UMUR DAN AJAL

Oleh:
Ust. Ahmad Solihin

 

Umur. ‘Imaarah adalah lawan kata dari menghancurkan atau merobohkan. Maka ‘Imaarah artinya, membangun, menghidupkan, mendiami, mengurus. Allah berfirman,

 أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ لَا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS at-Taubah [9]: 19)

Adapun al-‘Amru atau al-‘Umur, ialah masa, waktu, atau batas terisinya badan dengan kehidupan. Maka, perkataan panjang umur itu maksudnya terisinya badan dengan ruhnya.

Hidup yang ma’mur ialah hidup yang terisi dengan amal. Ahli neraka akan memohon kepada Allah agar dikembalikan ke dunia untuk beramal saleh. Padahal mereka telah diberi kesempatan umur yang panjang. Allah berfirman,

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

“Dan  mereka berteriak di dalam neraka itu : ‘Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami niscaya Kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah Kami kerjakan’. Dan Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (Q.S. Fathir [35]: 37)

Semua manusia telah diberi kenikmatan  oleh Allah dengan umurnya masing-masing. Sebentar atau lama seseorang hidup di dunia yang fana ini, sudah merupakan ketetapan dari Allah. Firman-Nya,

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ جَعَلَكُمْ أَزْوَاجًا ۚ وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثَىٰ وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ ۚ وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلَّا فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Dan  Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.” (Q.S. Fathir, 35: 11)

Dengan umur yang panjang belum tentu sesorang itu akan mendapat kebaikan. Malahan semakin lama jatah umunya di dunia, akan semakin berkurang kemampuan seseorang untuk dapat mengkases kenikmatan hidup ini. Firman-Nya,

وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ ۖ أَفَلَا يَعْقِلُونَ

“Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan Dia kepada kejadian(nya). Maka Apakah mereka tidak memikirkan?” (QS Yaa Siin [36]: 68)

Namun demikian, saking betahnya hidup di dunia, padahal manusia telah disibukkan dengan dengan segala problematika kehidupan ini, tetap saja manusia meminta dan memohon kepada Allah agar diberi umur yang panjang. Padahal umur yang panjang tidak akan menjadi jaminan terbebasnya seseorang dari azab Allah. Firman-Nya,

وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَىٰ حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا ۚ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

“Dan  sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, Padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS al-Baqarah [2]: 96)

 بَلْ مَتَّعْنَا هَٰؤُلَاءِ وَآبَاءَهُمْ حَتَّىٰ طَالَ عَلَيْهِمُ الْعُمُرُ ۗ أَفَلَا يَرَوْنَ أَنَّا نَأْتِي الْأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا ۚ أَفَهُمُ الْغَالِبُونَ

“Sebenarnya  Kami telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjanglah umur mereka. Maka Apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami mendatangi negeri (orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya. Maka Apakah mereka yang menang?” (QS al-Anbiya [21]: 44)

Karena umur (masa mendiami ruh dalam jasad manusia) itu berbatas waktu, maka masa akhir batas waktu tersebut disebut dengan ajal. Ajal itu ialah batas waktu yang menjadi ukuran bagi sesuatu. Seperti firman Allah, yaitu (agar kamu sampai kepada kurun waktu yang ditentukan) (QS Ghafir [40]: 67), atau seperti yang mengatakan, “utangnya ditunda sampai waktu yang ditentukan, maka aku beri waktu ia untuk membayarnya”.

Kata ajal sebagai batas sesuatu digunakan juga dalam ukuran masa iddah. Firman-Nya,

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ

“Apabila  kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula).”  (QS al-Baqarah [2]: 231)

Ajal seringkali disebut dalam al-Qur’an sebagai batas waktu untuk ukuran selama hidup. Yaitu, kehidupan ini dibatasi atau diakhiri dengan kematian. Sepeti firman-Nya, “Dan sekarang waktu yang telah Engkau tentukan buat kami telah datang”. (QS Al-An’am [6]: 128)

Ajal manusia sudah ditetapkan oleh Allah, firman-Nya,

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَىٰ أَجَلًا ۖ وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ۖ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ

“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).” (QS al-An’âm [6]: 2)

 Dan jika ajal sudah tiba, maka tidak dapat disegerakan ataupun diakhirkan meskipun hanya sedetik saja. Firman-Nya,

وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Dan  Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (al-Munafiqun [63]: 11)

Kenikmatan kehidupan dunia yang dirasakan oleh manusia seringkali membuat manusia lupa bahwa ia memiliki ajal yang pasti akan dilaluinya. Hal tersebut mendorong manusia berkeinginan untuk hidup kekal abadi di dunia. Dan manusia mengira bahwa dengan harta yang banyak akan menolongnya untuk kekal abadi di dunia. Makanya, Allah mengingatkan kepada kita, jangan sampai harta kekayaan dan anak-anak yang kita miliki, menghambat kita untuk memperoleh keridhoan dari Allahn dan menjerumuskan kita untuk takut terhadap kematian. Allah menyeru kepada orang yang beriman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.  Dan  belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku Termasuk orang-orang yang saleh?’.” (QS al-Munafiqun [63]: 9 – 10)

Mari kita isi sisa umur yang dimiliki dengan beramal saleh, karena kita tidak tahu kapan malaikat maut akan mengambil ajal kita. Mari isi hari-hari yang kita lewati dengan meningkatkan ibadah kita, baik yang mahdhah maupun ghair mahdhah, perbaiki amal-amal kita, agar mendapat ridha Allah Swt. Ingatlah! Bahwa setiap hari itu adalah makhluk yang baru. Hari ini tidak akan sama dengan hari kemarin, hari esok belum tentu akan kita lalui, dan hari yang telah kita lalui tidak akan pernah terulang lagi sampai hari kiamat, dan hari-hari yang telah kita lalui akan menjadi saksi atas segala amal yang kita lakukan di dunia ini.

Wallahu A’lam bis Shawab,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *