BILA MUSIBAH DATANG

Oleh:
Ust. Ahmad Solihin, S.Th.I

Dalam surat al-Fajr ayat 15 dan 16, Allah Swt. menggambarkan paradigma manusia tentang susah-senang, berkecukupan-serba kekurangan, manis-pahit, kaya-miskin, dan sebagainya. Dalam ayat tersebut, Allah berfirman, Adapun manusia apabila Tuhan mengujinya, lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku“. Adapun bila Tuhannya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku“.

Dalam ayat tersebut, Allah menginformasikan kepada kita bahwa manusia seringkali mengira bahwa yang namanya ujian itu ialah perkara yang menyulitkan dirinya. Sementara kesenangan yang diprolehnya dianggap sebagai  kemuliaan yang diberikan Allah kepadanya.

Dengan paradigma tersebut, maka manusia akan menganggap negatif setiap perkara yang dirasakan pahit oleh dirinya yang pada akhirnya akan menuntunnya untuk berburuk sangka kepada Allah. Padahal, Allah telah menetapkan bahwa beserta kesulitan ada kemudahan, “inna mq’ol ‘usri yusro“. Allah akan menguji hamba-Nya dengan kesulitan dan kebaikan. Hal tersebut disebutkan oleh Allah dalam surat al-A’raf ayat 168 , “Dan Kami coba (uji) mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)“. Dan surat al-Anbiya ayat 35, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguii kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.”

Ketika manusia sudah sangat lemah dalam menghadapi kesulitannya, barulah ia ingat kepada Sang Pencipta, seraya memohon kepada-Nya untuk dibebaskan dari kesulitan yang sedang dihadapinya. Bahkan, dalam permohonannya itu diiringi dengan janji untuk bersyukur kepada-Nya. Dan Allah mengingatkan kita bahwa yang akan menyelamatkan kita dari segala kesulitan hanyalah Allah. Maka tak pantas manusia untuk menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dalam surat Al-An’am ayat 63 dan 64, Allah berfirman, “Katakanlah: “Siapakah yang dapat
menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut yang kamu berdaa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkqn kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur”. Katakanloh: “Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian, kamu kembaIi mempersekutukan-Nya“.

Kebaikan yang kita peroleh selayaknya disikapi dengan syukur kepada Allah dan kesulitan yang kita hadapi selayaknya diterima dengan kesabaran. Karena kebaikan yang kita peroleh bukanlah semata-mata atas usaha dan kemampuan kita ataupun atas kekuasaan dan kehendak dari selain Allah. Dan kesulitan yang kita hadapi pun bukan atas dasar kemampuan orang lain atau sesuatu yang dapat memadharatkan kita, karena tiada yang dapat memberi manfaat dan madharat selain Allah.
Wallahu A’lam bis Shawab

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *