KEMISKINAN DAN PEMBODOHAN

Oleh:
Ahmad Solihin, S.Th.I

Ada banyak orang-orang sukses di Indonesia yang berasal dari keluarga miskin, termasuk di antaranya presiden Soeharto yang berasal dari keluarga miskin. Beliau, kalau bertemu dengan masyarakat suka bercerita, bahwa di masa kecilnya dulu, beliau pun selalu makan nasi tiwul. Seperti halnya sekarang, banyak masyarakat yang sudah makan nasi tiwul kayak dulu lagi, apalagi setelah BBM dan TDL naik, akan semakin menambah angka kemiskinan di Indonesia, yang katanya pada tahun 2011 mencapai angka sekitar 30,02 juta orang.

Orang miskin memang serba kekurangan harta dan penghasilan. Namun, mereka tetap memiliki optimisme hidup dan semangat bekerja yang luar biasa. Dalam peribahasa disebutkan, biar miskin asal cerdik, terlawan jua orang kaya, karena kebijakan itu lebih utama dari pada kekayaan.
Bedanya orang miskin dan orang kaya ialah, bahwa orang miskin, bisa dikatakan, tidak ada yang takut kaya. Namun sebaliknya, banyak orang kaya yang takut miskin. Saking banyaknya orang kaya yang takut miskin dan takut tersaingi kekayaannya, banyak pula orang kaya yang menghalang-halangi munculnya orang-orang kaya baru sehingga dipersempitlah akses untuk menjadi kaya.

Kemiskinan itu tidak selamanya berbanding lurus dengan kebodohan. Tidak setiap orang miskin bodoh, namun banyak orang kaya yang dibodohi dengan kekayaannya, sehingga mebodoh-bodohi orang miskin agar tidak jadi kaya.

Banyak orang miskin yang tidak dapat sekolah tinggi, namun tidak berarti orang miskin itu bodoh. Seperti halnya banyak orang kaya yang sekolahnya pada tinggi, namun tetap saja bodoh. Akhirnya, dengan kekayaan dan “pendidikan tingginya”, menutup rapat-rapat akses orang miskin untuk memperoleh kehidupan yang layak.

Seorang yang mau bekerja di sebuah perusahaan disyaratkan harus memiliki ijazah, minimal setingkat SMA. Sementara di pihak lain, walaupun anggaran buat pendidikan sudah ditingkatkan sampai 20%, masih banyak masyarakat miskin yang “enggan” untuk sekolah karena ternyata masih ada biaya yang cukup tinggi untuk sekolah.

Di satu sisi, para orang tua berlomba-lomba untuk memasukkan anaknya ke sekolah-sekolah favorit, (baik sekolah negeri ataupun sekolah berlabel plus) yang biaya masuknya saja sudah berjuta-juta (setara dengan UMR buruh untuk setahun). Sementara di sisi lain, banyak sekolah-sekolah swasta, termasuk pesantren, yang terseok-seok dan kelimpungan untuk membayar upah gurunya karena kebanyakan murid-muridnya, untuk bayar SPP saja masih nunggak berbulan-bulan.
Dulu, seorang petani yang mau menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi, cukup dengan menjual hasil sawah dan kebunnya. Sementara sekarang, sawah dan kebun sudah terjual, anaknya belum lulus jadi sarjana. Jika ditanyakan, mana wujud anggaran pendidikan yang 20% itu? Sampai saat ini belum ada jawaban yang memuaskan. Karena rakyat sudah tidak butuh lagi penjelasan retorika.

Ada sebuah harapan baru dari masyarakat miskin untuk dapat mengenyam pendidikan tinggi, yaitu dengan hadirnya lembaga zakat. Namun, ternyata yang dapat merasakan manfaat dari zakat ini masih sedikit. Padahal mustahik (pihak yang layak menerima dana zakat) jelas nampak di hadapan mata kita, sementara saldo dana zakat masih bertumpuk di kas.

Jika dana zakat akan diprioritaskan untuk mensejahtarakan masyarakat di wilayah pendidikan, maka semua komponen dalam dunia pendidikan dapat dimasukkan pada kriteria mustahik. Baik sebagai fakir miskin atau sabilillah, baik gurunya maupun murid-muridnya, bahkan sampai pengadaan fasilitasnya.
Orang miskin itu tidak bodoh, namun janganlah dibodoh-bodohi. Berilah kesempatan kepada mereka untuk memperoleh kehidupan yang layak. Biarkanlah orang miskin memperoleh haknya dari zakat dengan kemiskinannya. Karena zakat bukan sekedar untuk mengkayakan yang miskin dan memintarkan yang bodoh. Tapi menyampaikan amanah dari Allah yang ada pada harta kita.
Wallaahu a’lam,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *