MAKNA SHAUM MUHARRAM : TASU’A-ASYURA

A. Tarikh Tasyri shaum Muharram: Tasu’a-Asyura

Sebagaimana kita maklumi, bahwa Nabi Muhammad saw. hidup di Mekah—masa nubuwwah wa risaalah—selama 12 tahun, 5 bulan, 13 hari.[1] Hal ini menunjukkan bahwa selama periode Mekah, beliau telah “mengalami” bulan Muharram sebanyak 11 kali. Selama periode Mekah ini, pada bulan itu beliau melaksanakan shaum hanya satu hari pada 10 Muharram, atau yang popular disebut Shaum Asyura, sebagaimana diisyaratkan dalam hadis berikut:

عَن عَائِشَةَ رَضِي الله عَنْهَا قَالَتْ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ

Dari Aisyah, ia berkata, “Hari Asyura adalah waktunya shaum orang-orang Quraisy di zaman jahiliyah dan Rasulullah Saw. pun menshauminya.” HR. Al-Bukhari.[2]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَامَهُ وَالْمُسْلِمُونَ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ رَمَضَانُ

Dari Ibnu Umar (ia berkata), “Sesungguhnya kaum jahiliyah melakukan shaum pada hari Asyura dan sesungguhnya Rasulullah Saw. beserta kaum muslimin melaksanakan shaum itu sebelum diwajibkannya shaum Ramadhan” HR. Al-Baihaqi. [3]

Setelah datang perintah berhijrah kepada Nabi saw., maka beliau melaksanakan perintah itu dengan ditemani oleh Abu Bakar. Selanjutnya, Nabi Bersama Abu Bakar tiba di Madinah pada hari Jumat 16 Rabi’ul Awwal/28 September 622 M. Sedangkan ahli tarikh lainnya berpendapat hari Senin 12 Rabi’ul Awwal/5 Oktober 621 M. Namun ada pula yang menyatakan hari Jumat, 12 Rabi’ul Awwal/24 Maret 622 M. [4]

Terlepas dari perbedaan tanggal dan tahun, baik hijriah maupun masehi, namun para ahli tarikh semuanya bersepakat bahwa hijrah Nabi terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal, bukan bulan Muharram (awal Muharram ketika itu jatuh pada tanggal 15 Juli 622 M).

Memasuki bulan Muharram tahun ke-2 hijriah, Nabi saw. mendapati orang-orang Yahudi di Madinah melaksanakan shaum pada hari Asyura. Sehubungan dengan itu, Ibnu Abbas mengatakan:

قَدِمَ النَّبِيُّ  صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هذَا قَالُوا هذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ

Dari Ibnu Abbas berkata, Ketika Nabi Saw. tiba di Madinah, beliau medapati orang-orang Yahudi sedang melaksanakan shaum pada hari Asyura. Mereka bertanya mengenai hal itu lalu mereka berkata, “Pada hari ini Allah Swt. pernah menyelamatkan Nabi Musa dan bani Israil atas (kejaran) Fir’aun, dan kami menshauminya sebagai penghormatan.” Rasulullah Saw. menjawab, “Kamilah yang paling berhak dengan Musa daripada kamu.” HR. Al-Bukhari[5]

Perintah shaum Asyura pada masa awal hijrah itu dipertegas oleh keterangan Abu Musa sebagai berikut:

عَنْ أَبِى مُوسَى – رضى الله عنه – قَالَ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَتَتَّخِذُهُ عِيدًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: صُومُوهُ أَنْتُمْ.

Dari Abu Musa Ra., ia berkata, “Hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan dijadikan sebagai hari raya. Maka Rasulullah saw. bersabda, ‘Shaumlah kalian pada hari itu’.” HR. Muslim. [6]

Kemudian Aisyah menjelaskan:

فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ.

“Ketika difardhukan shaum Ramadhan, beliau meninggalkannya (tidak shaum). Beliau bersabda, ‘Barangsiapa hendak shaum, maka shaumlah. Dan barangsiapa hendak berbuka, maka berbukalah’.” HR. Al-Bukhari. [7]

Perkataan Aisyah di atas diperkuat oleh keterangan Ibnu Umar sebagai berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ بَعْدَمَا نَزَلَ صَوْمُ رَمَضَانَ : مَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَهُ.

“Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda—tentang shaum Asyura setelah turun kewajiban shaum Ramadhan—‘Barangsiapa hendak shaum (maka shaumlah). Dan barangsiapa hendak berbuka (maka berbukalah).” HR. Ibnu Hiban.[8]

Dari berbagai keterangan itu dapat diambil kesimpulan bahwa pada mulanya—ketika tahun pertama Nabi saw. berada di Madinah—shaum ini hukumnya wajib. Namun setelah datang kewajiban shaum bulan Ramadan pada tahun ke-2 hijrah, shaum ini beralih hukumnya menjadi sunat, dan ketika itu pelaksanaannya hanya satu hari tanggal 10 muharram.

Memasuki masa akhir periode Madinah, ketika para sahabat merasakan kurang nyaman melakukan shaum Asyura yang sama persis dilakukan oleh Yahudi dan Nasrani, Nabi saw. mencanangkan untuk melakukan pembedaan. Ibnu Abas mengatakan:

لمَاَّ صَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَ أَمَرَ بِصَيَامِهِ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ اليَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ : فَإِذَا كَانَ عَامُ الْمُقْبِلِ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا اليَوْمَ التَّاسِعَ . قَالَ : فَلَمْ يَأْتِ العَامُ المُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Ketika Rasulullah saw. melakukan Shaum Asyura dan beliau memerintah (para sahabat) untuk melakukannya. Mereka berkata, ’Wahai Rasulullah, sesungguhnya itu merupakan hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani’ Beliau menjawab, ’Nanti tahun depan (12 H) insya Allah kita akan melaksanakan shaum tanggal sembilannya’ Ia berkata, ‘Tetapi tahun depan itu belum datang Rasulullah saw. telah berpulang keharibaan-Nya (tahun 11 H).” HR. Muslim. [9]

Di dalam riwayat lain, Ibnu Abas mengatakan dengan redaksi :

قاَلَ رَسُولُ اللهِ  صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  لَئِنْ بَقَيْتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ يَعْنِي يَوْمَ عَاشُورَاءَ

Rasulullah saw, telah bersabda, ”Jika aku masih hidup sampai tahun depan (12 H), niscaya aku akan shaum tanggal sembilannya yaitu hari Asyura” HR. Ahmad dan Muslim.[10]

Rasululah saw. sendiri tidak berkesempatan melaksanakan shaum tanggal 9 Muharam di tahun itu (12 H), karena beliau wafat pada Rabi’ul Awwal 11 H. Namun, rencana beliau untuk melaksanakannya membuktikan bahwa shaum di tanggal 9 itu telah disyariatkan.

Dari keterangan tersebut jelaslah bahwa pada mulanya shaum sunat muharram hanya dilaksanakan satu hari tanggal 10 Muharram yang disebut Asyura. Namun untuk membedai kebiasaan Jahiliyah, Yahudi atau Nasrani, Rasulullah saw. memerintahkan agar kita melakukan shaum sehari sebelumnya yaitu tanggal 9 Muharam yang disebut Tasu’a. Sehingga pelaksanaan shaum sunat Muharram disyariatkan dua hari tanggal 9 dan 10 Muharam yang disebut shaum Tasu’a-Asyura.

 

Fatwa Shaum Muharram Tiga Hari (9-11) Atau 10-11

Sejarah penetapan hukum (Tarikh Tasyri’) shaum Asyura sebagaimana diterangkan di atas dengan gamblang memperlihatkan kepada kita bagaimana proses penetapan syariat shaum Asyura, yang semula hanya satu hari (tanggal 10 Muharram) kemudian berubah di akhir periode kenabian Muhammad menjadi dua hari (tanggal 9 dan 10 Muharram).

Meski begitu, terdapat sebagian ulama yang berpendapat disunnahkan shaum Muharram pada tanggal 11 bagi yang tidak sempat shaum tanggal 9-nya. Bahkan sebagian ulama lain menyatakan bahwa disunnahkan shaum tiga hari sekaligus, yaitu 9, 10 dan 11 Muharram. Jadi, jika tidak sempat tanggal 9 dan 10, maka bisa memilih tanggal 10 dan 11 untuk shaum. Benarkah pendapat ini? Hemat kami pendapat ini mengacu kepada salah satu hadis berikut ini:

صُوْمُوْا يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَخَالِفُوْا فِيْهِ اليَهُوْدَ ، صُوْمُوْا قَبْلَهُ يوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا.

“Shaumlah pada hari ‘Asyuraa (10 Muharram), dan berbedalah dengan orang-orang Yahudi, oleh karena itu shaumlah satu hari sebelumnya (9 Muharram) atau satu hari sesudahnya (11 Muharram).” HR. Ahmad. [11]

Pada hadis ini terdapat kedhaifan dari aspek sanad dan matan. Namun analisa sanad dipandang cukup memadai untuk menunjukkan kedhaifan hadis ini, dengan alasan kedaifan rawi bernama Muhammad bin Abdurahman Ibnu Abi Laila, sebagaimana dijelaskan para ulama berikut ini:

Imam Abdurrazaq (w. 211 H) menyatakan:

وَأَمَّا حَدِيْثُ (صُومُوا يَوْمًا قَبْلَهُ وَ يَوْمًا بَعْدَهُ) فَهذَا رَوَاهُ الإِمَامُ أَحْمَدُ وَمَدَارُهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِالرَّحْمنِ ابْنِ أَبِيْ لَيْلَى وَقَدْ قَالَ عَنْهُ الإِمَامُ أَحْمَدُ كَانَ سَيِّءَ الْحِفْظِ مُضْطَرِبَ الْحَدِيْثِ وَأَيْضًا قَدْ خُوْلِفَ فِي إِسْنَادِهِ فَالْخَبَرُ مُنْكَرٌ وَلاَيَصِحُّ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ رَغِبَ بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ فِي عَاشُوْرَاءَ وَإِنَّمَا جَاءَتْ فَضِيْلَةُ صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ بِأَدِلَّةٍ عَامَّةٍ لاَتُخْتَصُّ بِشَهْرِ اللهِ الْمُحَرَّمِ . وَكَذلِكَ الْحَدِيْثُ الآخَرُ (صُومُوا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ) هذَا الْخَبَرُ مُنْكَرٌ

“Adapun hadis: ‘Shaumlah satu hari sebelumnya (9 Muharram) dan satu hari sesudahnya (11 Muharram).’ Maka ini riwayat Imam Ahmad, dan jalur periwayatannya berporos pada Muhammad bin Abdurahman Ibnu Abi Laila, dan sungguh Imam Ahmad telah mengomentarinya, ‘Dia buruk hapalan, hadisnya goncang.’ Selain itu terjadi pertentangan dalam sanadnya. Maka hadis itu munkar, dan tidak shahih bersumber dari Nabi bahwa beliau menganjurkan shaum tiga hari pada Asyura. Keutamaan shaum tiga hari diriwayatkan berdasarkan dalil-dalil umum yang tidak dikhususkan pada bulan Muharram. Begitu pula hadis lain (dengan menggunakan kata aw/atau): ‘‘Shaumlah satu hari sebelumnya atau satu hari sesudahnya.’ Hadis ini munkar.” [12]

Selanjutnya, Imam Abdurrazaq mencantumkan hadis shahih dari Ibnu Abbas, yang menyatakan:

(صُومُوا التَاسِعَ مَعَ العَاشِرِ) وَهذَا هُوَ الْمَحْفُوْظُ

“Shaumlah kalian pada hari yang kesembilan bersama kesepuluh dan.” Dan (Imam Abdurazaq mengatakan) Inilah yang terpelihara (shahih).” [13]

Sehubungan dengan itu, Imam Asy-Syawkani berkata:

رِوَايَةُ أَحْمَدَ هَذِهِ ضَعِيفَةٌ مُنْكَرَةٌ مِنْ طَرِيقِ دَاوُدَ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ رَوَاهَا عَنْهُ اِبْنُ أَبِي لَيْلَى ، قَالَ : وَقَدْ أَخْرَجَهُ بِمِثْلِهِ الْبَيْهَقِيُّ وَذَكَرَهُ فِي التَّلْخِيصِ وَسَكَتَ عَنْهُ اِنْتَهَى

“Riwayat Ahmad munkar dari jalur Dawud bin Ali, dari bapaknya, dari kakeknya, diriwayatkan dari Dawud bin Ali oleh Ibnu Abu Laila.” Ia berkata pula, “Hadis semisal diriwayatkan pula oleh Al-Baihaqi dan menyebutkannya dalam kitab At-Talkhis, dan ia tidak berkomentar apapun terhadapnya.”[14]

Hadis ini dinilai dhaif pula oleh Imam Adz-Dzahabi[15], Al-Haitsami[16], Imam Abdurrauf Al-Munawi,[17] dan Syekh Al-Albani. [18]

Dengan demikian, mengamalkan shaum Muharram sebanyak tiga hari (tanggal 9, 10, 11) atau tanggal 10 dan 11 Muharram hukumnya menyalahi Sunnah Nabi saw., bahkan dinilai bid’ah oleh sebagian ulama.

Fatwa Shaum Muharram Setiap Hari (Sebulan Penuh)

Selain itu, terdapat pula pendapat bahwa pada Muharram disunnahkan shaum mutlak tanpa Batasan jumlah hari, bahkan dibolehkan shaum setiap hari sebulan penuh. [19] Pendapat demikian konon berlandaskan dalil berikut ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ : أَيُّ الصَّلَاةِ أَفْضَلُ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ ؟ قَالَ :  الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ . قَالَ : فَأَيُّ الصِّيَامِ أَفْضَلُ بَعْدَ رَمَضَانَ ؟ قَالَ : شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ – رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ إلَّا الْبُخَارِيَّ

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah saw. Ditanya, ‘Shalat apa yang paling utama setelah fardhu?’ Beliau bersabda, ‘Shalat di akhir malam.’ Ia bertanya lagi, ‘Shaum apa yang paling utama setelah shaum Ramadlan?’ Beliau bersabda, ‘Bulan Allah Muharram’.” HR. Al-Jamaah kecuali Al-Bukhari. [20]

Dalam riwayat Imam Muslim dengan redaksi:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Shaum yang paling utama setelah Ramadlan ialah bulan Allah Muharram, dan shalat paling utama sesudah shalat Fardlu ialah shalat malam.” HR. Muslim.[21]

Benarkah hadis itu menunjukkan pada Muharram disunnahkan shaum mutlak tanpa batasan jumlah hari?

Para ulama sepakat mengenai kesahihan dalil-dalil tentang keutaman shaum bulan Muharram, namun persoalan terletak pada aspek pengambilan dalil (wajh ad-dalaalah) dan metode istinbat dari hadis-hadis tersebut, sehingga mengakibatkan perbedaan dalam penetapan hukum. Perbedaan dimaksud bukan soal shaum khusus Muharram, melainkan dalam konteks:

 

    1. Apakah hadis itu menunjukkan disyariatkan pelaksanaan shaum tathawwu’ sepanjang hari selama satu bulan penuh pada bulan Muharram, sehingga tidak ada hari yang kosong dari shaum, seperti diisi dengan Shaum Dawud, Senin-Kamis, 3 hari setiap bulan (tanggal 13-15), di samping 9-10 Muharam.

 

    1. Ataukah hadis itu menunjukkan anjuran memperbanyak shaum tathawwu’ tersebut pada sebagian besar hari di bulan Muharram, bukan shaum selama satu bulan penuh

 

    1. Ataukah hadis itu menunjukkan bahwa shaum di bulan Muharram itu maksudnya 9-10 Muharram (Tasu’a-Asyura)

 

Adapun jika dipahami bahwa maksud hadis itu adalah shaum khusus Muharram selama satu bulan penuh, maka tidak satu pun ulama yang berpendapat demikian.

Pandangan Ulama Soal Dalaalah Hadis Syahrullaah Al-Muharram

Sebagian ulama berpendapat bahwa hadis itu menunjukkan disyariatkan shaum selama bulan Muharram, yaitu melaksanakan berbagai shaum tathawwu’ di samping 9-10 Muharam.

قَالَ الْقَارِئُ الظَّاهِرُ أَنَّ الْمُرَادَ جَمِيعُ شَهْرِ الْمُحَرَّمِ – قُلْتُ الْأَمْرُ كَمَا قَالَ الْقَارِئُ

Imam Al-Qari berkata, “Makna zhahir hadis itu bahwa yang dimaksud adalah seluruh hari pada bulan Muharam.” Saya (Imam Al-Mubarakafuri) berpendapat, “Perkara itu sebagaimana dikatakan oleh Al-Qari.”[22]

قَالَ السِّنْدِيُّ: قَوْلُهُ (شَهْرُ اللهِ) أَيْ صِيَامُ شَهْرِ اللهِ وَالْإِضَافَةُ إِلَى اللهِ لِلتَّشْرِيْفِ وَقِيلَ الْمُرَادُ يَوْمُ عَاشُورَاءَ قُلْتُ فِي التِّرْمِذِيّ عَنْ عَلِيٍّ مَرْفُوعًا مَا يُفِيْدُ أَنَّ الْمُرَادَ تَمَامُ الشَّهْرِ

Imam As-Sindi berkata, “Sabda beliau: ‘Syahrullaah’ yaitu shaum pada bulan Allah (Muharam), dan bulan Muharam disandarkan kepada Allah untuk memuliakan. Ada yang berpendapat bahwa maksudnya adalah hari Asyura. Saya berpendapat, ‘Pada riwayat At-Tirmidzi, dari Ali secara marfu’ terdapat keterangan yang berfaidah bahwa yang dimaksud adalah sebulan penuh.”[23]

Namun, ulama lain berpendapat bahwa hadis itu menunjukkan anjuran memperbanyak shaum di bulan Muharram, bukan shaum selama satu bulan penuh. Pasalnya, Nabi saw. tidak pernah shaum sebulan penuh selain di bulan Ramadhan sebagaimana dinyatakan oleh Aisyah:

وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِى شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِى شَعْبَانَ.

“Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. menyempurnakan shaum selama sebulan penuh kecuali shaum Ramadhan dan aku tidak pernah melihat Beliau paling banyak melaksanakan shaum (sunnat) kecuali di bulan Sya’ban.” HR. Muslim.[24]

Imam Muslim meriwayatkan pula dengan redaksi:

وَمَا صَامَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا إِلَّا رَمَضَانَ

“Dan beliau juga tidak pernah bershaum sebulan penuh secara turut berturut selain bulan Ramadhan.” [25]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا هَلْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا مَعْلُومًا سِوَى رَمَضَانَ قَالَتْ وَاللَّهِ إِنْ صَامَ شَهْرًا مَعْلُومًا سِوَى رَمَضَانَ حَتَّى مَضَى لِوَجْهِهِ وَلَا أَفْطَرَهُ حَتَّى يُصِيبَ مِنْهُ

Dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah Ra, ‘Apakah Nabi saw. pernah bershaum selama satu bulan penuh yang diketahui selain di bulan Ramadlan?’ Aisyah menjawab, ‘Demi Allah, beliau belum pernah bershaum sebulan penuh yang diketahui selain bulan Ramadlan hingga beliau wafat, dan beliau juga belum pernah berbuka terus menerus (maksudnya tidak shaum—pen) sebulan penuh di luar Ramadhan, hingga ada di antaranya yang beliau isi dengan shaum.” [26]

Pernyataan senada disampaikan pula oleh Ibnu Abbas:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ وَمَا صَامَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا إِلَّا رَمَضَانَ مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah saw. bershaum hingga kami mengatakan bahwa beliau selalu bershaum. Beliau juga berbuka hingga kami mengatakan bahwa beliau selalu berbuka. Dan sejak datang ke Madinah beliau tidak pernah bershaum sebulan penuh berturut-turut selain bulan Ramadhan. ” HR. Ibnu Majah. [27]

Sementara ulama lainnya berpendapat bahwa kalimat Syahrullaah Al-Muharram pada hadis itu maksudnya shaum hari Asyura.

قَالَ الطِّيبِيُّ أَرَادَ بِصِيَامِ شَهْرِ اللَّهِ صِيَامَ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ انتهى. فَيَكُوْنُ مِنْ بَابِ ذِكْرِ الْكُلِّ وَإِرَادَةِ الْبَعْضِ

Imam Ath-Thibiy berkata, “Maksud beliau dengan Shaum Syahrullaah adalah shaum hari Asyura.” Selesai. Maka hadis itu termasuk tema menyebut keseluruhan namun maksudnya sebagian.[28]

قَالَ السِّنْدِيُّ: قَوْلُهُ (شَهْرُ اللهِ) أَيْ صِيَامُ شَهْرِ اللهِ قِيلَ وَالْمُرَادُ صَوْمُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ لَا صَوْمُ الشَّهْرِ كُلِّهِ

Imam As-Sindi berkata, “Sabda beliau: ‘Syahrullaah’ yaitu shaum pada bulan Allah (Muharam), dan ada yang berpendapat bahwa maksudnya adalah shaum hari Asyura, bukan shaum sebulan penuh.”[29]

Pendapat ini selain dikuatkan oleh berbagai riwayat tentang tarikh Tasyri shaum Muharram—sebagaimana dijelaskan di awal bahwa Nabi saw. hanya shaum 9-10 Muharam sepanjang hidupnya—juga merujuk kepada penjelasan Ibnu Abbas sebagai berikut:

عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي يَزِيدَ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَسُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا عَلِمْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَ يَوْمًا يَطْلُبُ فَضْلَهُ عَلَى الْأَيَّامِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ وَلَا شَهْرًا إِلَّا هَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي رَمَضَانَ

Dari Ubaidullah bin Abu Yazid, ia mendengar Ibnu Abbas Ra., tatkala ditanya mengenai shaum di hari ‘Asyura`. Maka ia menjawab, “Setahu saya, Rasulullah saw. tidak pernah bershaum pada hari tertentu untuk mengharap keutamaan atas hari-hari lain selain hari ini (Asyura) dan tidak pula bulan tertentu, kecuali bulan ini, yakni bulan Ramadhan.” HR. Muslim. [30]

Dalam riwayat Imam Al-Bukhari dengan redaksi:

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ

“Aku tidak pernah melihat Nabi saw. sengaja shaum pada suatu hari yang Beliau istimewakan dibanding hari-hari lainnya kecuali hari ‘Asyura’ dan bulan ini, yaitu bulan Ramadhan.”[31]

Pernyataan Ibnu Abbas dapat digunakan sebagai indikasi terpisah (qarinah munfasilah) bahwa kalimat Syahrullaah Al-Muharram maksudnya shaum hari Asyura.

Dalalaah Hadis Ibnu Umar dan Hamzah Al-Aslamiy

Fatwa bahwa pada Muharram disunnahkan shaum mutlak tanpa batasan jumlah hari, selain berhujjah dengan hadis Syahrullaah Al-Muharram—yang tidak tepat pemahaman—berhujjah pula dengan hadis Ibnu Umar dan Hamzah Al-Aslamiy, yang juga tidak tepat sasaran. Adapun hadis dimaksud sebagai berikut:

 

 

    1. Hadis Ibnu Umar

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ مَوْلَى أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِى بَكْرٍ وَكَانَ خَالَ وَلَدِ عَطَاءٍ قَالَ أَرْسَلَتْنِى أَسْمَاءُ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ فَقَالَتْ بَلَغَنِى أَنَّكَ تُحَرِّمُ أَشْيَاءَ ثَلاَثَةً الْعَلَمَ فِى الثَّوْبِ وَمِيثَرَةَ الأُرْجُوَانِ وَصَوْمَ رَجَبٍ كُلِّهِ. فَقَالَ لِى عَبْدُ اللَّهِ أَمَّا مَا ذَكَرْتَ مِنْ رَجَبٍ فَكَيْفَ بِمَنْ يَصُومُ الأَبَدَ وَأَمَّا مَا ذَكَرْتَ مِنَ الْعَلَمِ فِى الثَّوْبِ فَإِنِّى سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ إِنَّمَا يَلْبَسُ الْحَرِيرَ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ. فَخِفْتُ أَنْ يَكُونَ الْعَلَمُ مِنْهُ وَأَمَّا مِيثَرَةُ الأُرْجُوَانِ فَهَذِهِ مِيثَرَةُ عَبْدِ اللَّهِ فَإِذَا هِىَ أُرْجُوَانٌ.

Dari Abdullah, mantak budak dari Asma’ binti Abu Bakar—dan  ia juga adalah paman anaknya ‘Atha—ia berkata, “Asma pernah menyuruh saya untuk menemui Abdullah bin Umar agar menyampaikan pesannya yang berbunyi, ‘Telah sampai kepada saya bahwa, engkau telah mengharamkan tiga hal; pakaian yang terbuat dari campuran sutera, pelana sutera yang berwarna merah tua, dan shaum di bulan Rajab seluruhnya.’ Abdullah bin ‘Umar berkata kepadaku, ‘Mengenai shaum di bulan Rajab yang telah kamu singgung tadi, maka bagaimana dengan orang yang shaum selama-lamanya?’ Adapun mengenai campuran sutera pada pakaian, maka sebenarnya aku pernah mendengar Umar bin Khaththab berkata, ‘Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya orang yang memakai kain sutera, niscaya ia tidak akan mendapat bagian di akhirat kelak.’ Oleh karena itu, saya khawatir kalau-kalau sutera pada kain itu termasuk bagian darinya. Sedangkan mengenai pelana sutera yang berwarna merah tua, maka itu adalah kasur ‘Abdullah yang ternyata berwarna merah tua’.’ HR. Muslim. [32]

Beristidlaal dengan kalimat Ibnu Umar: “maka bagaimana dengan orang yang shaum selama-lamanya?’” sebagai dalil disunnahkan shaum mutlak tanpa batasan jumlah hari pada Muharram tentu saja tidak tepat sasaran, karena selain keluar dari konteks Muharram (out off context) juga tidak menunjukkan shaum mutlak tanpa batasan jumlah hari di luar shaum-shaum tathawwu’ yang telah disyariatkan. Sehubungan dengan itu, Imam An-Nawawi berkata:

أَمَّا جَوَابُ ابْنِ عُمَرَ فِي صَوْمِ رَجَبٍ فَإِنْكَارٌ مِنْهُ لِمَا بَلَغَهُ عَنْهُ مِنْ تَحْرِيْمِهِ، وَإِخْبَارٌ بِأَنَّهُ يَصُومُ رَجَبًا كُلَّهُ، وَأَنَّهُ يَصُومُ الْأَبَدَ. وَالْمُرَادُ بِالْأَبَدِ مَا سِوَى أَيَّامِ الْعِيْدَيْنِ وَالتَّشْرِيقِ

“Adapun jawaban Ibnu Umar tentang shaum Rajab, maka itu pengingkaran darinya terhadap berita yang menyebutkan bahwa ia mengharamkannya dan pemberitahuan bahwa ia shaum Rajab sepenuhnya, dan ia shaum sepanjang hayatnya (Al-Abad), dan yang dimaksud al-Abad selain hari Iedul Fitri, Adha, dan hari-hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah).” [33]

2. Hadis Hamzah Al-Aslamiy

عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها أَنَّ حَمْزَةَ بْنَ عَمْرٍو الأَسْلَمِىَّ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى رَجُلٌ أَسْرُدُ الصَّوْمَ. أَفَأَصُومُ فِى السَّفَرِ قَالَ صُمْ إِنْ شِئْتَ وَأَفْطِرْ إِنْ شِئْتَ

Dari Aisyah Ra. Bahwa Hamzah bin Amr Al-Aslamiy bertanya kepada Rasulullah saw, ‘Wahai Rasulullah, saya seorang laki-laki yang kuat shaum, apakah aku harus shaum dalam perjalanan?’ Beliau menjawab, ‘Shaumlah jika kamu mau, dan berbukalah jika kamu ingin berbuka.” HR. Muslim. [34]

Beristidlaal dengan kalimat “Aku orang yang kuat shaum (Asrudu Ash-Shiyaam)” sebagai dalil disunnahkan shaum mutlak tanpa batasan jumlah hari pada Muharram tentu saja tidak tepat sasaran, karena selain keluar dari konteks Muharram (out off context), kalimat itu juga tidak menunjukkan shaum mutlak selama hayat tanpa batas. Hadis Hamzah Al-Aslamiy riwayat Al-Bukhari mengkonfirmasi hal itu:

أَنَّ حَمْزَةَ بْنَ عَمْرٍو الْأَسْلَمِيَّ قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَأَصُومُ فِي السَّفَرِ وَكَانَ كَثِيرَ الصِّيَامِ فَقَالَ إِنْ شِئْتَ فَصُمْ وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ

“Bahwa Hamzah bin ‘Amr Al Aslamiy berkata kepada Nabi saw, ‘Apakah aku boleh shaum saat bepergian?’—dan ia adalah orang yang banyak shaum—maka  Beliau menjawab, ‘Jika kamu mau shaumlah dan jika kamu mau berbukalah’.” [35]

Konfirmasi itu ditegaskan pula oleh para ulama sebagai berikut:

قَوْلُهُ: إِنِّى رَجُلٌ أَسْرُدُ الصَّوْمَ قَالَ الْحَافِظُ: أَيْ أُتَابِعُهُ. وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى أَنْ لَا كَرَاهِيَةَ فِي صِيَامِ الدَّهْرِ وَلَا دَلَالَةَ فِيهِ؛ لِأَنَّ التَّتَابُعَ يَصْدُقُ بِدُونِ صَوْمِ الدَّهْرِ فَإِنْ ثَبَتَ النَّهْيُ عَنْ صَوْمِ الدَّهْرِ لَمْ يُعَارِضُهُ هَذَا الْإِذْنُ بِالسَّرْدِ بَلِ الْجَمْعُ بَيْنَهُمَا وَاضِحٌ

“Perkataannya: ‘saya seorang laki-laki yang kuat shaum’ Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, ‘Maknanya saya mengerjakannya berturut-turut’ dan diambil dalil dengannya bahwa shaum sepanjang hayat tidak dibenci, padahal pada kalimat itu tidak ada petunjuk tentang itu, karena berturut-turut benar adanya bukan shaum sepanjang hayat. Maka jika larangan shaum sepanjang hayat itu shahih tentu saja tidak bertentangan dengan izin pelaksanaan berturut-turut ini, bahkan mengkompromikan keduanya sangat jelas.” [36]

Komentar senada disampaikan pula oleh Imam As-Sindiy berkenaan dengan sabda Nabi saw. berikut:

( لَا صَوْمَ فَوْقَ صَوْمِ دَاوُدَ شَطْرَ الدَّهْرِ)

“’Tidak ada shaum—yang kebaikannya—melebihi  shaum Nabi Dawud, itu dihitung setengah masa.”

Imam As-Sindiy berkata:

ثُمَّ ظَاهِرُ الْحَدِيثِ أَنَّ صَوْمَ دَاوُدَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ مُطْلَقًا أَيْ سَوَاءٌ بِكَرَاهَةِ صَوْمِ الدَّهْرِ أَمْ لَا ثُمَّ الْأَحَادِيثُ تُفِيْدُ كَرَاهَةَ صَوْمِ الدَّهْرِ وَمَا جَاءَ مِنْ تَقْرِيْرِهِ صَلَّى اللَّه تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَنْ قَالَ إِنِّي رَجُلٌ أَسْرُدُ الصَّوْمَ لَا يَدُلُّ عَلَى خِلَافٍ إِذْ لَا يَلْزَمُ مِنَ السَّرْدِ كَوْنُهُ يَصُومُ الدَّهْرَ بِتَمَامِهِ فَلْيَتَأَمَّلْ .

“Selanjutnya, zahir hadis bahwa shaum Dawud adalah shaum paling utama secara umum, yaitu sama saja apakah shaum sepanjang hayat dibenci ataukah tidak, kemudian berbagai hadis itu memberi faidah shaum sepanjang hayat dibenci. Sementara hadis tentang taqrir Nabi saw. pada orang yang mengatakan: ‘saya seorang laki-laki yang kuat shaum’ tidak menunjukan pertentangan, karena perkataan ‘kuat (sard)’ tidak memestikan ia akan shaum sepanjang hayat secara paripurna. Hendaklah direnungkan!” [37]

Pernyataan tidak kalah tegas disampaikan pula oleh Imam Al-Mubarakafuriy:

قُلْتُ فِي الِاسْتِدْلَالِ بِهَذَا الْحَدِيثِ عَلَى عَدَمِ كَرَاهَةِ صَوْمِ الدَّهْرِ نَظْرًا لِأَنَّهُ يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ مِنْ قَوْلِهِ إِنِّي رَجُلٌ أَسْرُدُ الصَّوْمَ أَيْ أُكْثِرُ الصِّيَامَ كَمَا يَدُلُّ عَلَيْهِ قَوْلُهُ وَكَانَ كَثِيرَ الصِّيَامِ فَمَا لَمْ يَنْتِفِ هَذَا الِاحْتِمَالُ لَا يَتِمُّ الْاِسْتِدْلَالُ

“Saya berpendapat, dalam pengambilan dalil dengan hadis ini bahwa shaum sepanjang hayat tidak dibenci perlu ditinjau kembali, karena perkataannya: ‘saya seorang laki-laki yang kuat shaum’ dimungkinkan maksudnya: ‘Saya memperbanyak shaum’, sebagimana ditunjuki oleh perkataan: ‘Dan ia banyak melaksanakan shaum’ Jadi, selama kemungkinan ini tidak dapat dinegasikan, maka istidlaal itu tidak lengkap.” [38]

Dari berbagai dalil dan pendapat para ulama di atas, kami berkecenderungan untuk menetapkan kesimpulan bahwa:

 

    1. Hadis Syahrullaah Al-Muharram bukan dalil disyariatkan shaum khusus bulan Muharram selama satu bulan penuh, namun ajuran memperbanyak shaum di bulan Muharram dengan berbagai shaum tathawwu’, seperti Shaum Dawud, Senin-Kamis, 3 hari setiap bulan (tanggal 13-15), di samping 9-10 Muharam.

 

    1. Shaum yang disyariatkan secara khusus berkenaan dengan Muharram hanya tanggal 9 dan 10 Muharam yang disebut shaum Tasu’a-Asyura.

 

    1. Pendapat bahwa pada Muharram disunnahkan shaum mutlak tanpa batasan jumlah hari merupakan pendapat yang lemah karena tidak berdalil, baik tersurat (mantuq) maupun tersirat (mafhum).

***

Penulis: Santri Ibnu Hajar Kelas ‘Ulum Al-Hadits

 

[1]Terhitung sejak masa bi’tsah (pengangkatan Nabi & Rasul) tanggal 17 atau 25 Ramadhan tahun ke-41 dari kelahiran Nabi, bertepatan dengan 6 atau 14 Agustus 610 M, hingga 1 Rabi’ul Awwal tahun ke-54 dari tahun kelahirannya atau tahun 13 kenabian, bertepatan dengan 13 September 622 M.

[2]Lihat, Shahih Al-Bukhari, II:704, No. 1898.

[3]Lihat, as-Sunan al-Kubra, IV:289, No. 8195.

[4]Imam at-Thabari dan Ibnu Ishaq menyatakan, “Sebelum sampai di Madinah (waktu itu bernama Yatsrib), Rasulullah saw. singgah di Quba pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal tahun 13 kenabian/24 September 622 M  waktu Dhuha (sekitar jam 8.00 atau 9.00). Di tempat ini, beliau tinggal di keluarga Amr bin Auf selama empat hari (hingga hari Kamis 15 Rabi’ul Awwal/27 September 622 M. dan membangun mesjid pertama (yang disebut mesjid Quba). Pada hari Jumat 16 Rabi’ul Awwal/28 September 622 M, beliau berangkat menuju Madinah. Di tengah perjalanan, ketika beliau berada di Bathni wadin (lembah di sekitar Madinah) milik keluarga Banu Salim bin ‘Auf, datang kewajiban Jumat (dengan turunnya ayat 9 surat al-Jum’ah). Maka Nabi salat Jumat bersama mereka dan khutbah di tempat itu. Inilah salat Jumat yang pertama di dalam sejarah Islam. Setelah melaksanakan salat Jumat, Nabi melanjutkan perjalanan menuju Madinah”. (Lihat,Tarikh at-Thabari, I:571; Sirah Ibnu Hisyam, juz III, hal. 22; Tafsir al-Qurthubi, juz XVIII, hal. 98).

[5]Lihat, Shahih al-Bukhari, II:704, No. 1900.

[6] Lihat, Shahih Muslim, II:796, No. 1131.

[7] Lihat, Shahih al-Bukhari, III:1434, No. 3727.

[8] Lihat, Shahih Ibnu Hiban, VIII:387, No. 3622.

[9] HR. Muslim, Shahih Muslim, II:797, No. 1134;  Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, II:327, No. 2445.

[10] HR. Ahmad, Musnad Ahmad, I:224, No. 344; Muslim, Shahih Muslim, II:798, No. 1135.

[11] Lihat, Musnad Ahmad, I:241, No. 2154.

[12] Lihat, Syarh Al-Bulugh, dinisbatkan kepada Imam Abdurrazaq, hlm. 47.

[13] Ibid.

[14] Lihat, Tuhfah Al-Ahwadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi, III:384.

[15] Lihat, Mizan al-I’tidal, II:13.

[16] Lihat, Majma’ Az-Zawa’id, III:188.

[17] Lihat, Faidh Al-Qadir Syarh al-Jami’ As-Shagir, IV:284.

[18] Lihat, Dha’if al-Jami’ Ash-Shagir, hlm. 286.

[19] Lihat, Majalah Risalah, Rubrik Syarah Hadits, Edisi No.8/TH 56/September 2018, hlm. 45; Buletin Dakwah At-Taubah, Edisi 49/Th.6/7 September 2018, hlm. 4

[20] Lihat, Bustaan Al-Ahbar Mukhtashar Nail Al-Awthar, II: 1.

[21] Lihat, Shahih Muslim, II: 821, No. 1163

[22] Lihat, Tuhfah Al-Ahwadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi, II: 425

[23] Lihat, Hasyiah As-Sindiy ‘Ala Sunan Ibn Majah, IV:3

[24] Lihat, Shahih Muslim, II: 811, No. 1156

[25] Lihat, Shahih Muslim, I: 515, No. 746

[26] Lihat, Shahih Muslim, II: 810, No. 1156. Diriwayatkan pula oleh An-Nasai, Sunan An-Nasai, IV:152, No. 2185 dan Ath-Thabrani, dengan tambahan redaksi: hingga datang ke Madinah (Hattaa qadimal Madiinah). Lihat, Al-Mu’jam Al-Awsath, I: 292, No. 960

[27] Lihat, Sunan Ibnu Majah, I: 546, No. 1711. Diriwayatkan pula oleh An-Nasai, As-Sunan Al-Kubra, II: 119, No. 2655, Sunan An-Nasai, IV: 199, No. 2346, Ahmad, Musnad Ahmad, I: 227, No. 1998, I:241, No. 2151, dan Abu Dawud Ath-Thayalisiy, Musnad Ath-Thayalisiy, I: 342, No. 2626 dengan sedikit perbedaan redaksi

[28] Lihat, Misykaat Al-Mashaabih, VII: 89. Lihat pula keterangan Imam As-Sindy dengan sedikit perbedaan redaksi (Syarh Sunan Ibn Majah, hlm. 125)

[29] Lihat, Hasyiah As-Sindiy ‘Ala Sunan An-Nasai, III:207

[30] Lihat, Shahih Muslim, II: 797, No. 1132

[31] Lihat, Shahih Al-Bukhari, II: 705, No. 1902

[32] Lihat, Shahih Muslim, III: 1641, No. 2069

[33]Lihat, Syarah An-Nawawi ‘Ala Muslim, VII: 145

[34]Lihat, Shahih Muslim, II: 789, No. 1121

[35]Lihat, Shahih Al-Bukhari, II: 686, No. 1841. Hadis ini diriwayatkan pula oleh An-Nasai, As-Sunan Al-Kubra, II: 110, No. 2614, Sunan An-Nasai, IV: 187, No. 2306, dan Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, IV: 234, No. 7945

[36]Lihat, Fath Al-Bari, IV: 180, dikutip pula oleh Imam Syamsul Haq Abadiy dalam Awn Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, VII:39

[37]Lihat, Hasyiah As-Sindiy ‘Ala An-Nasai, IV: 217

[38]Lihat, Tuhfah Al-Ahwadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi, III:326.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *