MASIH ENGGAN ZAKAT DAN INFAK?

Oleh:
Nashruddin Syarief

Kesengsaraan yang akan dialami oleh orang yang enggan membayar zakat dan infak dari penghasilannya sungguh tiada tara. Banyaknya harta di dunia yang ia takutkan berkurang jika dibayarkan zakat, akan diganti sengan setrika-setrika panas yang siap membakar sekujur tubuhnya. Satu hari, yang enggan zakat dibalas dengan 50.000 tahun dibakar setrika neraka. Semakin banyak hartanya, semakin pedih siksanya. Semakin sering tidak zakatnya, semakin lama pula disetrikanya. Masih enggan bayar zakat?

Nabi saw sudah sering mengingatkan dalam haditsnya:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Shadaqah (zakat/infak) tidak akan mengurangi harta.” (Shahih Muslim Bab istihbabilafwi No. 6757)

Sebab, jika saat itu nominalnya berkurang dibayarkan zakat, akan segera diganti dengan yang setimpal atau bahkan lebih besar:

مَامِنْ يَوْمٍ يُسْبِحُ الْعِبَادُ ثِيْهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِ لَانِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا  وَيَقُوْلُ الْآجِرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Tidak ada satu hari pun manusia ada padanya kecuali dua malaikat turun. Yang satu berdo’a: ‘Ya Allah berilah orang yang infak gantinya’. Yang satunya lagi berdo’a: ‘Ya Allah berilah orang yang enggan infak kebinasaan’.” (Shahih Bukhari Bab qaulil-llah ta’ala fa amma man a’tha wat-taqa No. 1442)

Kalau pun masih saja ada ketakutan harta berkurang atau bahkan jadi sengsara, ketakutan itu berasal dari bisikan setan. Menurutinya sama saja dengan rela menjadi budak setan.

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Setan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 268)

Pantas jika Nabi Saw. mengancam siapa yang bernafsu menambah terus kekayaannya tanpa zakat dengan kesengsaraan yang berlipat. Semakin banyak hartanya, semakin sengsara nasibnya. Sebab ia sudah menjadi budak setan sehingga nasibnya pun pasti sama dengan setan.

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ انْتَهَيْتُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ  وَ هُوَ جَالِسٌ فِى ظِلِّ الْكَعْبَةِ. فَلَمَّا رَآنِى قَالَ هُوَ الأَخْسَرُوْنَ وَرَبِّ الْكَعْبَةِ. قَالَ فَجِئْتُ حَتَّى جَلَسْتُ حَتَّى فَلَمْ أَتَقَارَّ أَنْ قُمْتُ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللّهِ فِداكَ أَبِى وَأُمِّى مَنْ هُمْ قَالَ هُمُ الْأَكْثَرُوْنَ أَمْوَالًا إِلَّا مَنْ قَالَ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا –مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ وَعَنْ يَمِيْنِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ— وَقَلِيْلٌ مَا هُمْ مَا مِنْ صَاحِبِ إِبِلٍ وَلَا بَقَرٍ وِلَا غَنَمٍ لَا يُؤَدِّى زَكَاتَهَا إِلَّا جَاءَتْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْظَمَ مَا كَانَتْ وَأَسْمَنَهُ تَنْطِحُهُ بِقُرُوْنِهَا وَتَطَؤُهُ بِأَظْلَافِهَا كُلَّمَا نَفِدَتْ أُخْراهَا عَادَتْ عَلَيْهَا حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ

Dari Abu Dzar ia berkata: Aku mendekati Nabi Saw. ketika beliau duduk di dekat ka’bah. Ketika melihatku, beliau bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang paling rugi. Demi Rabb Ka’bah.” Aku pun menghampiri, duduk, tidak lama berdiri lagi (bertingkah serba salah). Lalu aku bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah mereka?” Beliau menjawab: “Orang-orang yang paling banyak hartanya. Kecuali yang membagikannya begini dan begitu—sambil berisyarat ke depan, belakang, kanan, dan kiri. Dan sungguh sangat sedikit sekali mereka yang seperti ini. Tidak ada seorangpun peternak unta, sapi, atau kambing yang tidak menunaikan zakatnya, kecuali ternaknya itu akan datang pada hari kiamat dalam keadaan besar dan gemuk. Lalu akan menanduknya dan menginjak-nginjaknya. Setiap kali selesai ternaknya yang terakhir, kembali lagi ternaknya yang pertama menanduk dan menginjak-nginjaknya. Sampai ada putusan akhir untuk semua manusia”. (Shahih Muslim Bab Taghlidz ‘Uqubah man la Yu’ ‘addiz-Zakat no. 2347)

Dalam hadits Abu Hurairah dijelaskan bahwa diinjak-injak ternak tersebut lamanya hitungan satu hari berbanding 50.000 tahun. Terus menerus seperti itu, sampai datang putusan akhir; apakah akan kekal di neraka selama-lamanya ataukah dipindahkan ke surga dengan syafa’at Nabi Saw.

فِى يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيُرَى سَبِيْلُهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ

“Dalam satu harinya saja seukuran 50.000 tahun, sampai ada putusan akhir untuk manusia. Akan diperlihatkan jalannya; apakah ke surga ataukah ke neraka.” (Shahih Muslim Bab Itsmi Mani’iz-Zakat no. 2337).

Bukan hanya para peternak saja, tetapi semua yang berkewajiban zakat atau infak penghasilan. Meski di hadits berikut disebutkannya emas dan perak, tetapi emas dan perak yang dimaksud adalah emas dan perak sebagai perhiasan, simpanan (tabungan/deposito), dan sebagai uang/penghasilan. Sebab mata uang di zaman Nabi Saw. adalah emas (dinar) dan perak (dirham).

مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَافِضَّةٍ لَايُؤَدِّى مِنْهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحِ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِى نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِيْنُهُ وَظَهْرَهُ كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيْدَتْ لَهُ فِى يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيُرَى سَبِيْلُهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَ إِمَّا إِلَى النَّارِ

“Tidak ada seorang pun yang memiliki emas dan perek (perhiasan, simpanan dan penghasilan) yang tidak dibayarkan kewajibannya (zakat/infak), kecuali pada hari kiamat nanti akan dijadikan lempengan-lempengan besi yang dibakar di neraka Jahannam. Lalu disetrikakan pada sekujur tubuhnya. Setiap kali besi itu dingin, maka akan dibakar lagi dan disetrikakan lagi. Dalam hitungan satu hari  seukuran 50.000 tahun, sampai ada putusan akhir untuk manusia. Akan diperlihatkan jalannya; apakah ke surga ataukah ke neraka”. (Shahih Muslim Bab Itsmi Mani’iz-Zakat no. 2337).

Dalam hadits lain digambarkan:

مَنْ آتَاهُ اللّهُ مَالًا فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالَهُ يَوْمَ الاْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيْبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِ مَتَيْهِ يَعْنِيْ بِشِدْقَيْهِ ثُمَّ يَقُوْلُ أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْرُكَ ثُمَّ تَلَا {لَايَحْسِبَنَّ الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ} الْآيَةَ

“Siapa yang diberi oleh Allah lalu ia tidak menunaikan zakatnya, maka hartanya itu akan dijadikan ular besar bertanduk yang lidahnya bercabang dua dan membelitnya pada hari kiamat. Kemudian ular tersebut akan mematuk kedua rahangnya sambil berkata: “Akulah hartamu. Akulah simpananmu”. Kemudian Nabi membacakan ayat: {Sekali-kali janganlah orang-orang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat—QS. Ali Imran [3]: 180}.”  (Shahih Muslim Bab Itsmi Mani’iz-Zakat No. 1403)

Hadits-hadits di atas tentu saja mengerikan kecuali bagi siapa yang sudah beriman kepada Allah dan hari Akhir. Maka semua yang berharta harus waspada, sudahkah dibayarkan zakat dan infaknya? Masihkah enggan membayar zakat dan infaknya?

Dikutip dari Bulletin Dakwah At-Taubah edisi 27/Th.4/1 April 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *