BERSYUKUR SAAT BERUNTUNG

Oleh: KH Rahmat Najieb
(Dewan Syariah Pusat Zakat Umat)

Bagaimana nasib orang-orang yang tidak diuji dengan musibat, apakah mereka akan mendapat limpahan pahala? Orang yang bergelimang kenikmatan dan dijauhkan dari musibah, bukan berarti Allah tidak mengujinya. Mereka akan diuji dengan harta dan kesenangan. Firman Allah,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan”. (QS al-Anbiya [21] : 35)
Kullu” artinya “setiap”, menunjukkan tidak seorang pun yang terlewat, semua yang bernafas pasti akan merasakan maut. Apakah ia kafir, mukmin, kaya, miskin, tua muda, bahkan tumbuhan dan hewan.
Kata “fitnatan” merupakan taukid (penegasan), kata yang menegaskan, bahwa keburukan dan kebaikan, rugi dan untung, sengsara dan senang, sakit dan sehat, kalah dan menang adalah benar-benar ujian. Jadi, segala yang kita dapatkan, yang kita rasakan, yang kita alami, hatta Allah mengumumkan bahwa mati dan hidup adalah ujian. Apakah kita akan beramal saleh atau beramal salah? Firman Allah Swt,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS al-Mulk [68] : 2)
Pada umumnya, manusia tidak merasa diuji dengan kesenangan dan kesengsaraan. Mereka menganggap bahwa kesenangan adalah anugrah sedangkan kesengsaraan adalah siksaan. Firman Allah Swt,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ
وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu ia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka ia akan berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka ia berkata: “Tuhanku menghinakanku’”. (QS al-Fajr [89]: 15-16)
Dengan ayat ini, Allah menyalahkan orang-orang yang mengatakan bahwa kekayaan itu adalah suatu kemuliaan dan kemiskinan adalah suatu kehinaan. Padahal, sebenarnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian dari Allah bagi hamba-hamba-Nya agar banyak beramal saleh. Mulia dan hina tidak diukur dengan pangkat dan kekayaan, melainkan dengan amal salehnya.
Orang yang miskin dan sengsara berpeluang untuk mendapatkan pahala surga dengan banyak berdo’a dan berharap kepada Allah Swt. dalam ibadah-ibadahnya yang ikhlas. Kerjanya lebih melelahkan daripada atasannya. Langkahnya menuju masjid akan lebih banyak daripada yang berkendaraan. Sakitnya lebih lama daripada orang yang punya biaya. Makannya teratur dan tidak berlebihan. Ia tidak banyak dipuji orang, karena pujian dapat membuatnya takabbur. Itu semua akan menjadi lahan pahala asal ia tetap beriman dan bersabar.
Orang yang berada di zona selamat, hidupnya senang karena jauh dari musibah, hartanya berlimpah, dan badannya sehat, makannya banyak dan tenaganya kuat, dan ia pun mempunyai peluang untuk mendapatkan surga. Dengan hartanya, ia dapat membayar zakat, infak, dan sedekah. Ia mempunyai kesempatan untuk berkurban, ibadah haji, dan mewakafkan sebagian hartanya. Ia dapat membebaskan diri dari neraka jahannam, dapat memiliki istana di surga melalui pembangunan masjid, menikmati hidangan surga melalui sedekahnya kepada fakir miskin, dan merasakan kesenangan sempurna melalui jihad fi Sabilillah.
Bagi orang yang beriman, apa pun statusnya dan bagaimana pun nasibnya akan berakibat baik. Sabda Rasulullah Saw,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

Sungguh mengagumkan urusan orang yang beriman, seluruh urusannya sungguh baik, dan hal itu tidak terjadi kepada seseorang selain orang mukmin; jika ia menerima kesenangan, ia bersyukur, maka syukur itu baik baginya. Jika ia ditimpa celaka (kesusahan) ia sabar, maka sabar itu baik baginya.” (HR Muslim dari Shuhaib ra)
Nabi Sulaiman a.s ketika mendapatkan kenikmatan berupa ilmu sehingga dapat berkomunikasi dengan jin dan jin begitu taat kepadanya, beliau berucap,

قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ“

Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau kufur (mengingkari nikmat-Nya). Dan siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan siapa yang kufur, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QS an-Naml [27] : 40)
Maksudnya, Allah Swt. tidak membutuhkan ungkapan syukur hamba-hamba-Nya. Justru, Allah Swt. akan menambah nikmat kepada orang yang bersyukur.
Syukur dan sabar itu tidak seimbang, karena senang dan susah adalah dua hal yang bertentangan. Kita tidak boleh memposisikan diri agar mendapat musibah, misalnya pindah ke tempat bencana, bahkan kita diperintah untuk menyelamatkan diri dan diperintah untuk mencari karunia Allah. Kita diperintah makan dan minum serta bersenang-senang, namun jangan lupa bersyukur. Firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah”. (QS al-Baqarah [2] : 172)
Menurut Imam Muhammad Rasyid Ridla, bahwa yang disebut syukur adalah menggunakan pemberian dan kenikmatan sebagaimana mestinya (sesuai tujuan pemberi). (Tafsir al-Manar) Tujuan Allah menciptakan kita hanya untuk beribadah kepada-Nya. Firman-Nya,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS ad-Dzariyat [51] : 56)
Jadi, yang disebut syukur adalah ibadah. Seluruh hidup kita difokuskan untuk ibadah; hati yang bersyukur selalu berniat ikhlas dan khusyu. Lisan yang bersyukur tidak henti-hentinya mengucapkan zikir dan kalimah thayyibah. Dan anggota badan yang bersyukur tidak pernah berbuat maksiat. Karena itu, kebalikan syukur adalah kufur; manakala niat dalam hati sudah perpaling kepada makhluk, tidak mengakui pemberian Allah. Lisan bicara sombong, kotor, dan tidak jujur. Kaki mengantar ke tempat maksiat, tangan berbuat jahat, telinga mendengarkan dosa, dan mata melihat yang haram. Siapa yang bersyukur nikmatnya akan ditambah, siapa yang kufur siksanya akan ditingkatkan. Firman Allah Swt,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim [14] : 7)
Penambahan nikmat tidak hanya di akhirat nanti, namun dapat kita rasakan saat ini. Jika ternyata nikmat itu tidak ditambah di dunia, berarti akan dilipatgandakan nanti di surga. Demikian juga tentang siksa yang pedih, jika selamat dari siksa dunia, Allah akan menimpakannya yang lebih berat di akhirat.
Nikmat bukan hanya merasakan kesenangan, kesehatan, kesempatan, dan karena menerima pemberian. Namun, terlepas dari bahaya juga merupakan nikmat yang wajib disyukuri. Dapat dibayangkan jika kita yang tertimpa musibah, kiranya mampu untuk bersabar? Karena itu, saat musibah menimpa orang lain atau keluarga lain, segeralah bersyukur dengan meningkatkan kualitas ibadah. Salatnya lebih khusyu’, zakat dan infaknya tambah lancar dan sedekahnya menjadi sering. Firman Allah Swt,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan”. (QS ad-Dluha [93] : 11)
Artinya, orang lain yang tidak mendapatkan nikmat harus ikut merasakan nikmat melalui sedekah. Apalagi diberikan kepada orang yang sedang menderita karena ditimpa musibah. Ingat! pada harta kita ada hak kerabat, orang miskin, dan ibnu sabil. Jika digunakan untuk foya-foya, maka termasuk tabdzir dan menjadi saudara setan. Dan setan adalah sifat yang kafir.

وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros (tabdzir). Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (QS al-Isra [17] : 26-27)
Di dalam al-Qur’an, kalimat “wastaii’nu bis shobri was sholah“ (minta tolonglah dengan sabar dan salat) terdapat pada dua ayat di surah al-Baqarah, yaitu ayat 45 dan 153.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Minta tolonglah kamu dengan sabar dan salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu”. (QS al-Baqarah [2] : 45)
Selanjutnya, Allah menerangkan tentang salat khusyu’ dan mengungkapkan ciri-ciri orang yang salatnya khusyu’.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, minta tolonglah kamu dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS al-Baqarah [2] :153)
Selanjutnya, Allah Swt menerangkan tentang sabar dan pahala bagi mereka.
Ayat 45, pada asalnya ditujukan kepada Bani Israil yang diberi limpahan nikmat, bahkan diunggulkan dari seluruh alam. Mereka diperintah untuk khusyu’ dalam salatnya. Sedangkan ayat 153 ditujukan kepada orang-orang yang beriman yang lebih sering mendapat musibah. Mereka diperintah untuk sabar. Jadi, siapa saja yang menerima nikmat dan terlepas dari musibah, hendaklah bersyukur kepada Allah dengan meningkatkan ke-khusyu-an ibadah. Sedangkan yang ditimpa musibah, hendaklah bersabar, karena dengan khusyu’ dan sabar, Allah Swt. akan menolong kita dari siksa neraka.
Aisyah r.a dan Al-Mughirah bin Syu’bah bercerita, bahwa Rasulullah salat malam membaca surah-surah yang panjang sampai kakinya bengkak. Lalu dikatakan,

لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا

Mengapa tuan berbuat begitu? Bukankah Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” Jawab beliau, “Apakah saya tidak suka menjadi hamba yang bersyukur?” (HR Bukhari dan Muslim)
Karena itu, disyariatkan nazar yang baik, misalnya “jika saya mendapat keuntungan, saya akan bersedekah kepada fakir miskin”. Terlarang bernazar maksiat, misalnya, “jika saya lulus saya akan foya-foya”. Ia wajib membatalkan nazarnya dan harus membayar kifarat dengan memberi makan kepada sepuluh orang miskin.
Adapun ungkapan syukur melalui lisan, sebagaimana ucapan Nabi Daud as. dan Sulaiman as. yang diabadikan Allah dalam al-Qur’an,

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا ۖ وَقَالَا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَىٰ كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ

Dan Sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman”. (QS an-Naml [27] : 15)
Orang yang sabar saat ditimpa musibah dapat dikatakan banyak karena mereka pasrah tidak dapat berbuat apa-apa. Sekalipun “aral” atau putus asa, mereka tidak dapat mengubah nasibnya. Adapun orang yang bersyukur disebutkan oleh Allah hanya sedikit karena mereka berkeyakinan, tidak kafir pun mareka tetap mendapat nikmat, malahan mereka makin sombong dan menjauh dari Allah Swt.

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan, dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur”. (QS al-Mu’minun [23] : 78)

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ ۗ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur”. (QS al-A’raf [7] : 10)
Mohonlah bimbingan Allah untuk menjadi hamba-Nya yang bersyukur. Suatu hari Rasulullah Saw. memegang tangan Mu’adz bin Jabal, seraya bersabda,

« يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ ». فَقَالَ « أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ »

Ya Mu’adz, sungguh aku mencintaimu. Ya Mu’adz sungguh aku mencintaimu.” Selanjutnya beliau bersabda, “Aku washiyatkan kepadamu ya Mu’adz, jangan kamu tinggalkan di setiap akhir shalat, kamu berdo’a, ‘Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, selalu bersyukur kepada-Mu, dan selalu baik beribadah kepada-Mu.” (HR Abu Daud)
Wallahu A’lam bis Shawab,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *