Login

Register

Login

Register

 
Demaz Fauzi Hadi (Businnes Trainer)

 

Sudah lebih dari 6 bulan, pandemi corona virus disease atau disingkat covid-19 masuk ke Indonesia. Selain merenggut korban jiwa, seperti dikutip dari pikiranrakyat.com per 30 September 2020, korban jiwa sudah mencapai 10.601 jiwa dengan trend terus bertambah. Dampaknya pun terasa di sektor ekonomi makro dan akan berdampak sistemik ke ekonomi mikro.

Kita sudah merasakan dampaknya beberapa bulan ke belakang. Secara cepat dan masif, ekspor menurun, beberapa perusahaan mulai gulung tikar, PHK massal, pemotongan gaji, nilai uang menurun, harga barang dan jasa naik, tak terkecuali berimbas juga ke UKM (Usaha Kecil Menengah). Meskipun sebagian masih bertahan, namun tak sedikit yang menutup usahanya karena daya beli masyarakat terus menurun. Lalu sudah siapkah kita?

Bagi pelaku UKM, kondisi di atas harus secepatnya diantisipasi demi menyelamatkan usaha. Langkah-langkah yang tepat secara duniawi dan ukhrawi dikerjakan secara pararel untuk memutarkan lagi roda perekonomian. Berikut ini beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk memulihkan usaha di tengah pandemi:

  1. Segera Kembali Kepada-Nya

Sadar tidak sadar, seringkali kemakmuran melenakan. Di saat konsumen antre membeli, orderan ber­datangan, dan keutungan melimpah ruah, kerap kali kita lupa bersyukur menyisihkan sebagian keuntungan untuk zakat, infak, dan sedekah. Mungkin juga, ada harta yang syubhat (tidak jelas) atau riba yang tercampur dalam perputaran usaha.

Rugi atau bangkrut bisa jadi teguran dari-Nya untuk mengembalikan orientasi bisnis bukan sekadar keuntungan tapi sekaligus keberkahan. Maka boleh jadi, covid-19 yang turut memperlambat laju ekonomi adalah momentum yang pas untuk merefleksi usaha selama ini. Jangan-jangan, telah menjadi ilah baru yang menggantikan posisi-Nya. Tak heran, jika Imam Syafii pernah memberikan nasihat “Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu”,

Dalam ayat yang sering dikutip, bukankah Allah Swt. telah berfirman, “Apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: Jadilah! maka terjadilah ia”. (QS Yasin, 36: 82) Tak ada yang mustahil bagi-Nya, dengan menerima kondisi buruk saat ini sambil terus bertawakal dan meningkatkan ibadah kepada-Nya adalah pilihan yang paling tepat.

  1. Pola Pikir Pemenang

Anda mungkin punya idola pengusaha sukses yang berkali-kali bangkrut milyaran namun berhasil bangkit, bahkan lebih sukses dari sebelumnya, misalnya Dewa Eka Prayoga, Jaya Setiabudi, Saptuari Sugiharto, dan pengusaha lainnya. Pertanyaannya adalah mengapa mereka tak kapok jadi pengusaha dan tak takut bangkrut lagi?

Mindset atau pola pikir adalah jawabannya. Anda boleh percaya atau tidak, tapi itulah kenyataannya. Seseorang yang punya pola pikir positif akan tercermin dalam sikap, perkataan, dan perbuatannya yang positif juga, begitu pun sebaliknya. Bagaimana mungkin sese­orang bisa menang, jika ia tak yakin dengan dirinya sendiri. Padahal, setiap manusia yang lahir ke dunia pada hakikatnya adalah se­orang pemenang yang menurut penelitian telah mengalahkan sekitar 200 sampai 500 juta sel sperma saingannya.

Para pengusaha di atas berpola pikir, menjadi pengusaha adalah pilihan hidupnya untuk mencapai kesuksesan sehingga bangkrut atau rugi adalah bagian dari “permainan” dan berbanding lurus dengan capaian yang mereka dapatkan selama hidupnya.

  1. Analisa Data

Usaha rugi apalagi bangkrut membuat serba salah. Dilanjutkan tak ada modal, tapi tak dilanjutkan kebutuhan sehari-hari, hutang, dan tagihan datang silih berganti. Bagi yang sudah berkeluarga, tak jarang kondisi ini membuat stres atau frustasi. Setelah kembali kepada-Nya dan memahami pola pikir pemenang, yang harus dikerjakan selanjutnya adalah analisa data untuk menentukan hal mendesak dan penting.

Sebagian pelaku usaha di tengah kepanikan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, menyicil hutang dan tagihan, terkadang melakukan kesalahan besar dalam mengeluarkan uang atau menjual asetnya tanpa skala prioritas. Yang harusnya ditunda malah dibayar duluan, sebaliknya yang harusnya segera dibayar malah ditunda karena tak ada cash apalagi untuk melanjutkan usaha.

Lalu, darimana mulai analisanya? Catat aset yang Anda miliki, baik dalam bentuk uang atau barang yang bisa diuangkan (emas, kendaraan, stok barang). Catat secara terpisah hutang dan tagihan yang harus dicicil beserta tanggal jatuh temponya.

Cek kembali laporan ke­uangan untuk memastikan uang masuk dan keluar dari mana saja. Jangan-jangan selama ini ada pengeluaran besar yang tak terkontrol padahal bisa dihemat untuk memangkas biaya operasional dan produksi, seperti: gas, air, listrik, internet, telpon, hiburan, dll.

Jangan lupa, nilailah kinerja semua karyawan untuk me­mastikan sudah sesuai standar. Analisa juga data konsumen, produk yang cepat dan lambat terjual, supplier, serta media promosi untuk memahami polanya. Ke depannya, kegiatan analisa data ini harus men­jadi kegiatan rutin. Minimal analisa dilakukan sebulan sekali mengikuti periode keuangan untuk mengantisipasi ke­rugian yang sama di kemudian hari.

  1. Restrategi Usaha

Seperti pepatah mengatakan “gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan”. Langkah selanjutnya adalah menyusun rencana dan strategi usaha sesuai analisa data supaya tepat sasaran.

  1. Tentukanlah siapa target konsumennya berdasarkan demografi (umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, kendaraan), geografi (tempat tinggal, sekolah, kantor, jarak tempuh), psikografi (topik, lagu, buku, hobi, suku, agama).
  2. Apa media promosi yang efektif? Semakin Anda tahu siapa target konsumennya akan semakin mudah menen­tukan media promosi yang efektif. Mungkin saja di awal usaha, jika target konsumennya anak muda, Anda cukup mempromosikan melalui Instagram yang didongkrak oleh selebgram dengan follower puluhan atau ratusan ribu sesuai target konsumen produk. Fenomena odading Mang Olih yang sempat viral beberapa waktu kemarin sebagai contohnya. Hal tersebut bisa memang­kas biaya promosi meng­gunakan flyer, spanduk, dan baligo yang harganya cukup mahal.
  3. Jika Anda mau melanjut­kan usaha yang sama karena berdasarkan analisa datanya masih terlihat peluang pangsa pasar dan umur usahanya masih panjang, maka itu lebih baik. Setidaknya, tak perlu memulai usaha dari 0 besar, Anda tinggal menentukan produk potensial dan harga yang wajar. Apakah akan me­matok harga lebih murah yang penting banyak pem­belinya atau lebih mahal disesuaikan dengan kualitas barangnya (premium).
  4. Di mana tempat usaha­nya? Jika sebelumnya Anda sudah punya tempat usaha dan lokasinya strategis, berdekatan dengan target konsumen akan sangat menguntungkan. Tinggal ditingkatkan saja promosinya yang efektif. Namun jika belum, tak perlu berkecil hati, di era digital sekarang. Bermitra dengan aplikasi ojol atau marketplace bisa jadi solusi untuk promosi online shop atau ghost kitchen bagi pelaku usaha.
  5. Buatlah perhitungan keuangan yang cermat sebagai panduan saat menjalankan usaha: modal awal, biaya operasional, gaji karyawan, utilities, dan bahan baku. Selalu catat setiap pemasukan dan pengeluaran supaya setiap akhir periode mudah dievaluasi laporan keuangannya untung, rugi, atau impas.
  6. Action, action, dan action!

Rencana yang baik akan percuma saja jika hanya di atas kertas alias tak dikerjakan. Meskipun rencana yang baik, ibarat setengah pekerjaan telah selesai, namun tentu saja harus disempurnakan dengan aksi nyata yang fokus ke usaha. Mulailah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berdasarkan skala prioritas yang sudah direncanakan dalam time schedule.

Apa yang harus dikerjakan sebelum usaha: membuat perhitungan yang efektif, membeli bahan baku dengan cermat, menyimpan bahan baku dengan baik agar tidak cepat basi. Apa yang harus dikerjakan saat operasional: pelayanan yang memuaskan, produksi yang efisien, penanganan keluhan konsumen yang baik. Terakhir, apa yang harus dikerjakan di akhir periode adalah selalu evaluasi berkala minimal mingguan.

Demikian  5 tips memulih­kan usaha di tengah pandemi. Jika Anda belum bisa menangkap semua tips di atas, saya sarankan jeda sejenak dari aktivitas usaha Anda. Carilah mentor bisnis, bergabung dengan komunitas bisnis, dan belajar dari berbagai sumber yang Anda yakini integritasnya.

Ibarat gergaji yang tumpul, sesekali perlu diasah untuk mengembalikan ketajamannya dalam memotong. Sama halnya saat Anda memotong benang kusut kerugian usaha. Semoga bisa membantu, Insya Allah.

Wallahu A’lam bis Shawab

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB