MEMAKNAI MUSIBAH

Oleh:
KH Rahmat Najieb, M.Pd

Indonesia dikenal dengan negeri bencana, setiap tahun terjadi banjir, longsor, gunung meletus, gempa, dan kebakaran. Sekitar 129 gunung berapi berada di Indonesia. Negara tetangga pun kebagian dampaknya saat terjadi kebakaran hutan di Riau dan Kalimantan. Terjadi beberapa bencana yang dahsyat; Tahun 1815 Gunung Tambora meletus mengubur tiga kerajaan. Pada tahun 1883, Gunung Krakatau meletus, menelan korban sekitar 36.000 orang. Gempa bumi yang mengakibatkan Tsunami melanda Aceh tanggal 26 Desember 2004 menalan korban jiwa lebih dari 250.000 orang. Gempa bumi di Yogyakarta 20 Mei 2006 menewaskan enam ribu korban lebih. Tahun 2014, deretan gunung meletus di tanah air; dari Gunung Sinabung di tanah Karo Sumatera Utara sampai Gunung Sangeang di Bima, Nusa Tenggara Barat. Gunung Sinabung meletus, dampaknya masih terasa, longsor di Banjarnegara, pesawat jatuh di Selat Karimata, dan beberapa gunung dalam status siaga dan waspada. Dan, hampir setiap tahun banjir di Bandung Selatan. Tak hanya menimbulkan kerugian materi, bencana-bencana ini juga menelan korban jiwa yang tak sedikit jumlahnya.
Pada 29 Juli 2018, terjadi gempa yang dahsyat di Pulau Lombok, NTB dan sekitarnya.Ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan pekerjaannya. Dua bulan berikutnya, pada Jumat 28 September 2018 menjelang maghrib, terjadi lagi gempa 7,4 SR disusul tsunami di Kota Palu yang sedang banyak pengunjung menjelang pesta di tepi laut, juga Kab. Donggala, Sulawesi Tengah, sebuah hotel dan mall runtuh menimbun ratusan orang. Saat tulisan ini diturunkan masih banyak orang dinyatakan hilang, mungkin tertimbun reruntuhan gedung atau terbawa arus air laut.
Biasanya, trauma paska musibah masih terasa. Mau berobat tidak ada biaya, karena harta benda hancur tak tersisa. Musibah susulan bisa saja datang dengan tiba-tiba, membuat penduduk di zona bencana putus asa. Benarkah musibah membawa pahala? Ataukah azab bagi orang yang berdosa. Bagaimana kita harus bersikap? Adakah kewajiban orang yang selamat dari musibah?
Makna Musibah
Musibah atau musibat berasal dari kata “Ashaba-Yushibu“ artinya mengenai, menimpa, datang, menyapu, mendapatkan yang baik atau yang jelek.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi (tidak penuh keyakinan); maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang (berburuk sangka terhadap Allah bahkan menjadi kafir). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS Al-Hajj [22] : 11)

لَهُ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَأَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهُ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاءُ فَأَصَابَهَا إِعْصَارٌ فِيهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ

Dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang ia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Lalu kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah.” (QS Al-Baqarah [2] : 266)
Selanjutnya kata “mushibah“ digunakan untuk hal-hal yang merugikan, menyakitkan, dan menyedihkan. Firman Allah,

إِنْ أَنْتُمْ ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ

Jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian.” (QS Al-Maidah [5] : 106)

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (kekalahan pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Ali Imran [3] : 165)
Sedangkan untuk nasib baik sering diungkapkan dengan “hasanah”, sebagaimana firman Allah,

إِنْ تُصِبْكَ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكَ مُصِيبَةٌ يَقُولُوا قَدْ أَخَذْنَا أَمْرَنَا مِنْ قَبْلُ وَيَتَوَلَّوْا وَهُمْ فَرِحُونَ

Jika kamu mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata: ‘sesungguhnya kami sebelumnya telah memerhatikan urusan kami (tidak pergi perang)’ dan mereka berpaling dengan rasa gembira.“ (QS At-Taubah [9] : 50)
Selain kata “mushibah”, di dalam al-Quran, bencana dan kesengsaraan disebut juga dengan “adlarrâ” = bahaya, penderitaan, “alba-sâ” = kesempitan, “alba-su” = siksaan, “as-syarru” = keburukan, malapetaka, “al-balâ” = ujian. Firman Allah Swt,

وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Baqarah [2] : 177)

فَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ
أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?” (QS Al-A’raf [7] : 97-98)
Maksud ayat ini, bahwa bencana akan datang secara tiba-tiba, bisa malam atau siang, pagi atau petang. Termasuk bencana gempa besar, gunung meletus, dan tsunami di setiap negeri di akhir zaman.

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ

Kami tidaklah mengutus seseorang nabi pun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan Nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.” (QS Al-A’raf [7] : 94)

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَاءٍ عَرِيضٍ

Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (QS Fushilat [41] : 51)

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَٰلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.” (QS Al-Baqarah [2] : 49)

فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ رَمَىٰ وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَاءً حَسَنًا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS Al-Anfal [8] : 17)
Walaupun melelahkan, banyak luka, bahkan ada yang gugur pada perang Badar, namun disebut oleh Allah sebagai “Balâ-An Hasanan” = musibah yang baik, yang menguntungkan.
Bencana atau musibah itu ada dua macam, yaitu bencana alam yang tak terduga seperti gempa dan gunung meletus dan ada lagi bencana yang disebabkan ulah manusia, seperti banjir dan kebakaran karena manusia merusak lingkungan. Firman Allah,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS As-Syura [42] : 30)

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum [30] : 41)
Mungkin karena tidak waspada sehingga terjadi kecelakaan, atau karena salah makan menyebabkan sakit, atau disebabkan salah mengatur strategi akibatnya kalah dalam pertempuran. Jika sudah tahu sebabnya dan merasakan akibatnya, seharusnya jangan jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Jangan menyesali musibah yang menimpa karena Allah Swt. telah menuliskan dalam Kitab-Nya apa yang akan menimpa makhluk-Nya. Kita diwajibkan untuk beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS Al-Hadid [57] : 22)
Apa yang telah terdapat dalam Kitab-Nya tidak dapat diubah dan pasti terjadi.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS At-Taghabun [64] :11)
Allah akan memberi petunjuk ke dalam hati orang yang beriman, bahwa musibah ini diyakini kehendak Allah Swt. Allah akan meneguhkan hatinya dan akan memberinya pahala dan kebaikan yang banyak.

Wallahu A’lam bis Shawab,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *