ia memanfaatkan untuk menghapus dosa-dosanya, ia malah berani meninggalkan shaum Ramadlan dan ibadah-ibadah yang menjadi penopangnya. Kedua, termasuk celaka juga orang yang shaum Ramadlan dan ibadah lainnya, tetapi setelah selesai bulan Ramadlan, ia tidak menjadi orang yang bertaqwa, sehingga dosa-dosanya tidak diampuni. Meskipun ibadah Ramadlan dijalankan, tetapi jika tidak bias membuktikan taqwa setelah eramadlan, itu pertanda tidak diampuni dosanya, dan itu juga pertanda celaka yang dimaksudkan hadits di atas.

Pengampunan dosa yang dimaksud hadits di atas tidak hanya tertuju pada shaum Ramadlan saja, tetapi juga ibadah-ibadah penopang lainnya, ini berdasarkan sabda Nabi saw:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ ماتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang shaum Ramadlan karena iman dan mengharap ridla Allah, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu (Shahin al-Bukhari kitab al-iman bab shaum Ramadlan ihtisaban minal-iman no. 38; kitab fadlli lailatul-qadri bab fadlli lailatul-qadri no. 2014; Shahih Muslim kitab Shalat al-musafirin bab at-taghrib fi qiyam Ramadlan wa huwa at-Tarawih no. 1817).

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ ماتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang qiyam (berdiri untuk shalat malam) Ramadlan karena iman dan mengharap ridla Allah, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu (Shahin al-Bukhari no. 37 dan 2009; Shahih Muslim no. 1815-1816).

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيْمَانًا وَحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ ماتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang qiyam (berdiri untuk shalat malam) pada lailatul-qadar karena iman dan mengharap ridla Allah, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu (Shahin al-Bukhari no. 38 dan 2014; Shahih Muslim no. 1817).

Shaum Ramadlan mencakup shaum secara syari’at, yakni meninggalkan makan, minum, dan hubungan badan suami istri di waktu siang; juga shaum secara hakikat, yakni shaum dari perkatan dan perbuatan yang tidak patut, termasuk shaum hati. Sementara qiyam Ramadlan adalah shalat Tarawih di malam Ramadlan, ditambah tadarus al-qur’an yang rutin juga Nabi saw lakukan di setiap malam Ramadlan. Terakhir qiyam lailatul-qadar atrinya terjaga menyambut lailatul-qadar di sepuluh hari terakhir Ramadlan, termasuk didalamnya melakukan I’tikaf.

“Ramadlan” Bukan Hanya di Bulan Ramadlan

Semua ibadah Ramadlan di atas tidak hanya harus diamalkan di bulan Ramadlan, tetapi juga harus dipertahankan sampai sesudah Ramadlan. Sebab tetap celaka juga jika Ramadlan selesai dosa-dosa tidak diampuni. Pengampunan dosa itu sendiri cirinya taqwa. Jadi kalau selesai Ramadlan tidak taqwa, pertanda tidak diampuni dosa, dan itu pertanda celaka juga. Dalam hal ini Allah swt sudah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar (QS. Al-Anfal {8}: 29).

Ramadhan Bukan Hanya Shaum

Pilar shaum Ramadhan tersebut tidak berdiri sendiri, terdapat penopang-penopang ibadah lainnya yang sangat menentukan keberadaannya, di antaranya qiyam Ramadhan, qiyam lailatul-qadar, dan tadarus al-Quran. Maka dari itu sebuah kemestian bagi setiap muslim untuk memperhatikan emua ibadah tersebut –tidak hanya shaum—sebab shaum Ramadhan satu paket dengan ibadah-ibadah penopangnya tersebut. Kesalahan umum yang ditemukan di masyarakat muslim hari ini adalah asumsi bahwa Ramadhan itu ibadahnya hanya saum saja. Padahal Ramadhan tidak hanya shaum, tapi juga ada quyam Ramadhan, qiyam lailatul-qadar, dan tadarus al-Quran yang mempengaruhi kesuksesan shaum Ramadhan itu sendiri. Mengabaikan sebagiannya sama dengan secara sadar membiarkan diri celaka di bulan Ramadhan. Kecelakaan yang di maksud disabdakan Nabi saw sebagai berikut:

“Alangkah ruginya (celakanya) orang yang masuk padanya bulan ramadhan, namun ketika telah selesai (ramadhan) dosanya tidak diampuni (Sunan at-Tirmidzi no. 3545; Shahin Ibnu Hibban no. 908; Shahih Ibnu Khuzaimah no. 1888; Musnad Ahmad no. 7444).

Maksud hadist di atas, pertama, orang yang mengalami bulan Ramadhan tetapi tidak mengamalkan shaum Ramadhan dan ibadah lainnya, ia pasti “celaka”. Semestinya ia memanfaatkan untuk menghapus dosa-dosanya, ini malah berani meninggalkan shaum Ramadhan dan ibadah-ibadah yang menjadi penopangnya. Kedua,  termasuk celaka juga orang yang shaum Ramadhan dan ibadah lainnya, tetapi setelah selesai bulan Ramadhan, ia tidak menjadi orang yang bertaqwa, sehingga dosa-dosanya tidak diampuni. Meskipun ibadah Ramadhan dijalankan, tetapi jika tidak bisa membuktikan taqwa setelah Ramadhan, itu pertanda tidak diampuni dosanya, dan itu juga pertanda celaka yang dimaksudkan hadits di atas.

Pengampunan dosa yang dimaksud hadists di atas tidah hanya tertuju pada shaum Ramadhan saja, tetapi juga ibadah-ibadah penopang lainnya, ini berdasarkan sabda Nabi saw:

“Siapa yang shaum Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu” (Shahin al-Bukhari kitab al-iman bab shaum Ramadhan ihtisaban minal-iman no. 38; kitab fadlli lailatul-qadri bab fadlli lailatul-qadri no. 2014; Shahih Muslim kitab Shalat al-musafirin bab at-taghrib fi qiyam Ramadlan wa huwa at-Tarawih no. 1817).

“Siapa yang qiyam (berdiri untuk shalat malam) Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu” (Shahin al-Bukhari no. 37 dan 2009; Shahih Muslim no. 1815-1816)

“Siapa yang qiyam (berdiri untuk shalat malam) pada lailatul-qadar karena iman dan mengharap ridla Allah, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu” (Shahin al-Bukhari no. 38 dan 2014; Shahih Muslim no. 1817)

Shaum Ramadhan mencakup shaum secara syari’at, yakni meninggalkan makan, minum, dan hubungan badan suami istri di waktu siang; juga shaum secara haqiqat, yakni shaum dari perkataan dan perbuatan yang tidak patut, termasuk shaum hati. Sementara qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih di malam Ramadhan. Terakhir qiyam lailatul-qadar artinya terjaga menyambut lailatul-qadar di sepuluh hari terakhir Ramadhan, termasuk di dalamnya melakukan I’tikaf.

“Ramadhan” Bukan Hanya di Bulan Ramadhan

Semua ibadah Ramadhan di atas tidak hanya harus diamalkan di bulan Ramadhan, tetapi juga harus dipertahankan sampai sesudah Ramadhan. Sebab tetap celaka juga jika Ramadhan selesai dosa-dosa tidak diampuni. Pengampunan dosa itu sendiri cirinya taqwa. Jadi kalau selesai Ramadhan tidak taqwa, pertanda tidak diampuni dosa, dan itu pertanda celaka juga. Dalam hal ini Allah swt sudah berfirman:

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia Akan memberikan kepadamu furqan dan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan menampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar” (QS. Al-Anfal [8]: 29).

 

Buku Sukses Ibadah Ramadlan (Panduan Bagi Yang Tidak Mau Gagal Ibadah Ramadlan), Nashruddin Syarief, Tsaqifa Publishing Mencerdaskan Umat.

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB