MEMBERI ITU MEMBERSIHKAN

Oleh:
Abu Faqih Aso al-Bakr

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.

(QS Al-Lail: 5–7)

 

Setiap harta yang kita peroleh merupakan rezeki dari Allah Swt. Manusia diperintahkan oleh Allah untuk mencari rezeki/karunia Allah yang berserakan di muka bumi ini. Bahkan, setelah selesai ibadah shalat, diperintahkan untuk mencari karunia Allah tersebut, “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS Al-Jumu’ah: 10).

Allah Swt. memerintahkan kepada kita untuk mendapatkan rezeki yang halal dan thayyib, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (QS Al-Baqarah: 168-169). Serta  melarang mendapatkan rezeki dengan cara yang bathil. “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”. (QS Al-Baqarah: 168-169)

Dalam proses mencari rezeki tersebut, usaha yang dilakukan manusia bisa dipastikan tidak akan lepas dari kesalahan dan kekeliruan. Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada para pedagang,

عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي غَرَزَةَ قال مَرَّ بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ الْبَيْعَ يَحْضُرُهُ اللَّغْوُ وَالْحَلْفُ فَشُوبُوهُ بِالصَّدَقَةِ –رواه ابو داود-

Dari Qais bin Abu Garzah, ia berkata,”Rasulullah saw. Melewati kami dan bersabda,’Wahai kaum pedagang, sesungguhnya perdagangan ini sering dihadiri omong kosong dan sumpah, maka tutupilah dengan zakat”. (HR Abu Daud)

Memberikan sebagian harta yang kita miliki, merupakan upaya untuk membersihkan diri (dari sifat-sifat buruk) dan membersihkan harta (karena terselip cara-cara yang batil). Apalagi dalam setiap harta yang kita miliki terdapat hak orang lain, yaitu fakir miskin. Allah berfirman, ”Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (yaitu orang miskin yang tidak mendapat bagian maksudnya ialah orang miskin yang tidak meminta-minta)”. (QS Adz-Dzariyat:19)

Ada banyak hak orang miskin dalam harta kita, yaitu:

1. Sebagai Mustahik Zakat (at-Taubah:60)

2. Mustahik Nafkah (al-Baqarah: 215 )

3. Penerima Fidyah (al-Baqarah: 184)

4. Penerima Kafarat (al-Maidah: 89, 95)

5. Penerima Ghanimah (Al-Anfal:41)

Mengingat banyaknya hak fakir miskin dalam harta kita, maka memberi kepada fakir miskin harus dijadikan kebiasaan bahkan hobi bagi setiap muslim, agar terlatih  untuk ikhlas dalam memberi. Allah berfirman, “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih”. (QS Al-Insan: 8–9)

Salah satu jalan bagi kita, agar dapat memberi kepada fakir miskin ialah dengan menunaikan ibadah zakat, sebagai kewajiban yang termasuk rukun Islam. Apalagi dalam zakat ini Allah menyebutkan secara tegas fungsi zakat sebagai pembersih harta dan jiwa. Firman  Allah dalam  surat At-Taubah: 103, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Bahkan, dalam zakat fitrah, ditegaskan bahwa fungsi zakat fitrah itu ialah sebagai pembersih bagi yang shaum dan makanan bagi yang miskin. Abu Daud & Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Rasulullah r telah mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi yang shaum, dari kesia-siaan dan ucapan kotor dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat (‘id) maka ia adalah zakat yang diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka ia adalah sedekah di antara sedekah-sedekah”.

Ramadhan merupakan saat terbaik bagi kita untuk membersihkan diri dan harta. Jangan sampai Ramadhan kali ini berlalu dengan kesia-siaan, jangan sampai terlambat untuk memberi, jangan sampai terlambat untuk membersihkan diri. Berikanlah hak fakir miskin di bulan penuh berkah ini. Sebelum Ramadhan berakhir, sebelum ajal menjemput kita dan sebelum fakir miskin menolak pemberian kita. Rasul bersabda, “bersedekahlah kalian! Maka sungguh akan datang pada kalian suatu zaman, ada orang yang berjalan membawa sedekahnya, namun ia tidak menemukan orang yang mau menerima sedekahnya, lalu ada orang yang berkata kepadanya, seandainya kau membawa sedekah itu kemarin, tentu aku akan menerimanya, namun sekarang aku sudah tidak membutuhkannya”. (Bukhari dari Haritsah bin Wahb)

Orang yang senantiasa memberi, dan ikhlas dalam pemberiannya sebagai wujud ketakwaan dan meyakini serta membenarkan apa yang dijanjikan Allah, itulah orang yang beruntung. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,  dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS asy-Syams: 9 – 10). Mari kita memberi, karena memberi itu berarti membersihkan.

Wallaahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *