ISLAM DAN PEDULI ANAK YATIM

Oleh:
Dedeng Rosidin

Imam Al-Ghazali Menjelaskan, anak itu amanah, pada diri anak terdapat mutiara  yang sangat berharga, yaitu hatinya. Jika anak itu dibiasakan pada kebaikan dan diberi pengajaran yang baik maka akan tumbuh berkembang pada kebaikan, dan jika dibiarkan pada keburukan akan tumbuh berkembang pada keburukan, maka cara menjaganya agar mutiara tetap jadi mutiara, hati tetap suci,  dengan pendidikan yaitu ta’dib [pendidikan sejak usia dini], tahdzib [pendidikan dengan memperbaiki saat berprilaku tidak baik], dan ta’lim, [pendidikan dengan memberi ilmu agar anak beramal di atas ilmu].

وَ الصَبِيُّ أَمَانَةٌ وَ قَلْبُهُ الطاَهِرُ جَوْهَرَةٌ نَفِيْسَةٌ فَإِنْ عُوِّدَ الخَيْرُ وَ عُلِّمَهُ نَشَأَ عَلَيْهِ وَ سَعِدَ فيِ الدُنْيَا وَ الآخِرَةِ وَ إِنْ عُوِّدَ الشَرُّ وَ أُهْمِلَ إِهْمَالُ البَهَائِمِ شَقَى وَ هَلَكَ, وَ صِيَانَتُهَا بِأنْ يُأَدِّبَهُ وَ يُهَدِّبَهُ وَ يُعَلِّمَهُ مَحَاسِنَ الأَخْلاقِ

Anak itu amanah dan hatinya yang suci mutiara yang sangat berharga, jika dibiasakan pada kebaikan dan diberi pengajaran yang baik ia berkembang padanya dan bahagia dunia akhirat, dan jika dibiasakan pada keburukan dan dibiarkan berprilaku binatang maka celaka dan binasa, dan cara menjaganya dengan Ta’dib, tahdzib dab ta’lim.

Anak yatim adalah anak yang telah meninggal ayahnya sebelum anak itu sampai umur dengan tidak meninggalkan harta. Anak ini amanah dari Allah Swt terhadap seluruh orang mukmin agar diberi pendidikan baik tarbiyah khalqiyyah, yaitu pembinaan dan pengembangan jasad, jiwa, dan akal dengan berbagai bentuk, maupun  tarbiyah diniyyah tahdzibiyyah,  yaitu pembinaan jiwa dengan wahyu untuk kesempurnaan akal dan kesucian jiwa

Jelas benar bahwa syara memerintahkan para mukminin mewujudkan sikap tolong-menolong diantara sesamanya dan memerintahkan mereka memberi makanan kepada orang miskin dan anak yatim yang tidak sanggup memperoleh sendiri makanan yang mengenyangkannya dan tidak sanggup pula berusaha untuk menghasilkannya. Jika tidak sanggup berbuat sendiri yang demikian itu, maka wajib menggerakkan orang lain untuk memenuhi hajat hidup orang miskin dan anak yatim, Al-Qur’an menjelaskan

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) كَلَّا بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ (17) وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (18) وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَمًّا (19) وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا (20) [الفجر : 15 – 20]

      

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim dan kamu tidak saling mengajak memberi Makan orang miskin,dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil),dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. [ Al-Fajr : 15 – 20]

Agama memerintahkan umat memuliakan anak yatim. Anak yatim yang ditinggalkan oleh ayahnya dengan tidak mempunyai harta yang membantu penghidupannya, akan menjadi rusak morilnya, jika tidak ada yang mau memperhatikan keadaan pendidikannya, dan jika tidak dilayani dengan cara yang baik, atau jika tidak diperlakukan dengan cara yang menghilangkan rasa ke-yatimannya, Allah memperingatkan untuk tidak berbuat sewenang-wenang terhadap anak yatim, dan Rasulullah saw menyuruh kita menyayangi anak yatim

 فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (9) وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (10) [الضحى : 9 ، 10]

 

Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang, dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya [ Adh-Dhuhaa: 9-10]

مسند أحمد بن حنبل – (2 / 387)

 أَنَّ رَجُلاً شَكاَ إِلىَ النَّبيِ صلى الله عليه و سلم قَسْوَةَ قَلْبِهِ فَقَالَ اِمْسَحْ رَأْسَ اْليَتِيْمِ وَاَطْعِمِ اْلِمسْكِيْنَ

 

Seorang laki-laki mengadu kepada Rasulullah saw tetang hatinya yang keras, Beliau berkata usaplah kepala anak yatim dan berilah makanan kepada orang miskin. H.R.Ahmad

Islam menegaskan bahwa orang yang tidak memuliakan anak yatim dan tidak mau memberikan bantuan kepada orang-orang miskin, tidak dipandang saleh sekalipun bersorban besar dan berjubah panjang. Al-Qur’an menjelaskan bahwa membiarkan anak yatim dan menghardik dikala ia datang meminta dan menolaknya dengan cara menghina adalah tanda mendustakan agama

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (3) [الماعون : 1 – 3]

tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim,dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. [Al-Ma’uun : 1-3]

Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi orang-orang mukmin membantu orang miskin dan anak yatim, baik dalam bidang pendidikan maupun dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dan  disamping itu pula, harus berupaya semaksimal mungkin untuk membangun ‘rumah-rumah miskin’ dan ‘rumah-rumah yatim, yang semuanya ini dikehendaki oleh agama. Orang mu’min harus bergerak ke arah ini, karena kalau kikir tidak mau mengeluarkan harta untuk kepentingan orang miskin dan anak yatim,  dan tidak berkeinginan untuk memenuhi kebutuhan mereka itu, akan tergolong orang yang mendustakan agama

Orang mukmin yang imannya dihiasi oleh amal saleh, akan peduli terhadap orang miskin dan anak yatim, ia akan memberi makan sekalipun makanan itu sangat ia cintai, dan akan membantu mereka bukan karena riya, tapi hanya berharap karena Allah swt

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا (7) وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا (8) إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا (9) [الإنسان : 7 – 9]

 

mereka menunaikan Nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.[ Al-Insan: 7-9]

Rasulullah saw sangat memuliakan orang yang peduli terhadap anak yatim, mereka akan berdampingan dengan Rasulullah, mendapat pahala yang berlipat, dan kenikmatan surga yang telah disediakan bagi mereka,

اَنَا وَ كَافِلُ الْيَتِيْمِ فيِ الْجَنَّةِ وَ اَشَارَ بِالسَّبَّا بَةِ وَ الْوُسْطَى وَ فَرَّجَ بَيْنَهُمَا. متفق عليه

 

Saya dan penanggung nafakah anak yatim di dalam surga begini [dan Nabi saw mengisyaratkan dengan telunjuk dan jari tengahnya, dengan merenggangkan]

سنن الترمذي – شاكر + ألباني – (4 / 320)

 مَنْ قَبَضَ يَتِيْمًا بَيْنَ اْلمُسْلِمِيْنَ إِلىَ طَعَامِهِ وَشَرَابِهِ أَدْخَلَهُ اللهُ اْلجَنَّةَ الجَنَّةَ إِلاَّ أَنْ يَعْمَلَ ذَنْبًا لاَ يُغْفَرُ لَهُ

Siapa yang memelihara  anak yatim Islam dirumahnya yakni ia berikan makanan dan minuman sama dengan makanannya dan minumannya, Allah akan memasukannya ke surga, kecuali ia mengerjakan dosa yang tidak diampuni

سنن ابن ماجة ـ محقق ومشكول – (4 / 642)

مَنْ عَالَ ثَلاَثَةً مِنَ الأَيْتَامِ ، كَانَ كَمَنْ قَامَ لَيْلَهُ ، وَصَامَ نَهَارَهُ ، وَغَدَا وَرَاحَ شَاهِرًا سَيْفَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ , وَكُنْتُ أَنَا وَهُوَ فِي الْجَنَّةِ أَخَوَيْنِ ، كَهَاتَيْنِ أُخْتَانِ ، وَأَلْصَقَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى.

 

Siapa yang menafakahi tiga anak yatim, sama dengan orang yang beribadah sepanjang malam, berpuasa sepanjang hari, dan berjuang di jalan Allah dengan menghunuskan pedangnya,  Aku besertanya di dalam surga, bersaudara,  sebagaimana  dua ini bersaudara , dan Nabi melekatkan telunjuknya dengan jari tengah.

سنن أبي داود ـ محقق وبتعليق الألباني – (2 / 55)

 أَيُّمَا مُسْلِمٍ كَسَا مُسْلِمًا ثَوْبًا عَلَى عُرْىٍ كَسَاهُ اللَّهُ مِنْ خُضْرِ الْجَنَّةِ وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ أَطْعَمَ مُسْلِمًا عَلَى جُوعٍ أَطْعَمَهُ اللَّهُ مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ سَقَى مُسْلِمًا عَلَى ظَمَإٍ سَقَاهُ اللَّهُ مِنَ الرَّحِيقِ الْمَخْتُومِ ».

Orang muslim mana saja yang memberi pakaian  kepada orang muslim yang telanjang, pasti Allah akan memberikan  kepadanya  pakaian-pakaian yang indah di akhirat dari kain-kain hijau surga, Dan siapa saja orang muslim yang memberikan makanan kepada orang muslim yang lapar, Allah akan memberikan kepadanya makanan yang sedap lezat dari buah-buahan surga, dan siapa saja orang muslim yang memberi minum kepada orang muslim yang haus Allah akan memberi minuman kepadanya yang memuaskan dahaga dari air arak yang sangat baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *