DENGAN TAKWA, PELIHARA SILATURRAHIM!

Oleh:
KH Rahmat Najieb

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) shilaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. ”
(QS Annisaa [4] : 1)

 

Para mufassir menyimpulkan bahwa takwa adalah “sikap seseorang yang membuat ‘wiqayah‘ (penghalang) antara dirinya dengan siksa Allah dan kemurkaan-Nya; siksa dunia maupun akhirat.  Pembentukan ‘wiqayah‘ ini dengan cara melaksanakan segala perintah Allah, meninggalkan segala larangan-Nya, serta mengamalkan sunnah Rasul-Nya. Dan, takwa itu harus menjadi sifat yang menetap pada setiap situasi dan kondisi.”

Jika kita berbuat sesuatu yang dengannya dapat menjauhkan diri kita dari siksa Allah dan mendekatkan diri kepada keridlaan-Nya, maka amal itu adalah takwa. Misalnya, meningkatkan keimanan, mencari ilmu yang bermanfaat, beribadah dengan khusyu‘, membiasakan diri mengikuti sunnah, berusaha meninggalkan akhlak tercela, serta menghindari perbuatan makruh, haram, bahkan tak berguna.

Allah Swt. pada ayat ini tidak langsung menggunakan lafazh ‘Jalalah’ (Allah), tetapi menggunakan kata rabb‘ (Pengurus) untuk menggugah perasaan annas (sekalian manusia), bahwa hahikatnya mereka adalah makhluk yang lemah tidak berdaya, perlu bantuan sejak keberadaannya. Berbeda dengan makhluk lain, seperti hewan yang bisa hidup mandiri dan bisa mempertahankan diri. Bertakwalah kepada Tuhan Yang Mengurusmu dan takutlah kalau kamu tidak diurus lagi atau dibiarkan.  Ayat ini menegaskan bahwa moyang seluruh manusia itu adalah Adam as, bukan merupakan evolusi dari binatang atau kera. Sekalipun ada penelitian dengan berbagai teori, semuanya tidak bisa teruji. Kita langsung mendapat pengetahuan tentang penciptaan Adam ini dari Allah sebagai Khaliqul ‘Alam. Sebab itu, manusia adalah manusia. Artinya tetap akan dibangkitkan lagi dan tidak dapat terlepas dari penghisaban amal nanti di hari perhitungan.

Penciptaan manusia pertama kali dari tanah, selanjutnya dari air mani. Firman Allah,

 الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ

ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ

“(Allah) Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.” (QS as-Sajdah [32] : 7-8)

Manusia kedua tidak diciptakan dari tanah seperti yang pertama melainkan dari bagian tubuh Adam a.s. Karena itu, manusia dilihat dari penciptaannya ada  empat, yaitu:

1) yang tidak punya ayah ibu, yaitu hanya Adam as

2) yang punya ayah tak beribu, yaitu Hawa

3) yang tak punya ayah tapi punya ibu, yaitu Nabi Isa binti Maryam as

4) yang berayah-ibu, yaitu kita.

Dijelaskan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk suaminya,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاَللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِي جَارَهُ ، وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا ، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلْعٍ ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلْعِ أَعْلَاهُ ، فَإِنْ ذَهَبْت تُقِيمُهُ كَسَرْته ، وَإِنْ تَرَكْته لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah ra, katanya, telah bersabda Rasulullah Saw, “Siapa yang beriman kepada Allah dan kepada hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Dengarlah wasiatku tentang para istri agar diperlakukan dengan baik, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk. Dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas; jika engkau meluruskannya berarti mematahkannya, jika membiarkannya, berarti akan tetap bengkok. Dengarlah wasiatku tentang para istri agar diperlakukan dengan baik” (Muttafaq ‘alaih)

Adam dan Hawa setelah ditempatkan di bumi melahirkan anak yang banyak, laki-laki dan perempuan. Menurut riwayat, lebih dari 40 pasang. Anak-anak Adam as terlahir bermacam-macam, baik postur tubuhnya, warna kulitnya, rambutnya, maupun perilakunya, seperti anak kita saja.  Karena tidak ada manusia lain selain keturunan mereka berdua, maka hukum pada saat itu mengharuskan menikah dengan kakak atau adik. Usia manusia pada saat itu sangat lama. Kita mengenal Nabi Nuh as (Rasul generasi ketiga), berusia hampir 1000 tahun. Bisa kita bayangkan usia kehamilan dari dulu sama, yaitu antara enam bulan sampai sembilan bulan. Bahkan sekarang saja ada yang hamil tiap tahun. Mahasuci Allah yang telah menciptakan miliaran manusia dari satu jiwa. Berarti, siapapun orangnya adalah masih saudara, apalagi diikat dengan iman dan Islam.

Pada perintah takwa yang kedua meggunakan lafazh ‘Jalalah’ (Allah) tidak menggunakan kata ‘rabb‘ lagi. Biasanya, orang Arab jika meminta atau bersumpah sering menyebutkan dengan nama Allah. Pembeli saja bila menawar harga suka berkata, “Demi Allah, mahal” Kata penjualnya, “Demi Allah, murah“. Demikian juga jika minta dikasihani, menguncapkan “Demi Allah, tolonglah saya, saya butuh bantuanmu…“. Jika saat membutuhkan pertolongan atau bantuan melibatkan nama Allah, maka selayaknya setiap saat kita harus bertakwa kepada-Nya. Sabda Rasulullah Saw,

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ ».(رواه الترمذي) قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

Dari Abu Dzarr r.a, katanya, Rasulullah Saw bersabda, “Takwalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Ikuti kejelekan dengan kebaikan, tentu akan menghapusnya, dan perlakukan orang-orang dengan akhlak yang baik”. (HR At-Tirmidzi, katanya Hadits ini Hasan Shahih)

Ayat di atas pun menyuruh kita agar bersilaturrahim. Silaturahmi artinya menghubungkan kasih sayang. Setiap orang pasti menaruh kasihan kepada ibu sedang hamil dan kepada bayi yang sedang dikandungnya. Ia sering mendapat perlakuan khusus, karena kasihan, siapapun dia; apakah orang baik atau orang jahat. Perhatikan induk ayam yang baru menetaskan telurnya! Bagaimana sikapnya? Induk kuda rela mengangkat kaki belakangnya, hanya karena takut menginjak anaknya yang akan menyusu. Begitulah Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada para bayi kecil, karena mereka baru keluar dari rahim ibunya. Tetapi saat bayi itu menginjak dewasa sering melakukan yang menjengkelkan ibunya, saat itulah silaturrahim terputus. Putus karena perlakuan jelek anak terhadap ibunya atau kejelekan yang terjadi di antara saudara. Maka ayat ini menegaskan, “Peliharalah Silaturrahmi” Sabda Rasulullah Saw,

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ } يَعْنِي قَاطِعَ رَحِمٍ ، مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .

Dari Jubair bin Muth’im r.a, katanya, telah bersabda Rasulullah Saw, ‘Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan’, yakni memutuskan silaturrahim. (Muttafaq ‘alaih)

Bentuk silaturrahim bukan bersalaman, saling mengunjungi, tiap tahun pulang kampung, melainkan ikatan kasih sayang kepada siapa saja terutama orang tua dan kerabat. Apalah artinya peluk cium pipi jika masing-masing hatinya tidak menaruh sayang. Sekalipun orang yang kita cintai telah tiada atau berada di tempat yang jauh sehingga jarang bertemu, namun silaturrahmi bisa tetap berlanjut, yaitu dengan do’a yang ikhlas.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ } أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ ومُسْلِمٌ

Sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya (dikenang kebaikannya), hendaklah ia menjalin silaturrahim“. (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Saw telah bersilaturrahim dengan umatnya melalui dakwah dan jihadnya. Jasanya terkenang sampai akhir zaman, setiap salat menyebut namanya, dan kita pun selalu bershalawat untuknya.  Demikian juga para sahabatnya, para perawi hadits, para pewakaf, para penulis buku Islam, para da’i yang ikhlas, dan lain-lain. Mereka telah bersilaturrahim dengan kita. Insya Allah, pahalanya akan terus mengalir selama jasa dan karyanya dimanfaatkan. Kita pun harus selalu mendo’akan mereka dan setiap orang yang berjasa kepada kita, sebagai balasan silaturrahim mereka. Dan jangan lupa, kita pun harus bersilaturrahim dengan orang-orang kemudian, melalui jasa tanpa pamrih. Apapun yang kita lakukan, walaupun hanya do’a yang digetarkan dalam hati atau keinginan untuk berbuat baik, pasti Allah mengetahui dan mengawasi.

Wallāhu A’lam bis Shawab,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *