CINTA DAN KEBAJIKAN

Oleh:
Ust. Ahmad Solihin, S.Th.I

Allah Swt. menegaskan kepada kita bahwa sebetulnya perkara yang dicintai oleh manusia di dunia ini adalah hartanya. Dalam surat al-Fajr ayat 20 disebutkan, “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan”. Kecintaan manusia terhadap harta melebihi kecintannya terhadap pasangannya, anaknya, keluarganya, bahkan melebihi kecintaannya terhadap dirinya sendiri. Dan puncaknya, kecintaan terhadap harta akan mengikis kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Saking cintanya terhadap harta, dan menganggap harta adalah segala-galanya, manusia menganggap bahwa harta tersebut akan mengahantarkan kepada keabadian. Dan dengan hartanya pula, ia merendahkan nilai-nilai “kebaikan” manusia karena menganggap segala sesuatu dapat diselesaikan dengan uang. Bagi orang-orang yang berbuat demikian, Allah memberikan ancaman yang sangat keras. Firman-Nya,

وَيۡلٞ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ١  ٱلَّذِي جَمَعَ مَالٗا وَعَدَّدَهُۥ ٢  يَحۡسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ ٣

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung.. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya.” (QS Al-Humazah [104] : 1 – 3)

Kecintaan manusia terhadap harta akan membuatnya melalaikan banyak hal. Melalaikan ia dari tugasnya sebagai hamba Allah untuk berbakti dan beribadah kepada Allah, melalaikan dari tugas dan tanggungjawabnya terhadap sesama manusia, bahkan bisa jadi melalaikan hak untuk tubuhnya sendiri. Ia bekerja banting tulang, tidak kenal lelah dan melupakan waktu serta mengabaikan hak untuk dirinya dan keluarganya. Semua itu dilakukan demi mengejar harta yang berlimpah. Allah mengingatkan, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur”. (QS At-Takatsur [102]: 1 -2)

Itulah sifat dari harta yang memiliki pengaruh besar untuk melalaikan manusia. Padahal, harta itu hanyalah sekedar aksesoris, perhiasan kehidupan dunia. (QS. Al-Kahfi/18: 46) Dan yang namanya kehidupan dunia itu hanyalah sementara, kesenangan yang menipu, serta isinya adalah permaninan dan senda gurau semata. (QS. Al-An’am [6]: 32)

Maka, sejatinya harta manusia itu bukanlah sebanyak apa yang diperoleh dan dikumpulkannya, berapa banyak yang dimasukkan ke perutnya, atau berapa banyak yang digunakan untuk menghiasi tubuhnya. Tapi, harta manusia yang hakiki itu ialah apa yang disedekahkannya di jalan Allah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abdullah bin Asy-Syikhkhir, Rasulullah Saw. bersabda,

يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِي مَالِي قَالَ وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ.

“Manusia mengatakan, ‘Hartaku, hartaku, hartaku!’ Lalu beliau bersabda, “Hai manusia, tidak ada harta yang kamu miliki, melainkan apa yang telah kamu makan akan habis, atau pakaian yang kamu kenakan lalu rusak, atau apa yang kamu sedekahkan, lalu menjadi tabunganmu.” (HR Muslim 8/211)

Maka, untuk mengembalikan manusia kepada kemuliaannya, maka manusia tersebut harus menginfakkan hartanya di jalan Allah. Dengan demikian, ia akan sampai pada derajat kebajikan. Allah berfirman,

لَن تَنَالُواْ ٱلۡبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيۡءٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٞ ٩٢

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS Ali ‘Imraan [3] : 92)

Mengenai kebajikan ini, Rasulullah Saw. memberikan penjelasan bahwa yang dinamakan kebajikan itu ialah akhlak yang mulia. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari sahabat Nawas bin Sam’an, ia menceritakan,

أَقَمْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ سَنَةً مَا يَمْنَعُنِي مِنْ الْهِجْرَةِ إِلَّا الْمَسْأَلَةُ كَانَ أَحَدُنَا إِذَا هَاجَرَ لَمْ يَسْأَلْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ قَالَ فَسَأَلْتُهُ عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ.

“Saya pernah tinggal bersama Rasulullah Saw. selama satu tahun di Madinah. Saya tidak dapat pergi hijrah (bersama Rasulullah Saw.) karena adanya suatu masalah.” Seseorang dari kami apabila berhijrah biasanya tidak menanyakan tentang sesuatu kepada Rasulullah Saw. Kemudian saya bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan dan dosa. Lalu beliau bersabda, “Kebaikan adalah budi pekerti yang baik, sedangkan dosa adalah apa yang terlintas/terdetik dalam dadamu dan kamu tidak suka jika hal itu diketahui orang lain.” (HR Muslim 8/7)

Dengan demikian, kemuliaan akhlak seseorang bisa diukur, antara lain dengan aqidah dan akhlaknya terhadap harta. Jika ia dimudahkan untuk bersedekah, maka itu adalah gamabaran kemuliaan akhlaknya. Sebaliknya, jika ia bakhil, maka itu adalah gambaran akhlak yang rendah.

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga) maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar”. (QS Al-Lail [92]: 5- 10)

Di antara yang menghalangi manusia untuk menginfakkan hartanya ialah cinta pada harta, dalam artian “kenangan” pada harta tersebut.  Seperti seorang yang memiliki sebuah jas yang ia pakai ketika nikahan. Setelah perjalanan nikah selama sepuluh tahun, jas tersebut masih tergantung di lemarinya. Padahal, jas itu sudah tidak “muat” lagi di tubuhnya. Ketika disarankan untuk disedekahkan, ia enggan untuk melakukannya, mengingat “kenangan” yang ada pada jas tersebut.

Jika setiap niat kebaikan yang akan kita lakukan terhalang dengan “kenangan”, maka hidup kita akan dikuasai oleh harta yang akan merepotkan kita di dunia dan akhirat. Makanya, mari raih kebajikan dengan mengorbankan kenangan yang ada pada harta kita. Itulah akhlak yang mulia terhadap harta kita. Semoga kita menjadi manusia yang berakhlak mulia dengan dimudahkan dalam bersedekah.

Wallahu A’lam bis Shawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *