LIHATLAH ORANG LAIN!

Oleh: KH Rahmat Najieb
(Dewan Syariah Pusat Zakat Umat)

Ada tips dari Rasulullah Saw. saat kita ditimpa musibah atau mendapatkan nasib buruk, yaitu jangan memandang orang yang lebih baik dari kita. Tetapi, pandanglah orang yang lebih sengsara. Sabda Rasul,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Lihatlah orang yang lebih rendah keadaannya darimu, janganlah kamu memandang orang yang lebih baik nasibnya darimu. Hal itu akan lebih layak agar kamu tidak menghilangkan nikmat Allah kepadamu”. (HR Muslim dari Abu Hurairah)
Lihatlah pasti ada orang yang lebih sengsara dan menderita dari kita. Tentu ada orang yang lebih sakit dari kita. Kita bisa jadi termasuk orang yang beruntung jika dibandingkan dengan tunanetra, tunarungu, tunawisma, tunagrahita.
Jika merasa hidup kita sengsara, maka masih ada yang lebih sengsara, untung kita masih hidup, karena orang lain mah meninggal. Jika kerabat kita yang meninggal, untung masih ada jasadnya, karena ada yang mati tetapi tidak ditemukan jasadnya, atau badannya hancur. Dalam urusan kehidupan dunia, kita tidak dapat bersaing, karena yang menentukan adalah Allah Swt. Yang harus menjadi harapan dan andalan adalah amal ibadah yang ikhlas karena Allah. Kita harus berlomba dengan orang-orang yang saleh. Karena itu, dalam urusan ketaatan kepada agama dan ketakwaan kepada Allah, kita harus melihat yang lebih berkualitas dari kita. Misalnya, merasa iri karena orang lain lebih rajin salat berjamaah di masjid atau lebih sering bersedekah.
Abu Hurairah bercerita, pada suatu saat datanglah kaum fuqara kepada Nabi Saw., seraya berkata, “orang-orang kaya mendapat derajat yang tinggi dan kenikmatan yang tetap; mereka salat dan shaum seperti kami, tetapi mereka mempunyai kelebihan harta, sehingga dapat menunaikan haji, umrah, berjihad, dan bersedekah.” Sabda Rasulullah Saw,

« أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ بِأَمْرٍ إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ أَدْرَكْتُمْ مَنْ سَبَقَكُمْ وَلَمْ يُدْرِكْكُمْ أَحَدٌ بَعْدَكُمْ ، وَكُنْتُمْ خَيْرَ مَنْ أَنْتُمْ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِ ، إِلاَّ مَنْ عَمِلَ مِثْلَهُ تُسَبِّحُونَ وَتَحْمَدُونَ ، وَتُكَبِّرُونَ خَلْفَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ » فَاخْتَلَفْنَا بَيْنَنَا فَقَالَ بَعْضُنَا نُسَبِّحُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَنَحْمَدُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَنُكَبِّرُ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ فَرَجَعْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ تَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ حَتَّى يَكُونَ مِنْهُنَّ كُلِّهِنَّ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ

Maukah aku ceritakan kepadamu tentang perkara jika kamu melakukannya, kamu pasti akan melebihi orang yang telah mendahuluimu, setelah itu tidak ada lagi orang yang dapat menyusulmu. Dan kamu menjadi orang yang terbaik di kalanganmu sendiri, kecuali orang yang melakukan hal sama, yaitu ber-tasbih, tahmid, dan takbir 33 kali setelah salat.”
Abu Dzar ra. bertanya kepada Rasulullah Saw, “dari mana kami harus sedekah, padahal tidak punya harta?” Jawab Rasulullah Saw,

« لأَنَّ مِنْ أَبْوَابِ الصَّدَقَةِ التَّكْبِيرَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَتَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَتَعْزِلُ الشَّوْكَةَ عَنْ طَرِيقِ النَّاسِ وَالْعَظْمَ وَالْحَجَرَ وَتَهْدِى الأَعْمَى وَتُسْمِعُ الأَصَمَّ وَالأَبْكَمَ حَتَّى يَفْقَهَ وَتَدُلُّ الْمُسْتَدِلَّ عَلَى حَاجَةٍ لَهُ قَدْ عَلِمْتَ مَكَانَهَا وَتَسْعَى بِشِدَّةِ سَاقَيْكَ إِلَى اللَّهْفَانِ الْمُسْتَغِيثِ وَتَرْفَعُ بِشِدَّةِ ذِرَاعَيْكَ مَعَ الضَّعِيفِ كُلُّ ذَلِكَ مِنْ أَبْوَابِ الصَّدَقَةِ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ وَلَكَ فِى جِمَاعِكَ زَوْجَتَكَ أَجْرٌ ».

Karena sesungguhnya di antara pintu sedekah adalah mengucapkan takbir, subhanallah, alhamdulillah, laa ilaha Illallah, astaghfirullah, amar ma’ruf nahyu munkar, menyingkirkan duri dari jalan, tulang, batu, menuntun yang buta, memberi pemahaman kepada yang tuli dan bisu sehingga mengerti, menunjukkan jalan orang yang tidak tahu jalan sedang kamu tahu tempatnya, kamu berusaha mengerahkan kaki dan tanganmu untuk membantu orang yang membutuhkan dan orang yang lemah. Itu semua dari pintu-pintu sedekah darimu untukmu. Kamu juga akan punya pahala dari menggauli istrimu.” (HR.Ahmad)
Biasanya orang yang rajin menyapu jalan, menyingkirkan duri, membuang sampah, melakukan yang kotor adalah orang miskin, tetapi penghasilannya sangat minim. Orang yang sengsara itu banyak pahalanya, karena lebih banyak kerjanya daripada orang kaya, asal ia sabar, berprasangka baik kepada Allah dan ikhlas dalam beramal.
Wallahu A’lam bis Shawab,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *