TAUHID DAN FENOMENA KEMUSYRIKAN

Oleh:  Dadang Syamsuddin, Lc

Pengertian Tauhid

Tauhid menurut bahasa, lafadz Tauhid adalah masdar dari   وَحَّدَ- يُوَحِّدُ- تَوْحِيْدًا yang memiliki arti mengesakan sesuatu dan menafikan sesuatu tandingan yang berbilang dari padanya.

Sedang menurut istilah, Tauhid adalah mengesakan Allah Swt. dan menafikan sekutu dan tandingan dari dzat Allah Swt., sifat-sifat dan perbuatan (Af’al)-Nya, juga menafikan sekutu dan tandingan dalam sifat-sifat Rububiyyah dan Uluhiyyah Allah Swt.

Allah Swt. berfirman dalam menafikan sekutu dari Dzat-Nya, “Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa (1). Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu (2).  Dia Tidak beranak dan pula tidak diperanakkan (3). Dan tidak ada yang setara dengan Dia (4)”. (QS Al Ikhlas)

Allah berfirman dengan menafikan sekutu dari Rububiyyah-Nya, “Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”.  (QS ar-Raad [13] : 16)

Allah berfirman, “Katakanlah: “Siapakan yang memberikan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? “maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: “Mengapa Kalian tidak bertaqwa (kepada-Nya)?” (QS Yunus [10] : 31)

Allah berfirman dengan menafikan sekutu dalam ibadah, “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq untuk diibadahi) melainkan Allah” (QS Muhammad [47] : 19)

Allah berfirman, “Katakanlah: “Sesungguhnya Shalatku, Ibadahku, Hidup dan Matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS Al-An’am [6] : 162–163)

Macam-Macam Tauhid

Para ulama Tauhid membagi Tauhid menjadi tiga macam, yaitu: Tauhid Rubbubiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asma Wasifat.

1. Tauhid Rububiyyah

Pengertian Tauhid Rububiyyah

Kalimat Tauhid Rubbubiyyah terdiri dari 2 kata, yaitu Tauhid dan kata Rububiyyah. Kata Tauhid sudah dijelaskan di awal bahasan ini, sedang kata Rububiyyah dalam bahasa Arab diambil dari kata  رب yang memiliki arti:

  1. السيـد    (Tuan)
  2. المالك (Pemilik)
  3. المربي (Pengurus atau Pendidik)
  4. المصلح (Yang membereskan)
  5. المعبود بحق  (yang disembah dengan haq)

Dan makna yang terakhir dari kata   (الرب) adalah makna yang pokok dan mutlaq, sedang makna yang lain adalah bersifat majas dan tambahan. Dan dari makna-makna tersebut yang dimiliki kata  الرب diambillah kata الربوبية  dengan makna sebagai berikut:

  1. الخلق (Menciptakan)
  2. الرزق (Memberi Rezeki)
  3. الملك (Memiliki)
  4. السيـادة (Menguasai)
  5. التربيـة (Mengurus dan Mendidik)
  6. الاصـلاح  (Membereskan)
  7. التدبير (Mengatur)

Maka dengan demikian, dapat disimpulkan pengertian Tauhid Rububiyyah adalah: “Mengesakan Allah Swt. dalam sifat-sifat Rububiyyah-Nya yang mencakup sifat; mencipta, memberi rezeki, memiliki, menguasai, mengurus dan mendidik, membereskan dan mengatur, serta menafikan sekutu dan tandingan dari pada-Nya.

Fitrah yang Suci Mengakui Tauhid Rububiyyah bagi Allah Swt.

Manusia yang memiliki akal dan fitrah yang bersih pasti dengan tegas akan mengambil kesimpulan bahwa tidak ada satupun makhluk yang pantas memiliki satu apalagi lebih di antara sifat-sifat Rububiyyah yang mutlak milik Allah Swt. Dalam hal ini, cukuplah sebagai saksi atau dalil pengakuan orang-orang musyrik Arab akan sifat-sifat Rububiyyah bagi Allah Swt. Dan al-Quran al-Karim telah mengabadikan kesaksian dan pengakuan mereka dalam banyak ayat.

Allah Swt. berfirman, “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka akan menjawab: “semua diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui”. (QS Az-Zukhruf [43] : 9)

Allah Swt. berfirman, “Katakanlah: “Siapakah yang memiliki langit yang tujuh atau memiliki Arsy yang besar, mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kalian tidak bertaqwa?” . (QS Al-Mu’minun [23] : 86 – 87).

Fenomena Syirik dalam Tauhid Rububiyyah di Tengah-Tengah Umat

  1. Keyakinan di tengah masyarakat muslim yang awam bahwa, ada di antara para wali dan orang shaleh yang memiliki kemampuan tertentu dalam mengubah nasib seseorang, seperti meraih jabatan, mendapatkan jodoh, memberi manfaat atau madhorot kepada orang lain, dan lain sebagainya. Sehingga, biasanya mereka diundang atau didatangai hanya dalam rangka untuk mewujudkan maksud atau kebutuhan-kebuthan tersebut. Maka ini jelas merupakan syirik yang keluar dari Tauhid Rububiyyah karena kemampuan-kemampuan tadi adalah hanya wewenang mutlak milik Allah Swt.
  2. Keyakinan bahwa arwah para wali atau orang shaleh memiliki kemampuan untuk membantu orang yang masih hidup sehingga mereka berbondong-bondong ke kuburan untuk meminta bantuan dan berdo’a dengan harapan agar mereka bisa keluar dari kesulitan yang dihadapi atau terlaksananya keinginan yang dicari. Dan ini jelas adalah bentuk syirik dalam Rububiyyatullah.
  3. Perasaan takut terhadap jin yang lahir karena susatu keyakinan yang salah bahwa bangsa jin lebih hebat dan lebih tahu akan masalah ghaib sehingga mereka dimintakan pertolongan dan perlindungan setelah sebelumnya mereka diberikan sesaji. Dan jelas, ini adalah bentuk syirik menyekutukan Allah Swt. dengan setan dari bangsa jin wal’iyadza billahi.
  4. Sikap berlebihan kepada para wali dan orang shaleh yang lebih banyak terjadi di kalangan ahli Tarekat dan Sufi sehingga sampai kepada sikap mengkultuskan mereka. Dan ini adalah sikap yang dilarang dalam Islam. Rasulullah Saw. bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْـلَكُمْ الْغُلُوُّ

“Jauhilah sikap berlebihan (Ghuluw) karena yang mnenghancurkan umat terdahulu sebelum kalian adalah sikap berlebihan”.

  1. Patuh dan tunduk kepada para pembuat hukum atau kebijakan yang bertentangan dengan prinsip dan nilai-nilai hukum Allah Swt. tanpa ada perasaan menyesal atau mengingkari. Jelas ini adalah sebuah kemusyrikan terhadap Rububiyyatullah.

Dalam sebuah hadits, Adiy Bin Hatim At Thoiy, beliau adalah seorang sahabat yang dulu beragama Nashrani pada masa Jahiliyyah. Kemudian ia masuk Islam dan suatu saat Ia mendengar Rasulullah Saw. membaca ayat 31 dalam surat At-Taubah yang menjelaskan tentang ahli kitab.

“Mereka menjadikan orang-orang Alim dan Rahib-Rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam. Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; Tidak ada Tuhan (yang disembah) selain Dia, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.

Maka, Adiy Bin Hatim menampik bahwa mereka (Umat Nashrani) telah menyembah para alim dan rahib mereka, lalu Rasulullah Saw. berkata kepadanya: “Bukankah mereka telah menghalalkan sesuatu yang haram dan kalian (mengakui dan membenarkan) penghalalan tersebut dan mereka telah mengharamkan yang halal dan kalian (mengakui dan membenarkan) pengharaman tersebut?” Ia menjawab: “memang iya”, Rasulullah berkata:”Itulah bentuk penyembahan mereka terhadap (Alim dan Rahib) mereka”. (HR Ahmad dan At-Tarmidzi dengan mengatakan bahwa hadits ini Hasan)

2. Tauhid Uluhiyyah

Pengertian Tauhid Uluhiyyah

Sinonim kata Uluhiyyah adalah ibadah. Maka, Tauhid Uluhiyyah adalah “ Mengesakan Allah Swt. dalam beribadah kepada-Nya dalam berbagai macam bentuk ibadah yang telah disyari’atkan, baik ibadah qolbiyyah (ibadah yang merupakan pekerjaan hati) atau ibadah jasadiyyah (ibadah fisik) tanpa menyekutukan Allah Swt. dengan sesuatu apapun dalam berbagai macam bentuk ibadah”.

Tauhid Uluhiyyah Adalah Inti Dakwah Para Rasul

Allah Swt. telah menegaskan dalam banyak ayat, bahwa tugas para Nabi dan Rasul adalah mengajak dan memberikan peringatan kepada umatnya untuk menyembah Allah Swt. dan tidak menjadikan sekutu dalam beribadah kepada-Nya.

Allah berfirman, “Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) “Sembahlah Allah dan jauhilah Thogut”. (QS An-Nahl [16] : 36)

Allah Swt. berfirman,  “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, malainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwasannya tidak ada Tuhan (yang Haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian Aku”. (QS Al-Anbiya [21] : 25)

Kedudukan Tauhid Uluhiyyah di Antara Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Asma’ Washifat

Tauhid Uluhiyyah adalah bagian yang terpenting dalam aqidah seorang mu’min karena ia adalah buah dan hasil dari tauhid Rububiyyah dan Tauhid Asma’ Washifat. Tanpa adanya Tauhid Uluhiyyah, Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Asma’ Washifat akan menjadi hambar maknanya dan akan hilang faidahnya. Maka pantas Allah Swt. memerintahkan kepada Rasulullah Saw. untuk beribadah dengan ikhlas kepada-Nya.

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (QS Az-Zumar [39] : 11)

Dan sebenarnya Allah Swt. sudah memerintahkan seluruh manusia untuk senantiasa beribadah hanya kepada-Nya dan tidak berbuat kemusyrikkan. Allah Swt. berfirman:

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْـرِكُوْا بِهِ شَيْـئًا

“Dan Sembahlah Allah dan jangan kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS An Nissa [4] : 36)

Fenomena Kemusyrikan dalam Tauhid Uluhiyyah

a. Pengertian Ibadah

Ibadah secara bahasa berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedang menurut istilah, terdapat banyak definisi yang dikemukakan oleh para ulama tentang ibadah.  Di antara definisi tersebut adalah apa yang dikemukakan oleh Imam Ibnul Qoyyim, yaitu:

الْعِبـَادَةُ اِسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِـبُّهُ اللهُ وَيَرْضَاهُ مِنَ الأَقْـوَالِ وَالأَعْماَلِ الظَّاهِرَةِ وَاْلبَاطِنَةِ

“Ibadah ialah sebuah nama yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhoi Allah baik berupa ucapan atau perbuatan, yang dzohir maupun batin”.

Berdasarkan definisi di atas, bisa disimpulkan bahwa ibadah adalah:

Pertama:  Suatu ibadah itu harus melahirkan kecintaan dan keridhoan Allah Swt.

Kedua: Ibadah itu terbagi menjadi dua macam, yaitu; ibadah qolbiyyah dan ibadah jasadiyyah (fisik). Dan pembagian ini adalah dengan melihat sumber munculnya suatu aktivitas ibadah. Walaupun tentu ada lagi pembagian lain dari macam ibadah, tapi inilah yang menjadi perhatian dalam pembahasan kita.

Pertama: Ibadah Qolbiyyah atau Bathiniyyah

Ibadah Qolbiyyah, yaitu segala bentuk ibadah yang merupakan pekerjaan hati, seperti Iman, Cinta, Takut, Berharap, Sadar kembali kepada Allah, dan juga Tawakal.

Iman, yaitu dalam pengertian pembenaran hati akan adanya Allah Swt., Rububiyyah dan Uluhiyyah-Nya termasuk membenarkan apa yang dituntut oleh Allah Swt. untuk diimani, seperti beriman kepada Malaikat, kitab suci, para Nabi, Hari Akhir, serta masalah Qodho dan Qodar, seperti yang dijelaskan oleh Allah Swt. dalam Surat an-Nissa ayat 136. “Dan barang siapa memberikan keimanan selain kepada selain Allah atau diluar apa yang telah diperintahkan oleh-Nya, maka Ia telah kufur dan berbuat syirik”.

Cinta, yaitu mencintai Allah Swt. dan mencintai siapa dan apa yang dicintai oleh Allah Swt. dari hamba-Nya, baik berupa keyakinan, ucapan, dan juga perbuatan. Allah Swt. berfirman,  “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah sekutu selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah” (QS Al-Baqarah [2] : 165)

Rasa Takut

Allah berfirman, “Janganlah Kalian takut kepada manusia tapi takutlah kepada Ku”. (QS Al-Maidah [5] : 44)

Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka yang Ghaib bagi mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS Al-Mulk [67] : 12)

Berharap dan Berkeinginan

Berharap (Roja’) adalah sikap berharap dan bercita-cita untuk meraih kebaikan yang mungkin terjadi dari Dzat yang memiliki dan berkuasa untuk mewujudkan cita-cita dan harapannya. Adapun berkeinginan (Roghbah) adalah sikap menyukai dan menyenangi kebaikan disertai kemauan yang kuat untuk mendapatkannya dari Dzat yang memiliki dan mampu memberikannya.

Firman Allah SWT, “Barang siapa mengharap berjumpa dengan Tuhannya maka hendaklah ia beramal shaleh dan jangan mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (QS Al Kahfi [18] : 110)

Allah Berfirman, “Maka Apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. (QS Al-Insyirah [94] : 7-8)

Sadar Kembali kepada Allah SWT.

Allah berfirman, “Dan kembalilah kalian kepada Tuhan kalian dan berserah dirilah kepada-Nya”. (QS Az-Zumar [39] : 54)

Tawakal

Allah Berfirman, “Dan Hanya kepada Allah lah kalian bertawakal jika kalian beriman”. (QS Al-Maidah [5] : 23)

Allah Berfirman, “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, Cukuplah Allah baginya”.  (QS At-Thalaq [65] : 3)

Kedua: Ibadah Jasadiyah (Fisik)

Yaitu ibadah yang dilakukan oleh anggota badan, Seperti: berdo’a, Istihotsah, Isti’anah, Nadzar, Menyembelih Qurban, Ruku’ dan Sujud, Thowaf di Baitullah, Mencium hajar Ashwad, Tidak taat kepada Allah karena takut dan berharap kepada selain Allah dan bersumpah.

Berdo’a

Allah berfirman, “Dan masjid-masjid itu milik Allah maka janganlah kalian berdo’a kepada sekutu selain Allah”. (QS Al-Jin [72] : 18)

Istighotsah, yaitu memohon bantuan dan pertolongan pada saat darurat untuk membebaskan jiwa dari bahaya.

Isti’anah

Allah berfirman, “Hanya kepada Allah lah kami menyembah dan hanya kepada Allah lah kami memohon pertolongan”. (QS Al Fatihah [1] : 5)

Rasulullah Saw. berwasiat kepada Ibnu Abbas ra: “Bila kamu meminta, mintalah kepada Allah, dan bila kamu meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah”. (HR At-Tirmidzi)

Berdo’a, Istighotsah, dan Isti’anah adalah merupakan permohonan yang hanya dipanjatkan seorang hamba kepada Kholiqnya. Dan apabila ditujukan kepada selain Allah, maka itu termasuk perbuatan syirik.

Nadzar

Allah berfirman, “Dan apa saja yang kalian nafkahkan atau kalian nadzarkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (QS Al-Baqoroh [2] : 270)

Menyembelih Qurban

Allah berfirman, “Diharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan hewan yang disembelih atas nama selain nama Allah…” (QS Al-Maidah [5] : 3)

Ruku’ dan Sujud

Allah berfirman, “Hai orang yang beriman Ruku’ lah sujudlah dan sembahlah Tuhan kalian dan berbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan”. (QS Al-Hajj [22] : 77)

Thawaf di Baitullah, Mencium Hajar Ashwad, dan Semua Bentuk Ibadah yang Hanya Ditujukan untuk Allah SWT.

Allah berfirman, “Tidaklah mereka diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas melaksanakan agamanya”. (QS Al-Baiyyinah [98] : 5)

Tidak Taat kepada Allah karena Rasa Takut atau Mengharap Sesuatu kepada Selain Allah

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman taatlah kalian kepada Allah, taatlah kalian kepada Rasul dan jangan membatalkan amal-amal kalian”.   (QS Muhammad[47] : 33)

Bersumpah

Rasulullah Saw. bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ أَشْـرَكَ وَفِيْ لَفْظٍ : فَقَدْ كَفَرَ

Barang siapa yang bersumpah dengan nama selain Allah maka sungguh ia telah berbuat syirik” dalam lapadz lain: “Sungguh telah kufur”. (HR At-Tirmidzi)

3. Tauhid Asma’ Wasifat

Makna Tauhid Asma’ Wasifat

Tauhid Asma’ Wasifat, yaitu beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana yang diterangkan dalam al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya menurut apa yang pantas bagi Allah tanpa ta’wilta’thiltakyif, serta tamtsil. Berdasarkan firman Allah Swt., “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS As-Syura [42] : 11)

Manhaj Ulama Salaf dalam Tauhid Asma’Wasifat

Tauhid Asma’Wasifat, yaitu mengimani dan menetapkannya sebagaimana Ia datang tanpa tahrif (mengubah), ta’thil (menafikan), takyif (menanyakan bagaimana), dan tamtsil (menyerupakan) dan hal ini termasuk pengertian kepada Allah.

Imam Ahmad berkata: “Allah tidak boleh disifati kecuali dengan apa yang disifati olehnya untuk dirinya dan atau apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya, serta tidak boleh melampaui al-Qur’an dan al-Hadits”. Manhaj Salaf menyifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan untuk Diri-Nya dan dengan apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya, tanpa tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil.

Wallahu Álam Bis Shawab,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *