FLOUR ALBUS

Oleh:
dr. Harry Rayadi, MARS

Kita semua sudah mengetahui bahwa di antara pembatal wudlu adalah sesuatu yang keluar dari bagian tubuh seseorang qubul atau dubur, baik itu berupa mani, wadi, madzi, juga darah haid dan nifas sampai angin yang keluar. Adapun sebagian orang ada yang mempertanyakan tentang hukum yang berkaitan dengan keputihan yang dalam istilah medis disebut Fluor Albus. Untuk itu, perlu kiranya uraikan singkat tentang hal tersebut sehingga dapat menjadi pegangan yang meyakinkan dan menentramkan.

Terdapat beberapa istilah yang sudah dikenal tentang Fluor Albus, yaitu leukorea, white discharge, dan keputihan. Semua istilah tersebut diberikan kepada cairan yang keluar dari alat-alat genital perempuan yang tidak berupa darah. Fluor Albus bukan penyakit melainkan gejala yang paling sering dijumpai pada kasus-kasus ginekologi (ilmu kandungan), biasanya dikeluhkan seorang perempuan karena mengotori celananya. Dari mana cairan tersebut berasal? Cairan tersebut dapat berasal dari vulva, vagina, cervix (mulut rahim), coerpus uteri, dan tuba.

Secara normal, seorang perempuan mengeluarkan cairan dari alat kemaluannya yang berasal dari: transudat dinding vagina, lender cervix, dan lender kelenjar-kelenjar bartholini dan skene. Oleh sebab itu, Fluor Albus dapat bersifat fisiologik, artinya terjadi pada kondisi normal, atau dapat pula bersifat patologik, yaitu berkaitan dengan penyakit tertentu. Fluor Albus yang fisiologik dapat terjadi pada :
• Bayi yang baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari; di sini sebabnya adalah pengaruh hormon estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina janin.
• Waktu di sekitar menarche (haid yang pertama kali) karena mulai terdapat pengaruh estrogen; dapat hilang sendiri, akan tetapi dapat menimbulkan keresahan pada orang tuanya.
• Perempuan dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus (senggama), disebabkan pengeluaran transudasi dari dinding vagina.
• Waktu sekitar ovulasi, dengan secret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri menjadi lebih encer.
• Pengeluaran secret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga bertambah pada penyakit menahun, dengan neurosis, dan pada perempuan dengan ektropion porsionis uteri.

Adapun penyebab utama dari Fluor Albus Patologik adalah infeksi. Di sini, cairan mengandung banyak leukosit (sel darah putih) dan warnanya agak kekuning-kuningan sampai hijau, seringkali lebih kental dan berbau. Radang dari vulva, vagina, serviks, dan kavum uteri dapat menyebabkan Fluor Albus Patologik; pada adneksitis gejala tersebut dapat pula timbul. Selanjutnya, Fluor Albus ditemukan pada neoplasma (tumor) jinak atau ganas, apabila tumor itu dengan permukaannya untuk sebagian atau seluruhnya memasuki lumen saluran alat-alat.

Adapun untuk membahas tinjauan Fluor Albus secara syariat Islam, yang pertama-pertama penting untuk diketahui adalah apakah Fluor Albus termasuk najis atau tidak? Apabila memperhatikan hal tentang Fluor Albus yang telah penulis uraikan di atas, maka jelaslah bahwa keputihan bukan darah sehingga tidak bisa dianalogikan dengan haid atau nifas. Seandainya hendak menganalogikan, maka mungkin lebih tepatnya dengan wadi dan madzi pada laki-laki. Sebab, bagian-bagian tubuh yang menghasilkan keputihan pada perempuan dapat diidentikan dengan bagian-bagian tubuh yang mengeluarkan wadi dan madzi pada laki-laki. Sedangkan dalam penjelasan fikih, dikenal istilah al-Ifrazat dan ruthubah yang dapat diidentikan dengan Fluor Albus, dan dalam hal ini para ulama terbagi menjadi dua madzhab. Sebagian ulama mengganggap najis sebagian lain mengangggap suci, sebagimana di uraikan dalam kitab Al-Mughni 2/88 dan Al-Majmu` 1/570 yang juga dinukil dalam kitab Shahih Fiqus-Sunnah 1/82.

Dalam masalah ini, penulis lebih memilih pendapat yang dinukil dalam kitab Shahih Fiqus-Sunnah, yaitu “Pada kondisi khusus apabila keputihan itu keluar akibat jima` atau perangsangan lainnya, maka dapat diidentikan dengan madzi sehingga dikategorikan najis perlu dicuci dan wajib wudlu. Dan apabila keputihan keluar pada seorang peremuan saat kondisi yang biasa (kondisi fisiologik ;Pen) misalnya pada saat hamil, kelelahan atau banyak berjalan, maka itu adal suci pada asalnya disebakan tidak adanya dalil yang menajiskannya”.

Wallahu A`lam...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *