KONSEP REZEKI DALAM ISLAM

Oleh:
Dr. Tiar Anwar BAchtiar, M.Hum

Dalam berbagai hadis dijelaskan bahwa siapa saja yang berpangku tangan, tidak bekerja karena malas, mereka tidak disenangi Allah Swt. Allah Swt. memerintahkan setiap hamba-Nya untuk bekerja menjemput rezeki yang telah disediakan-Nya. Bahkan, tanpa diperintah pun, manusia secara naluriah banyak yang melakukan pekerjaan apa saja. Hanya saja, saat manusia bekerja, lalu mendapatkan rezeki banyak yang mengira bahwa rezekinya itu adalah hasil jerih payahnya. Alhasil, banyak orang yang menjadi sombong atas apa yang dikerjakan dan didapatnya. Padahal, Allah Swt., selain memerintahkan bekerja, juga menjelaskan mengenai hakikat rezeki itu apa.
Penting dalam hal ini, kita memperjelas bagaimana konsep rezeki menurut Islam berdasarkan petunjuk al-Quran dan al-Hadis. Kalau konsep ini belum dipahami dengan baik, maka kita juga tidak akan bisa memahami dengan baik fitrah penciptaan dan rubûbiyyah Allah dalam masalah rezeki. Sebaliknya, kalau konsep ini dipahami dan kemudiaan diimani dengan baik, siapapun orangnya akan menjadi tenang sekaligus akan mendorongnya bersyukur dan mengabdi pada-Nya.
Konsep rezeki dalam Islam dimulai dengan firman Allah berikut.,

وَمَامِن دَآبَّةٍ فِي اْلأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Hûd [11]:6)
Firman Allah ini mengatakan dengan tegas dan jelas bahwa rezeki pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh manusia. Rezeki adalah hak Allah yang pasti akan ia tunaikan pada manusia. Manusia sama sekali tidak bisa menentukan seberapa besar, apa, dan bagaimana rezeki itu ia terima. Semuanya ada dalam kewenangan Allah Swt. Bahkan Allah mengatakan bahwa Allah-lah yang membeda-bedakan rezeki di antara manusia.

وَاللهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ فَمَا الَّذِينَ فُضِّلُوا بِرَآدِّي رِزْقِهِمْ عَلَى مَامَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَهُمْ فِيهِ سَوَآءٌ أَفَبِنِعْمَةِ اللهِ يَجْحَدُونَ

Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah.” (QS. Al-Nahl [16]:71)
Mengenai rezeki ini, manusia hanya ada dalam posisi pasrah dan menerima saja apa yang diberikan Allah Swt. Apapun yang manusia lakukan untuk mendatangkan rezeki, sebetulnya sangat relatif dan bukan penyebab utama datangnya rezeki Allah Swt. Seringkali ada orang yang membanting tulang, bekerja sampai tidak mengenal waktu, hasilnya lebih sedikit daripada orang lain yang bekerja tidak terlampau keras. Kejadian seperti itu bukan sekali dua kali terjadi. Itu menandakan bahwa rezeki seseorang tidak ditentukan oleh seberapa keras dia bekerja, sekalipun keras dan tidaknya ia bekerja akan menentukan pahalanya di sisi Allah. Sebab, yang pertama menjadi hak preogratif Allah dan dijaminkan, sementara yang kedua (pahala) tidak dijaminkan oleh Allah.
Lalu bagaimana proses rezeki itu diberikan kepada manusia. Pada tataran operasional ini, Rasulullah Saw. bersabda:

ذَكَرَ الَّطْيَر فَقَالَ: تَغْدُوْ خُمَاصًا وَ تَرُوْحُ بَطَانًا

(Ketika ditanya mengenai rezeki manusia) Rasulullah menyebutkan perihal rezeki burung; beliau bersabda, “Pagi hari ia terbang dalam keadaan perut kosong, dan pada sore hari pulang dalam keadaan kenyang perutnya”. (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Umar dengan sanad hasan-shahih)
Atas dasar itu sangat jelas bahwa yang menjadi wasilah datangnya rezeki Allah adalah kemauan manusia untuk “melata” di muka bumi, tidak diam berpangku tangan di sarangnya alias menganggur. Dengan sangat jelas Rasulullah mengatakan bahwa seperti burung yang keluar dari sarangnya pagi hari dalam keadaan perut kosong, pulang dijamin perutnya dalam keadaan buncit dengan makanan. Demikian pula manusia, siapa saja yang keluar dari rumahnya, berpikir kreatif untuk menggerakkan tangannya bekerja, maka Allah pasti akan menjaminnya mendapatkan rezeki sesuai dengan kebutuhannya. Terlebih orang yang bertakwa pada Allah Swt. Dia akan diberi anugerah oleh Allah berupa rezeki yang tidak disangka-sangka. Allah berfirman,

وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبُ

Siapa yang bertakwa kepada Allah, pasti Allah akan memberikan jalan keluar dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.” (QS al-Thalaq [65]: 2-3)
Apa yang harus dikerjakan? Tidak ada hal spesifik yang disebutkan Allah atau Rasulnya mengenai pekerjaan apa yang akan mendatangkan rezeki. Kalau ada penyebutan beberapa pekerjaan seperti pertukangan dan perdagangan, namun itu bukan pengkhusususan. Rasulullah hanya mencontohkan beberapa jenis pekerjaan. Oleh sebab itu, pekerjaan apapun pasti akan bisa menjadi wasilah datangnya rezeki dari Allah Swt. Ini janji Allah yang tidak mungkin dilanggar. Dengan pesan ini pula setiap Muslim dituntut untuk memiliki jiwa entrepreneur dan kreatif dalam bekerja sehingga tercipta peluang-peluang pekerjaan yang sangat luas.
Namun demikian, harus dicatat bahwa bukan pekerjaan kita yang mendatangkan rezeki itu, melainkan Allah Swt. yang mencukupinya. Artinya, tidak perlu khawatir bahwa pekerjaan kita tidak bisa menjamin kebutuhan kita terhadap rezeki Allah. Bekerja adalah kewajiban kita yang tentu kita kerjakan sekemampuan kita, sementara kebutuhan kita akan rezeki adalah tanggung jawab Allah Swt. Kita seringkali mengukur jumlah kebutuhan kita dengan pekerjaan yang sedang kita tekuni. Seringkali, dalam hitungan manusiawi kita, hasil dari pekerjaan kita tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari sehingga muncul pesimisme dalam diri kita dalam menghadapi kehidupan. Seringkali muncul bisikan setan, “Penghasilanku tidak mungkin cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.” Padahal, yang akan menutupi kebutuhan kita, bukan kita, melainkan Allah Swt. Kalau kita sudah “keluar dari sarang” mengayunkan langkah menggerakkan tangan, maka Allah sudah pasti menjamin semua kebutuhan kita.
Bagaimana kalau secara perhitungan matematis perhitungan penghasilan kita tidak mencukupi kebutuhan? Di sinilah ke-Mahakaya-an Allah dibuktikan. Allah bisa menurunkan rezeki untuk mencukupi apapun yang kita butuhkan (bukan yang kita inginkan!!) dengan jalan apa saja, bahkan dari jalan yang tidak pernah disangka bagi mereka yang percaya dan bertakwa pada Allah Swt. Bisa jadi, rezeki yang langsung dihasilkan dari jalan usaha kita, secara hitungan, tidak mencukupi; namun, tidak mustahil datangnya rezeki dari jalan yang lain. Jalan-jalan yang lain itu saya yakin setiap orang pernah mendapatkannya. Dan itulah bukti bahwa rezeki sama sekali bukan kita yang mendatangkannya, melainkan Allah Swt.
Kalau kita memahami rezeki seperti ini, tidak perlu ada sikap pesimis dari seorang Muslim dalam menghadapi situasi hidup apapun. Setiap hari, dia akan menghadapi pagi hari dengan penuh optimisme; suatu sikap yang sangat sehat dan akan membuka banyak pintu keberhasilan. Di samping itu, dia akan selalu bersyukur pada Allah dan tidak menyombongkan diri karena dia sangat sadar bahwa apa yang diperolehnya sama sekali bukan hasil jerih payahnya, melainkan pemberian Allah Swt. Wujud dari rasa syukurnya, tidak akan ada sama sekali rasa memiliki atas harta itu. Sifat pelit pun hilang; infak dan sedekah bukan bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan.
Wallâhu A’lam bis Shawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *